Baru Jual 37% dari Saham yang Dijanjikan Saja, Musk Sudah Mengantongi US$ 6,9 Miliar

Sabtu, 13 November 2021 | 12:40 WIB
Baru Jual 37% dari Saham yang Dijanjikan Saja, Musk Sudah Mengantongi US$ 6,9 Miliar
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Tesla Inc CEO Elon Musk bergoyang saat acara peluncuran Model 3 untuk pasar China, di Shanghai, China, 7 Januari 2020. REUTERS/Aly Song/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  SAN FRANSISCO. Elon Musk dengan gesit memanfaatkan lonjakan harga saham Telsa sepanjang pekan ini. Di saat nilai kapitalisasi pasar Tesla melampaui US$ 1 triliun, CEO produsen mobil listrik itu melakukan penjualan saham hingga bernilai total US$ 6,9 miliar, atau setara Rp 97,92 triliun. 

Melalui trust yang mengelola kekayaannya, Musk menjual 1,2 juta saham dengan nilai lebih dari US$ 1,2 miliar pada perdagangan Jumat (12/11). Ini merupakan yang terbaru dari serangkaian transaksi yang dilakukannya, menurut keterbukaan informasi di bursa. 

Orang terkaya di dunia dan pemegang saham teratas Tesla Sabtu lalu mentweet bahwa dia akan menjual 10% dari sahamnya, jika pengguna platform media sosial menyetujui langkah tersebut. Pada saat melakukan cuitan tersebut, 10% dari kepemilikan Musk setara dengan 17 juta saham.

Dia telah menjual 6,36 juta saham, atau setara 37% dari 17 juta yang dijanjikannya, sepanjang minggu ini. Untuk memenuhi janji menjual 10% kepemilikan, Musk masih harus melepas sekitar 10 juta saham lagi.

Baca Juga: Wall Street ditutup lebih tinggi didorong kenaikan saham-saham teknologi besar

Saham Tesla Inc ditutup lebih rendah 2,8% pada perdagangan Jumat menjadi US$ 1.033,42. Penurunan itu menyela rangkaian penguatan yang sudah berlangsung selama 11 pekan terakhir. Saham Tesla naik lebih dari 46% tahun ini setelah reli tajam di bulan Oktober.

Penjualan saham, yang menandai pertama kalinya Musk menguangkan saham sebesar itu sejak perusahaan itu didirikan pada 2003, sangat besar menurut standar pasar modal. Bahkan, nilainya melampaui hasil dari penawaran umum perdana sebagian besar perusahaan.

Dengan membuat pengguna Twitter memberi lampu hijau atas langkah tersebut, ia telah menumpulkan serangan balik yang mungkin muncul atas tindakannya menguangkan investasi di saat saham Tesla berada di pucuk harga.

Saham Tesla turun 15,4% selama minggu ini, dan nilai kapitalisasi pasarnya berkurang sekitar US$ 187 miliar nilai pasar. Namun nilai yang hilang itu masih lebih besar daripada nilai kapitalisasi pasar gabungan Ford Motor Co dan General Motors Co.

Meskipun menderita kerugian minggu ini, Tesla masih merupakan pembuat mobil paling berharga di dunia. Kenaikan kuat baru-baru ini dalam saham telah menggarisbawahi permintaan untuk saham pembuat kendaraan listrik (EV).

Setelah Rivian Automotive Inc melakukan debut pasar bernilai masif pada Rabu, maka dua pabrikan mobil AS paling berharga saat ini adalah produsen electronic vehicle (EV). Musk sempat mengomentari pesaingnya yang berbasis di Irvine, California. 

Baca Juga: Bila tidak jual saham Microsoft, kekayaan Bill Gates kini capai Rp 9.871 triliun

“Ada ratusan startup otomotif, baik mesin listrik dan mesin pembakaran. Namun Tesla adalah (satu-satunya) pembuat mobil Amerika yang mencapai volume produksi yang tinggi dan arus kas positif dalam 100 tahun terakhir,” demikian tutur Musk melalui platform Twitter.

Musk pernah mengatakan akan mengeksekusi sebagian besar opsi saham yang dimilikinya di tahun ini, yang akan menciptakan tagihan pajak yang besar. Menjual sebagian sahamnya dapat membebaskan dana untuk membayar pajak.

