Belenggu Industri Kesehatan

Jumat, 29 Oktober 2021 | 09:00 WIB
Belenggu Industri Kesehatan
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Polemik dan teka-teki harga tes Covid-19 melalui metode Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) akhirnya terjawab. Pemerintah mematok harga terbaru tes PCR senilai Rp 275.000 di wilayah Jawa-Bali dan Rp 300.000 untuk luar Jawa-Bali.

Keputusan ini cukup melegakan. Bukan hanya bagi masyarakat yang selama ini merasa keberatan, harga tes PCR yang terjangkau juga akan memaksimalkan penanggulangan wabah korona di Indonesia.

Upaya 3T, yakni testing (pengetesan), tracing (pelacakan) dan treatment (pengobatan) adalah ikhtiar minimal menanggulangi pandemi Covid-19. Jika langkah di hulu (testing) efektif, maka pemerintah bisa memetakan strategi lanjutan, termasuk tracing dan treatment.

Dengan menurunkan tarif tes PCR, seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk menggenjot rasio tes Covid-19 yang selama ini berjalan lambat. Data Satgas Covid-19 per Rabu (27/10) memperlihatkan, total orang yang diperiksa di Indonesia sebanyak 30,63 juta orang, dengan total spesimen diperiksa sebanyak 45,78 juta.

Jumlah testing tersebut cukup rendah. Dengan mobilitas sosial yang kembali dibuka (mulai dari kegiatan ekonomi, pariwisata dan sekolah tatap muka), hal ini memunculkan risiko penularan Covid-19 di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, menggenjot testing adalah langkah mutlak. Peran testing sangat penting untuk mendeteksi dini wabah Covid-19. Jangan sampai kasus Covid-19 kembali meledak di Indonesia, seperti pada Juni-Juli lalu, yang menyebabkan layanan kesehatan di Tanah Air kewalahan dan kolaps.

Indonesia memang perlu mewaspadai kemungkinan ancaman gelombang ketiga Covid-19. Apalagi, dunia belum terbebas dari pandemi, bahkan eskalasi kasus positif di Singapura dan Inggris kembali menguat.

Terkait penurunan tarif tes PCR, para pengusaha penyedia layanan PCR tentu tidak nyaman. Mereka mengaku rugi lantaran komponen biaya tes PCR di atas Rp 300.000. Salah satu alasannya, komponen impor mendominasi alat tes PCR.

Melewati dua tahun wabah Covid-19 sudah cukup bagi Indonesia untuk belajar dan berbenah. Obat-obatan, tabung gas medis hingga alat tes PCR masih impor. Kini saatnya pemerintah membangun industri layanan dan infrastruktur kesehatan yang mandiri dan kuat.

Kita harus bisa melepaskan belenggu dan ketergantungan dari barang impor produk farmasi dan kesehatan.    

Bagikan

Berita Terbaru

Menkes BGS Bicara Strategi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8% dan Serap 2 Juta Pekerja Baru
| Kamis, 11 Juni 2026 | 14:55 WIB

Menkes BGS Bicara Strategi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8% dan Serap 2 Juta Pekerja Baru

Menkes Budi Gunadi Sadikin yakin industri kesehatan jadi motor utama capai target pertumbuhan ekonomi 8%. Temukan peran swasta dan strateginya!

BPS: Bisnis Jasa Kesehatan Tumbuh Kuat, Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
| Kamis, 11 Juni 2026 | 14:15 WIB

BPS: Bisnis Jasa Kesehatan Tumbuh Kuat, Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Menurut BPS, distribusi dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan lapangan usaha pada triwulan I-2026 jasa kesehatan tumbuh 7,62%.

Krisis LNG Bikin Asia Pasifk Butuh Tambahan 90 Juta Ton Batubara, RI Siap Menyuplai?
| Kamis, 11 Juni 2026 | 09:30 WIB

Krisis LNG Bikin Asia Pasifk Butuh Tambahan 90 Juta Ton Batubara, RI Siap Menyuplai?

Laju impor batubara Korea Selatan dan Jepang masing-masing tercatat melonjak lebih dari 50% dan 20% di atas level tahun lalu.

Memburu Saham Blue Chip yang Murah
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:50 WIB

Memburu Saham Blue Chip yang Murah

Saham blue chip memimpin rebound IHSG. Strategi akumulasi bertahap dapat memaksimalkan potensi keuntungan.

Ruang Pertumbuhan ASII Masih Terbatas, Simak Rekomendasi Sahamnya
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:34 WIB

Ruang Pertumbuhan ASII Masih Terbatas, Simak Rekomendasi Sahamnya

Astra International ubah fokus ke value creation. Temukan tiga mesin pertumbuhan baru yang berpotensi dongkrak kinerja jangka panjang.

Kenaikan BI Rate Hanya Obat Kuat Sementara untuk Rupiah
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:28 WIB

Kenaikan BI Rate Hanya Obat Kuat Sementara untuk Rupiah

Kenaikan BI Rate dinilai belum cukup untuk menjamin stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang tanpa dukungan kebijakan lainnya.

PALM Menerbitkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar untuk Membayar Utang
| Kamis, 11 Juni 2026 | 08:01 WIB

PALM Menerbitkan Obligasi Senilai Rp 500 Miliar untuk Membayar Utang

Masa penawaran umum obligasi ini pada 9 Juni 2026 dan tanggal pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia pada 15 Juni 2026. ​

Genjot Perdagangan Saham, Rukun Raharja (RAJA) Lakukan Stock Split
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:56 WIB

Genjot Perdagangan Saham, Rukun Raharja (RAJA) Lakukan Stock Split

Nilai nominal saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) akan berubah dari Rp 25 per saham  menjadi Rp 5 per saham setelah stock split. ​

Nilai Dividen Aneka Tambang (ANTM) Menurun, Imbal Hasil Tetap Menggiurkan
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:49 WIB

Nilai Dividen Aneka Tambang (ANTM) Menurun, Imbal Hasil Tetap Menggiurkan

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 5,05 triliun.

Asing Konsisten Sell Indonesia Saat IHSG Melesat, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 11 Juni 2026 | 07:48 WIB

Asing Konsisten Sell Indonesia Saat IHSG Melesat, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Tiga hari terakhir, jumlah net sell asing itu malah mencapai Rp 6,01 triliun. Artinya, penguatan IHSG ditopang oleh investor lokal. 

INDEKS BERITA

Terpopuler