Benarkah Indeks Pangan Indonesia Berada di Bawah Ethiopia?

Minggu, 28 Februari 2021 | 08:10 WIB
Benarkah Indeks Pangan Indonesia Berada di Bawah Ethiopia?
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam webinar Rabu, 17 Februari 2021, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, menyebut bahwa indeks keberlanjutan pangan (Food Sustainability Index) Indonesia berada di peringkat 60, di bawah Zimbabwe peringkat 30 dan Ethiopia peringkat 27.

Peringkat dan angka skor itu dikutip Arif dari The Economist. Kemudian Arif juga menyebut bahwa indeks keamanan pangan global (Global Food Security Index), Indonesia berada di peringkat 62 di bawah Vietnam yang peringkat 53, Thailand peringkat 51 dan Malaysia peringkat 28.

Pernyataan Rektor IPB ini tendensius. Sebab Zimbabwe dan Ethiopia, selama ini dikenal dunia sebagai negeri dengan tingkat keamanan pangan paling rendah. Sekarang, Indonesia berada di bawah dua negeri itu. Meski perbandingan Indonesia dengan dua negara tadi juga aneh.

Kalau indeks keberlanjutan pangan Indonesia dibandingkan dengan Zimbabwe dan Ethiopia, mestinya indeks keamanan pangan kita juga dibandingkan dengan dua negara itu. Atau sebaliknya, kalau indeks keamanan pangan kita dibandingkan dengan Vietnam, Thailand dan Malaysia; mestinya indeks keberlanjutan pangan kita dibandingkan dengan Vietnam, Thailand dan Malaysia.

Logika perbandingan ini tidak ia lakukan, karena tidak akan dramatis. Zimbabwe dan Ethiopia diperlukan untuk menunjukkan betapa buruk kondisi pangan kita; karena sudah berada di bawah dua negara Afrika yang identik dengan kelaparan.

Dalam indeks keamanan pangan global 113 negara yang juga dirilis The Economist, Zimbabwe tidak tercantum dan Ethiopia berada di peringkat 92, jauh di bawah Indonesia.

Maka Arif menggunakan bahan pembanding Vietnam, Thailand dan Malaysia. Dari sini sebenarnya sudah tampak bagaimana perbandingan ini tidak fair. Terlebih lagi, indeks keberlanjutan pangan; meski penting, bukan parameter utama untuk menilai kondisi pangan sebuah negara. Indeks keamanan pangan dan indeks kelaparan lebih tepat untuk itu, dan Indonesia berada di atas Zimbabwe dan Ethiopia.

Indeks kelaparan yang dirilis oleh Global Hunger Index, dinilai berdasarkan empat parameter: kurang gizi, wasting, stunting dan kematian anak.

Produk pangan utama

Dari 107 negara dalam indeks kelaparan 2020, Indonesia berada pada peringkat 70, dengan skor 19,1. Zimbabwe tidak menghadirkan data, hingga tidak termasuk dalam 107 negara yang diberi skor. Ethiopia berada di peringkat 92, dengan skor 26.2. Indeks kelaparan ini sama sekali tak disinggung oleh Rektor IPB dalam webinar tersebut. Hingga ibarat orang buta meraba gajah, informasi yang disampaikan ke publik tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Orang buta yang meraba belalai, akan mengatakan bahwa gajah itu mirip ular. Yang meraba badan bilang gajah itu seperti tembok. Yang memegang kaki mengatakan gajah seperti pohon. Sedangkan yang meraba ekor bilang gajah mirip dengan cambuk. Pernyataan Rektor IPB ini masih dikutip benar oleh Tempo, dengan menyebut Indeks Keberlanjutan Pangan RI Di Bawah Zimbabwe dan Ethiopia. Tetapi Tirto sudah menyebut bahwa Indeks Pangan Indonesia Lebih Buruk dari Ethiopia. Ekonomi.bisnis.com langsung menyebut Soal Pangan Indonesia Kalah dari Ethiopia.

Pada umumnya, umat manusia modern mengonsumsi pati dari serealia, dan umbi-umbian sebagai bahan pangan utama. Hanya sebagian kecil mengonsumsi pati dari buah-buahan (sukun, plantain) dan batang pohon (sagu, aren). Jagung serealia paling banyak dibudidayakan manusia.

Inilah lima besar penghasil jagung dunia (FAO 2019, juta ton): AS 347,0; China 260,9; Brasil 101,1; Argentina 56,8; Ukraina 35,8; Indonesia 30,6. Zimbabwe hanya menghasilkan 0,7; Ethiopia 9,6. Sebagian besar produksi jagung dunia, tidak dikonsumsi langsung manusia, melainkan dijadikan pakan ternak penghasil daging dan telur.

Gandum merupakan serealia paling banyak kedua yang dibudidayakan umat manusia di dunia. Lima besar penghasil gandum utama dunia adalah (FAO 2019, juta ton): China 133,6; India 103,5; Russia 74,4; AS 52,2; Prancis 40,6. Indonesia tidak menghasilkan gandum. Tahun 2019, Zimbabwe menghasilkan 0,08 (juta ton); Ethiopia 5,3. Gandum juga bahan pangan kedua terbesar penduduk Indonesia setelah beras. Karena gandum tidak bisa dibudidayakan di kawasan tropis, maka 100% kebutuhan gandum Indonesia harus diimpor. Impor gandum Indonesia 2019 sebesar 10,6 juta ton dengan nilai Rp 38 triliun.

