Bisnis Ekspor-Impor AS dan China Sama-Sama Tercekik Tarif Perang Dagang

Jumat, 31 Mei 2019 | 17:38 WIB
Bisnis Ekspor-Impor AS dan China Sama-Sama Tercekik Tarif Perang Dagang
[]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berdampak serius pada bisnis ekspor-impor. Penetapan tarif baru memaksa para eksportir dan importir berebut  menaikkan harga jual atau mencari berbagai cara agar margin tak tergerus. 

Pengimpor anggur Shanghai Alex Chen misalnya, telah menghabiskan 10 hari terakhir untuk memindahkan semua anggur Amerikanya, mulai dari jenis chardonnays hingga zinfadels, keluar dari gudang di zona perdagangan bebas. Ini untuk menghindari tarif tambahan yang mulai berlaku pada Sabtu mendatang.

Chen memperkirakan, ia memiliki persediaan untuk tiga bulan. Setelah itu, ia bakal fokus bermitra dengan pemasok anggur dari tempat-tempat lain, seperti Chile atau Australia. 

Seprerti diketahui, China meningkatkan tarif untuk anggur Amerika. Hal tersebut membuat perusahaannya, Alexancer Wine Co sulit memperoleh margin. "Ini akan meruntuhkan pasar anggur AS," ujarnya seperti dikutip Reuters, Jumat (31/5). 

Perang dagang antara dua raksasa ekonomi terbesar di dunia sudah berlangsung dalam 10 bulan belakangan. Tensi perang dagang makin meningkat di awal bulan ini usai Presiden As Donald Trump memberlakukan putaran tarif baru. Hal itu membuat perusahaan-perusahaan yang terdampak langsung tarif ini harus berjuang untuk mengubah strategi bisnis dan menaikkan harga. 

Harlan Stone, Kepala Eksekutif Metroflor yang berbasis di Connecticut mengatakan, dia telah mengirim surat elektronik ke distributornya untuk memberi tahu mereka tentang rencana penaikkan harga pada lantai vinyl buatan China sebesar 13,5%. Ini dilakukan setelah Trump menaikkan tarif barang-barang China pada 9 Mei lalu. 

Stone mengatakan, awalnya dia dan distributornya memikul tarif awal sebesar 10% di tahun lalu. "Dalam jangka panjang, kami percaya pasar dapat menyerap 10%. Tapi kami juga tahu, pasar tidak akan mampu menyerap 15% tambahannya," ujar Stone, yang menjual mengambil ubin vynil mewah dari pabrik di di timur China untuk dijual di AS. 

"Ini akan langsung berdampak ke konsumen. Tidak ada yang tahu apakah kebiasaan membeli mereka akan tetap sama. Ada risiko," ujarnya. 

Mencari alternatif

Perang dagang memang mengubah aliran barang-barang global, dengan perusahaan AS. Analis S&P Global Market Intelligence, Panjiwa mengatakan, perang dagang telah menggeser pembelian produk-produk yang terkena dampak, seperti furnitur, lemari es, dan ban mobil, ke negara-negara seperti Vietnam dan Korea Selatan.

Trump, yang marah lantaran lonjakan imigran ilegal yang melintasi perbatasan selatan, berjanji pada Kamis lalu, untuk memberlakukan tarif pada semua barang yang datang dari Meksiko. Ini makin mengancam aliran perdagangan global. 

Pembelian produk-produk AS ke China juga anjlok. Menurut data Departemen Pertanian AS, total pengiriman produk pertanian AS ke China telah turun 44% atau US$ 2,1 miliar, pada kuartal pertama 2019, dibandingkan periode yang sama tahun 2018 lalu. 

Angka itu termasuk penurunan 45% dalam pengiriman sereal sarapan AS,  penurunan 34% impor daging sapi, serta pengurangan 20% terhadap pembelian daging babi AS. Impor makanan hewan peliharaan turun 35%, anggur dan bir turun 20%, dan pembelian kacang-kacangan seperti almond turun 47%. 