Sebelum penjualan, Musk memiliki sekitar 23% saham Tesla, termasuk dalam bentuk opsi. Setelah mengeksekusi opsi beli hingga 2,15 juta saham pada hari Senin, Musk masih memiliki opsi untuk membeli 20 juta saham lagi pada Agustus mendatang.

"Kami berharap penjualan saham akan terus berlanjut, karena Musk memegang jutaan opsi senilai miliaran dolar yang jika tidak akan berakhir tidak berharga, dan dia juga telah mengatur penjualan saham sebelumnya di bawah rencana 10b5-1," kata Jason Benowitz, manajer portofolio senior di Roosevelt Investment. Grup LLC di New York.

Selanjutnya: Paket Stimulus Ekonomi Jepang, Butuh Pengeluaran Fiskal Hingga US$ 350 Miliar

 

Bagikan

Berita Terbaru

Pemerintah Buka Dialog Soal Evaluasi RKAB 2026
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:41 WIB

Pemerintah Buka Dialog Soal Evaluasi RKAB 2026

APBI meminta pemerintah meninjau ulang rencana pemangkasan signifikan produksi batubara karena berdampak pada operasi

Tax Ratio Indonesia Semakin Jeblok
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:36 WIB

Tax Ratio Indonesia Semakin Jeblok

Tax ratio 2025 terendah dibanding tiga tahun sebelumnya, yakni periode 2022-2024, dengan rerata sebesar 10,22% dari PDB 

Bank Menggenjot Kredit Konsumer di Awal Tahun Lewat Pameran
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:35 WIB

Bank Menggenjot Kredit Konsumer di Awal Tahun Lewat Pameran

Setelah loyo tahun lalu, pertumbuhan kredit konsumer perbankan tahun ini diperkirakan akan lebih cerah didukung daya beli masyarakat

Kunci Investasi 2026: Komoditas Ini Diprediksi Melejit, Jangan Sampai Lewat!
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:30 WIB

Kunci Investasi 2026: Komoditas Ini Diprediksi Melejit, Jangan Sampai Lewat!

Pasar komoditas diprediksi konstruktif di 2026. Logam industri hingga emas berpotensi melejit, ini alasannya Anda harus tahu.

Medco Energi (MEDC) Kantongi Pinjaman Bank Rp 800 Miliar Buat Modal Kerja
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:25 WIB

Medco Energi (MEDC) Kantongi Pinjaman Bank Rp 800 Miliar Buat Modal Kerja

MEDC menandatangani perjanjian kredit dengan PT Bank ICBC Indonesia untuk pemberian pinjaman dengan nilai pokok sebesar Rp 800 miliar. 

Waspada, Duit Asing Bisa Kabur Lagi
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:23 WIB

Waspada, Duit Asing Bisa Kabur Lagi

Penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moodys Ratings menjadi alarm lanjutan bagi investor bahwa risiko pasar belum sepenuhnya mereda.

Data Membaik, Ekonomi Masyarakat Masih Rapuh
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:21 WIB

Data Membaik, Ekonomi Masyarakat Masih Rapuh

Meski indikator membaik, tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan jadi beban               

Gihon Telekomunikasi (GHON) Ingin Terus Menambah Penyewa
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:15 WIB

Gihon Telekomunikasi (GHON) Ingin Terus Menambah Penyewa

GHON menjajaki peluang kerja sama dengan operator untuk mendorong penambahan penyewa dan menciptakan sumber pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sentimen Domestik Masih Membebani Rupiah pada Jumat (6/2)
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:15 WIB

Sentimen Domestik Masih Membebani Rupiah pada Jumat (6/2)

Analis memprediksi rupiah masih rapuh. Ada sentimen MSCI dan defisit fiskal yang membayangi. Jangan lewatkan proyeksi lengkapnya di sini!

Demam Emas
| Jumat, 06 Februari 2026 | 06:10 WIB

Demam Emas

Kasus di China menunjukkan bahwa demam emas bisa berubah menjadi krisis kepercayaan dalam waktu singkat.

INDEKS BERITA