Padi merupakan serealia ketiga paling banyak dibudidayakan manusia di dunia. Inilah lima besar penghasil padi utama dunia (FAO 2019, juta ton): China 211,4; India 177,6; Indonesia 54,6; Bangladesh 54,5; Vietnam 43,4. Zimbabwe hanya menghasilkan padi 1.560 ton; Ethiopia 170.630 ton. Kentang merupakan jenis umbi-umbian paling banyak dibudidayakan manusia. Inilah lima besar penghasil kentang dunia (FAO 2019, juta ton): China 91,8; India 50,1; Russia 22,0; AS 19,1; Jerman 10,6. Tahun 2019 Indonesia tercatat menghasilkan 1,3 juta ton kentang; Zimbabwe 12.880; Ethiopia 924.528 ton.

Membandingkan kondisi pangan sebuah negara dengan negara lain; memang harus menggunakan beberapa parameter, termasuk populasi penduduk sebagai acuan; hingga gambaran yang diberikan bisa lebih mendekati kebenaran. Indonesia sekarang berpenduduk 270 juta jiwa; Zimbabwe 14 juta; Ethiopia 112 juta. Keberlanjutan pangan memang penting; tetapi lebih penting keamanan pangan; yang di sini familier dengan istilah ketahanan pangan. Meski indeks keberlanjutan pangan kita di bawah Zimbabwe dan Ethiopia, tetapi indeks keamanan pangan dan indeks kelaparan kita lebih baik dari dua negara tersebut.

Bagikan

Berita Terbaru

Waspadai Tren Bearish Lanjutan Saham WIFI, Masih Dominan Tekanan Jual dibanding Beli
| Senin, 26 Januari 2026 | 18:22 WIB

Waspadai Tren Bearish Lanjutan Saham WIFI, Masih Dominan Tekanan Jual dibanding Beli

Fundamental WIFI yang diuntungkan oleh basis biaya yang lebih rendah, capex Rp 750 ribu/koneksi rumah di bawah rata-rata industri Rp 1,5 juta.

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang
| Senin, 26 Januari 2026 | 14:45 WIB

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang

Saham tambang logam di bursa melanjutkan reli. Kenaikannya masih menarik bagi investor. Saham-sahamnya masih menarik dik

Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai
| Senin, 26 Januari 2026 | 09:35 WIB

Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai

Lesunya transaksi merger dan akuisisi global tak lepas dari volatilitas harga minyak yang cenderung bearish sepanjang 2025.

Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi
| Senin, 26 Januari 2026 | 09:29 WIB

Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi

Konglomerat mempunyai pendanaan yang relatif kuat serta bagi yang sudah mengucurkan penambahan modal kerja atau investasi perlu dicermati

Risiko Setor Surplus BI Sebelum Audit
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:38 WIB

Risiko Setor Surplus BI Sebelum Audit

Ekonom memproyeksikan surplus BI akan meningkat pada 2025 sebelum kembali menurun pada 2026         

Tak Berkutik, Pajak Bisa Blokir Layanan Publik
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:29 WIB

Tak Berkutik, Pajak Bisa Blokir Layanan Publik

Ditjen Pajak bisa memblokir penunggak pajak dengan utang minimal Rp 100 juta                        

Ada Wacana Penerapan Layer Cukai Baru, Wismilak (WIIM) Disebut Paling Diuntungkan
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:26 WIB

Ada Wacana Penerapan Layer Cukai Baru, Wismilak (WIIM) Disebut Paling Diuntungkan

Penambahan layer cukai agar pelaku usaha dapat bertransformasi menjadi legal tanpa tekanan biaya yang terlalu berat.

Lonjakan Harga Emas Meniup Angin Segar ke Arah Emiten, Saham Boy Thohir Paling Cuan
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:12 WIB

Lonjakan Harga Emas Meniup Angin Segar ke Arah Emiten, Saham Boy Thohir Paling Cuan

Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter membuat tren harga emas global masih cenderung uptrend.

Menghitung Dampak Rencana Pemangkasan Komisi dan Asuransi Terhadap Kinerja GOTO
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:50 WIB

Menghitung Dampak Rencana Pemangkasan Komisi dan Asuransi Terhadap Kinerja GOTO

Teradang rencana aturan baru, harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terjerembap 11,76% dalam sepekan.​

Jadi Price Anchor, Harga Pasar Saham SGRO Berpotensi Mendekati Harga Tender Offer
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:10 WIB

Jadi Price Anchor, Harga Pasar Saham SGRO Berpotensi Mendekati Harga Tender Offer

Kehadiran Posco turut berpotensi memberikan akses pendanaan yang lebih kompetitif untuk mendukung ekspansi agresif SGRO ke depan.

INDEKS BERITA

Terpopuler