Beberapa importir di China mengatakan kepada Reuters bahwa mereka memilih untuk mencari lebih banyak daging babi dan sapi dari negara-negara lain seperti Argentina atau Spanyol, karena penjualan produk AS semakin tidak kompetitif.

"Pengimpor langsung memberi tahu kami kalau membeli dari mereka, biaya akan naik 30%-40%," kata Dmytro Soroka, Manajer Operasi Gusto.Harga yang naik hanya akan membuat produk lain dibawa dari berbagai negara lain menjadi lebih menarik bagi pelanggan. 

Distributor anggur AS yang fokus pada penjualan ke China juga mengaku kesulitan untuk bisa optimistis dalam iklim seperti ini. 

Michael Honig, presiden Honig Vineyard & Winery Napa Valley mengatakan, kenaikan tarif telah mencekik bisnis anggur ke China yang telah berlangsung selama 10 tahun. Pada 2016, kilang anggur keluarga kecilnya menjual sekitar 1.000 kotak anggur ke China. Angka ini turun hingga ke nol pada tahun lalu.

Data Wine Institute menunjukkan, ekspor anggur AS ke Cina mencapai US$ 59 juta pada tahun 2018. Secara volume, angka ini turun 13% dan secara nilai, telah turun 25% dibandingkan dengan 2017 silam. 

Bagikan

Berita Terbaru

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:30 WIB

Prospek MIKA 2026 Tetap Solid dan Margin Terjaga Meski Pasien BPJS Menyusut

Persaingan bisnis rumah sakit semakin sengit sehingga akan memengaruhi ekspansi, khususnya ke kota-kota tier dua.

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:26 WIB

Perluas Kapasitas Panas Bumi, Prospek Saham PGEO Masih Menarik?

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menggeber ekspansi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) miliknya.

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:06 WIB

Wira Global Solusi (WGSH) Akan Menebar Saham Bonus Dengan Rasio 1:1

Saham bonus yang akan dibagikan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berasal dari kapitalisasi tambahan modal disetor atau agio saham tahun buku 2024.

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)
| Selasa, 10 Februari 2026 | 09:02 WIB

Momentum Ramadan Berpotensi Dorong Pertumbuhan Darya-Varia (DVLA)

Momentum Ramadan dinilai bakal menjadi salah satu katalis positif bagi emiten farmasi. Salah satunya PT Darya-Varia Laboratoria Tbk.​

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:56 WIB

Proyek Hilirisasi BPI Danantara Menyengat Prospek Emiten BEI

Proyek hilirisasi Danantara juga membuka peluang keterlibatan emiten pendukung, baik di sektor energi, logistik, maupun konstruksi.

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:48 WIB

Tembus Rp 5,50 Triliun, Laba Indosat (ISAT) Tumbuh Dua Digit Pada 2025

Segmen selular jadi kontributor utama pertumbuhan kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) di sepanjang tahun 2025.

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:33 WIB

Saatnya Peningkatan Integritas Pasar Modal Menghadapi Turbulensi

Pelaksanaan aturan ini tidak langsung, tapi ada waktu transisi. Ini penting agar pemilik dan pengendali punya waktu menyusun strategi 

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 08:11 WIB

Kinerja Bank Mandiri (BMRI) Tetap Kokoh di 2025, Diprediksi Berlanjut di 2026

Sentimen positif bagi BMRI di tahun 2026 berasal dari fundamental yang solid dan efisiensi berkelanjutan.

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:57 WIB

Melawan Arus Badai MSCI, Saham RALS Melesat Jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026

Penjualan periode Lebaran menyumbang hampir 30% dari total target penjualan tahunan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun
| Selasa, 10 Februari 2026 | 07:43 WIB

Efek Berantai, Prospek Negatif Moody’s Bikin Saham Big Caps Pelat Merah Kompak Turun

Indonesia perlu belajar dari India yang mengalami masalah serupa pada 2012 namun bisa bangkit dan berhasil merebut kembali kepercayaan investor.

INDEKS BERITA

Terpopuler