Berita

Bisnis Ban Seret, Terdampak Kelesuan Pasar Otomotif

Kamis, 12 September 2019 | 06:59 WIB

ILUSTRASI. Merek Ban Dengan Nilai Pasar Termahal di Dunia - Goodyear

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri ban agaknya sulit menggapai pertumbuhan signifikan pada tahun ini. Selain bergantung pada bahan baku impor, permintaan ban di pasar domestik cenderung melemah.

"Memang saat ini cenderung stagnan, kami bisa survive saja sudah syukur," ungkap Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane, kepada KONTAN, Rabu (11/9).

Para pelaku industri mengakui saat ini daya beli konsumen lokal terhadap barang dan spare part otomotif memang cenderung melempem.

Alhasil, kondisi tersebut turut mempengaruhi penjualan ban yang notabene perlu diganti setiap 20 bulan sekali. Banyak konsumen yang menunda untuk mengganti ban hingga beberapa tahun ke depan. Selain itu, menurut Aziz, konsumen mulai berhemat untuk mengganti ban kendaraan. Tak banyak konsumen yang mengganti ban secara menyeluruh.

Sementara itu di pasar ekspor, produsen ban Indonesia harus bersaing dengan produsen di banyak negara. "Dari segi kualitas, sebenarnya ban produksi Indonesia tidak kalah. Namun kalau bersaing secara harga dengan negara lain, agaknya sulit lantaran mereka memiliki industri hulu, seperti India dan China," ungkap Aziz.

Itulah sebabnya hampir 60% bahan baku ban domestik masih mengandalkan barang impor. Pengusaha mengharapkan pemerintah perlu mendorong penyediaan bahan baku utama dan bahan pendukung lain yang diproduksi di dalam negeri dengan harga lebih murah.

Azis memberikan contoh, pasokan carbon black dari industri kimia hulu nasional belum dapat menembus 40% dari kebutuhan industri ban di tanah air.

Hingga saat ini ada sekitar 14 pabrik ban di Indonesia. APBI mencatat kapasitas terpasang ban nasional mencapai 85 juta unit per tahun, sementara utilitasnya belum 100%.

Senada dengan APBI, PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) juga mengakui bisnis ban pada tahun ini cukup berat. Hingga Juni tahun ini, penjualan bersih Goodyear Indonesia menurun 17,69% year on year (yoy) menjadi US$ 65,13 juta.

Selama enam bulan pertama tahun ini, GDYR bahkan mencatatkan rugi tahun berjalan sebesar US$ 2,32 juta. Padahal di periode yang sama tahun lalu, mereka masih mengantongi laba US$ 1,02 juta.

Penjualan jenis ban luar turut menopang bisnis GDYR sebesar US$ 62,89 juta di semester I-2019. Angka itu setara 96,56% dari total penjualan. Namun pencapaian tersebut turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 65,59 juta.

Dari sisi geografis, pasar lokal masih mendominasi penjualan GDYR, yakni US$ 38,37 juta di paruh pertama tahun ini. Tapi angka itu menurun 8% ketimbang periode sama tahun lalu US$ 42,1 juta.

GDYR tetap memaksimalkan produksi pada tahun ini. Manajemen memiliki kapasitas terpasang 12.000 unit ban per hari atau sebanyak 4,38 juta unit per tahun. "Kami akan memaksimalkan berbagai lini, mulai dari strategi penjualan, jalur distribusi hingga efisiensi," kata Head of Communication PT Goodyear Indonesia Tbk, Wicaksono Soebroto.

Berharap infrastruktur

Managing Director PT Bridgestone Tire Indonesia (BTI), Mukiat Sutikno, juga mengakui kondisi ekonomi makro yang belum pulih berdampak bagi industri ban. Namun mereka masih optimistis dapat memaksimalkan potensi pasar.

"Dengan banyaknya proyek infrastruktur dan potensi pasar otomotif lokal, hal ini akan sangat membantu pasar ban mobil penumpang dan komersial," sebut dia kepada KONTAN, Rabu (11/9).

Manajemen Bridgestone enggan membeberkan target bisnisnya. Namun dari sisi industri, Mukiat menyebutkan pertumbuhan ban seharusnya bisa di level 5% pada tahun ini. Dengan catatan, ada perbaikan ekonomi dan keberlanjutan proyek infrastruktur oleh pemerintah.

Saat ini, Bridgestone memiliki pabrik di Bekasi dan Karawang yang memiliki kapasitas produksi masing-masing 14.000 unit ban per hari dan 27.500 unit per hari.

Reporter: Agung Hidayat
Editor: Yuwono triatmojo

IHSG
6.219,44
1.82%
-115,41
LQ45
983,25
0.91%
-9,00
USD/IDR
14.020
0,50
EMAS
753.000
0,00%