Beras Menengah

Senin, 27 Juli 2026 | 06:10 WIB
Beras Menengah
[ILUSTRASI. TAJUK - Hendrika Yunapritta (KONTAN/Indra Surya)]
Hendrika Y | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lagi-lagi kelas menengah Indonesia dapat ujian in this economy. Terus ada dengungan optimisme agar kelompok ini menjadi motor penggerak pertumbuhan dan berdiri di atas kaki sendiri, tapi di sisi lain, realitas menunjukkan himpitan biaya hidup. Terlebih belakangan, saat harga beras premium yang biasa dikonsumsi kalangan ini merangkak naik dan kantong perlindungan sosial kian menipis bersama fenomena makan tabungan, tuntutan agar mandiri ini jadi ironi.

Ini terjadi ketika Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersikukuh bahwa stok beras aman meskipun harga beras premium belakangan melonjak. Di sisi lain, Bulog melaporkan penyerapan gabah yang masif. Terlihat ada rantai yang putus dalam perlindungan daya beli masyarakat. Negara seakan lupa bahwa kelompok rentan baru, mereka yang tergelincir dari kelas menengah, sedang berjuang menghadapi inflasi pangan yang menggerus pos pengeluaran harian.

Ada kesalahan fundamental dalam cara pandang pemangku kebijakan terhadap ketahanan kelas menengah. Selama ini, kelompok ini kerap dianggap sebagai "warga mandiri" yang kebal krisis karena tidak tersentuh bantuan sosial langsung. Padahal, mereka adalah kelompok paling rapuh terhadap guncangan harga kebutuhan pokok dan penciutan lapangan kerja formal. 

Kebijakan ekonomi yang hanya berfokus pada kelompok bawah saja, tanpa memperluas jaring pengaman sosial universal, menciptakan jurang pemisah yang membuat kelas menengah terlempar.

Selain itu, ada paradoks pangan, di mana stok diklaim aman tetapi harga di pasar ternyata naik, menunjukkan terdapat kelemahan tata niaga. Klaim administratif bahwa cadangan pangan tercukupi sama sekali tidak berdampak apa-apa jika distribusi dan stabilitas harga di tingkat konsumen gagal dikendalikan. Beban ini pada akhirnya ditanggung oleh kelas menengah yang harus memutar otak untuk bertahan hidup tanpa subsidi, sementara pendapatan riil mereka stagnan.

Sudah saatnya pemerintah menanggalkan ilusi bahwa kelas menengah dapat dibiarkan berjalan sendiri tanpa intervensi kebijakan. Perlindungan sosial universal dan intervensi harga pangan yang efektif jadi keharusan mutlak. 

Negara tidak boleh hanya hadir saat memungut pajak atau mengharapkan konsumsi domestik dari kelas menengah ini, tetapi juga ketika warganya tercekik oleh ketidakpastian pasar dan guncangan harga kebutuhan pokok. 

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Harga Minyak Mendidih Lagi, Subsidi Membengkak
| Senin, 27 Juli 2026 | 07:02 WIB

Harga Minyak Mendidih Lagi, Subsidi Membengkak

Harga minyak dunia nyaris menembus US$ 100 per barel dan mengancam ketahanan fiskal di dalam neegeri

Efisiensi, Kunci Penguatan Kinerja Emiten Sektor Batubara
| Senin, 27 Juli 2026 | 07:00 WIB

Efisiensi, Kunci Penguatan Kinerja Emiten Sektor Batubara

Emiten sektor batubara tertekan kenaikan biaya operasional di tengah tekanan sentimen kebijakan dari dalam negeri 

Rupiah Masih Akan Tertekan pada Awal Pekan Ini
| Senin, 27 Juli 2026 | 07:00 WIB

Rupiah Masih Akan Tertekan pada Awal Pekan Ini

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (24/7), rupiah spot melemah 0,15% secara harian ke Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Dunia Usaha Menanti Kepastian Tarif Amerika
| Senin, 27 Juli 2026 | 06:54 WIB

Dunia Usaha Menanti Kepastian Tarif Amerika

Pelaku usaha mewaspadai ketidakpastian aturan di balik pemberlakuan tarif baru oleh pemerintah Amerika Serikat

Proyeksi IHSG pada Senin 27 Juli 2026 dan Rekomendasi Sahamnya
| Senin, 27 Juli 2026 | 06:45 WIB

Proyeksi IHSG pada Senin 27 Juli 2026 dan Rekomendasi Sahamnya

Pergerakan IHSG masih mendapat dukungan dari ekspektasi kinerja emiten kuartal II dan semester I-2026 yang relatif solid.

Tekanan Luar dan Dalam Masih Kuat, Yield SBN Menanjak
| Senin, 27 Juli 2026 | 06:20 WIB

Tekanan Luar dan Dalam Masih Kuat, Yield SBN Menanjak

Meski bunga acuan tetap, investor tetap meminta premi risiko lebih tinggi. Ini tercermin dari yield SBN yang menanjak. 

Beras Menengah
| Senin, 27 Juli 2026 | 06:10 WIB

Beras Menengah

Sudah saatnya pemerintah menanggalkan ilusi bahwa kelas menengah dapat dibiarkan berjalan sendiri tanpa intervensi kebijakan.

Pelemahan Harga Emas Global Menyeret Pergerakan Saham Emiten Peremasan
| Senin, 27 Juli 2026 | 06:00 WIB

Pelemahan Harga Emas Global Menyeret Pergerakan Saham Emiten Peremasan

Harga emas sejak awal tahun ini masih diliputi awan gelap, setelah reli panjang yang terjadi pada tahun 2024-2025.

Mengejar Realisasi Rumah Subsidi
| Senin, 27 Juli 2026 | 05:35 WIB

Mengejar Realisasi Rumah Subsidi

Pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk rumah subsidi sudah mencapai Rp 13,87 triliun.

Industri Harap Lingkup PPP Dikaji Luas
| Senin, 27 Juli 2026 | 05:35 WIB

Industri Harap Lingkup PPP Dikaji Luas

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tak memasukkan asuransi kredit dan suretyship dalam produk yang akan dijamin Program Penjaminan Polis (PPP). 

INDEKS BERITA

Terpopuler