Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif Berlangganan Sekarang
Berita HOME

Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

Kamis, 14 Februari 2019 | 13:32 WIB
Benny Tjokrosaputro: Saya Sempat Dimarahi Bapak karena Main Saham

ILUSTRASI.

KONTAN: Keinginanan atau cita-cita Anda yang belum tercapai?

BENNY: Kalau utang sudah lunas, duit banyak, maunya nyumbang-nyumbang. Berbuat untuk banyak orang.

KONTAN: Apa ini karena pengaruh Pak Tahir?

BENNY: Apa yang dilakukan Pak Tahir, 100% saya setuju. Semakin kita kaya, pastinya juga semakin tua. Mau makan enak, banyak pantangannya. Makan semakin sedikit bukan makin banyak.

Jadi uang banyak buat apa lagi, kalau tidak untuk membantu sesama? Itu kalau utang sudah beres. Kalau utang masih banyak, ya, bayar utang dulu.

KONTAN: Ikut juga dalam kegiatan filantropi yang dipelopori Tahir?

BENNY: Saya ikut sedikit saja.Untuk urusan sosial, Pak Tahir sangat cocok untuk jadi panutan.

KONTAN: Karena jadi panutan, makanya ikut berkantor di gedung yang sama?

BENNY: Itu karena Pak Tahir sangat baik, Dia minta saya tidak kemana-mana. Pak Tahir sudah berteman akrab dengan ayah saya sejak dulu, bukan saja hanya hubungan kreditur dan debitur. Umur ayah saya dengan Pak Tahir hanya terpaut sedikit, lebih tua ayah saya sedikit.

KONTAN: Seperti apa filosofi kepemimpinan Anda?

BENNY: Saya punya prinsip, melayani itu lebih mulia ketimbang dilayani. Saya tidak suka pemimpin yang nge-bossy, tapi dia sendiri tidak mau kerja, saya tidak suka.

Makanya untuk Presiden sekarang ini, saya salut bukan karena dia orang solo, tetapi karena dia benar-benar mau capek kerja. Bukan cuma blusukannya, tetapi capeknya kerja itu lo. Dia keliling Indonesia, nyaris tidak ada istirahatnya. Makanya menterinya juga jadi rajin rajin-kerja.

Kalau atasannya kasih contoh seperti itu, maka bawahannya juga akan ikut. Kalau atasannya gaya bossy doang, nge-bossy, maka yang layer kedua juga cuma bisa perintah doang ke layer bawahnya lagi.

KONTAN: Sering memberikan reward and punishment kepada karyawan?

BENNY: Di tiap level saya selalu kasih penghargaan. Di divisi pembebasan tanah, saya kasih penghargaan. Tapi kalau nggak beres ya saya kejar juga. Marketing juga ada reward-nya, mereka bisa jual banyak unit, juga ada reward.

Saya sempat dapat komplain dari bagian akunting karena katanya tidak memberikan reward kepada mereka. Saya tegaskan, selama saya masih dikejar-kejar pajak karena dibilang tidak patuh atau apa, atau dikejar OJK, BEI, kena surat peringatan, selama saya kena yang konyol-konyol sepertti itu, salah pajak, didenda OJK karena telat audit, ya saya bilang tidak ada bonus.

Mending bonus yang harusnya saya kasih Anda saya pakai untuk ambil pegawai satu lagi, supaya kerjanya beres. Saya orangnya simpel.

KONTAN: Forbes menobatkan Anda masuk jajaran 50 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan sebesar US$ 670 juta. Komentar Anda?

BENNY: Banyak yang lebih kaya daripada saya. Kalau soal hitungan luas lahan, itu kan milik public company, bukan milik pribadi saya. Milik Hanson sekitar 4.000 hektare (ha). RIMO 1.500 ha. Di luar Hanson dan RIMO ada sekitar berapa ratus atau sekitar 1.000 ha lebih. Ya kalau total grup, 6.000 ha ada. Tetapi itu bukan milik pribadi, mayoritas milik public company.

Reporter: Dian Sari Pertiwi, Thomas Hadiwinata, Yuwono Triatmodjo
Editor: Yuwono triatmojo

Baca juga