Beijing Gencar Intervensi, Kenaikan Harga di Gerbang Pabrik Melambat

Rabu, 12 Januari 2022 | 13:37 WIB
Beijing Gencar Intervensi, Kenaikan Harga di Gerbang Pabrik Melambat
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: Pejalan kaki melintas di depan kantor pusat People's Bank of China (PBOC) di Beijing, 21 Juni 2013. REUTERS/Jason Lee/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Tingkat harga di gerbang pabrik di China tumbuh lebih rendah daripada yang diperkirakan pada bulan Desember, demikian diperlihatkan oleh data resmi, Rabu. Perlambatan kenaikan harga ini terjadi setelah Beijing mengambil sejumlah langkah untuk membendung kenaikan harga bahan baku.  

Inflasi harga konsumen juga melambat di bulan lalu karena harga pangan turun, Biro Statistik Nasional (NBS) mengatakan dalam sebuah pernyataan. Meredanya kenaikan harga membuka ruang bagi otoritas moneter untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Indeks harga produsen (PPI) naik 10,3% dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan. Ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan indeks PPI naik 11,1% setelah naik 12,9% pada November.

Baca Juga: Kasus Covid-19 di AS Meningkat, China Tangguhkan Beberapa Penerbangan

Inflasi di tingkat pabrik tergerus selama bulan terakhir setelah mencapai level tertingginya selama 26 tahun terakhir di Oktober tahun lalu. Ini tidak lepas dari intervensi yang dilakukan Beijing untuk menstabilkan harga bahan baku yang tinggi dan mengurangi krisis energi energi.

"Inflasi di gerbang pabrik kemungkinan turun lebih lanjut selama beberapa bulan mendatang," ujar Sheana Yue, ekonom China di Capital Economics, dalam laporan risetnya. "Dengan peningkatan pasokan batu bara dan konstruksi properti yang melambat, kami melihat penurunan lebih lanjut pada harga logam industri dan energi," imbuh Yue.

Indeks harga konsumen (CPI) China di bulan Desember tumbuh 1,5% dalam basis year-on-year (yoy). Ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan kenaikan 1,8%, setelah kenaikan 2,3% pada November.

Harga makanan turun 1,2% yoy. Yue mengaitkan penurunan itu dengan pemulihan pasokan daging babi dan sayuran, setelah China mengalami gangguan pasokan pangan akibat cuaca buruk pada Oktober dan November.

CPI naik 0,9% yoy untuk tahun 2021, turun dari kenaikan 2,5% pada tahun sebelumnya. "Inflasi yang lebih rendah membuka ruang bagi pemerintah untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut.

Probabilitas penurunan suku bunga meningkat, dalam pandangan kami," kata Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, dalam sebuah catatan.

Baca Juga: Desember 2021, Tesla Catatkan Penjualan 70.847 Kendaraan yang Diproduksi di China

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi serangkaian tantangan pada tahun 2022, termasuk sektor properti yang terbebani utang, sektor manufaktur yang melambat, dan gelombang infeksi baru Covid-19 akibat penyebaran varian omicron.

Pemerintah daerah di berbagai kota di China sudah menyarankan orang untuk tetap tinggal selama masa libur Tahun Baru Imlek, yang merupakan masa puncak perjalanan di negeri itu.

Bank sentral China mengatakan akan menjaga kebijakan moneter fleksibel sepanjang 2022. Itu sejalan dengan upayanya menstabilkan pertumbuhan dan menurunkan funding cost untuk pebisnis di tengah munculnya berbagai hambatan ekonomi.

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:57 WIB

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Penjualan periode Lebaran menyumbang hampir 30% dari total target penjualan tahunan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:43 WIB

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Indonesia perlu belajar dari India yang mengalami masalah serupa pada 2012 namun bisa bangkit dan berhasil merebut kembali kepercayaan investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler