Bisnis Malindo Feedmill (MAIN) Moncer di Ujung Tahun

Senin, 25 November 2019 | 06:21 WIB
Bisnis Malindo Feedmill (MAIN) Moncer di Ujung Tahun
[ILUSTRASI. MalindoFeedmill-Gresik3/Pho.DOK MALINDO FEEDMILL]
Reporter: Muhammad Julian | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN, anggota indeks Kompas100) memperkirakan akhir tahun 2019 nanti bisa kembali mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih dobel digit. Kembali naiknya harga jual anak ayam dan itik usia sehari atau day old chicken (DOC) dan ayam pedaging menjadi dasar pertimbangan mereka.

Sejalan dengan itu, Malindo juga memproyeksikan pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih tahun ini. "Untuk net profit kami optimistis akan bertumbuh walaupun angkanya tidak sebesar pertumbuhan angka penjualan," kata Andre A. Hendjan, Sekretaris Perusahaan PT Malindo Feedmill Tbk kepada KONTAN, Kamis (21/11) pekan lalu.

Mengintip kinerja 2018, penjualan pertumbuhan 23,35% year on year (yoy) menjadi Rp 6,71 triliun. Sementara laba laba bersih terungkit lebih dari 6,5 kali lipat menjadi Rp 284,79 miliar.

Penjualan tahun lalu naik signifikan karena 2017 hanya tumbuh 3,82% yoy menjadi Rp 5,44 triliun. Belum lagi, laba bersih Malindo Feedmill dua tahun lalu juga tercatat lebih kecil yakni Rp 48,88 miliar.

Padahal laba bersih 2016 mencapai Rp 211,52 miliar. Rupanya, beban pokok penjualan 2017 naik 12,18% atau lebih tinggi ketimbang kenaikan penjualan bersih.

Malindo Feedmill mencatat, sampai kuartal IV 2019 harga jual DOC dan ayam pedagang atau broiler kembali membaik.

Perusahaan berkode saham MAIN di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu berharap tren kenaikan harga bisa bertahan lama.

Selain berharap pada pasar, Malindo Feedmill mengejar efisiensi biaya dan memperdalam penetrasi pasar di wilayah timur Indonesia.\

Mereka antara lain mengincar pasar Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Harga sempat turun

Sementara sepanjang sembilan bulan tahun ini, penjualan bersih Malindo Feedmill tumbuh 17,15% yoy menjadi Rp 5,67 triliun. Namun, laba bersihnya turun 12,34% yoy menjadi Rp 195,39 miliar.

Andre menjelaskan, harga jual DOC dan ayam broiler sempat turun. Dengan tambahan kenaikan beban pokok penjualan, kinerja bottom line pun semakin menyusut.

Informasi saja, DOC dan ayam broiler merupakan kontributor penjualan kedua dan ketiga bagi Malindo Feedmill. Sementara penyumbang terbesar penjualan mereka adalah pakan yakni sebesar Rp 3,74 triliun.

Mayoritas penjualan Malindo Feedmill terjadi dengan pihak ketiga. Sementara penjualan dengan pihak berelasi senilai 298.07 miliar atau 5,26% terhadap total penjualan bersih. Pihak berelasi meliputi PT Leong Hup Jayaindo, PT Telur Indonesia dan PT Sehat Cerah Indonesia.

Meraih pinjaman dari BCA

Selain itu, Malindo Feedmill meraih pinjaman senilai Rp 250 miliar dari PT Bank Central Asia Tbk atawa BCA. Kedua perusahaan meneken perjanjian kredit pada 18 November 2019 pekan lalu.

Jenis utang berupa time loan revolving atau dapat ditarik berkali-kali dan dapat diperpanjang.

"Memberikan jaminan utang atas aset perusahaan manapun sebagaimana dipersyaratkan oleh kreditur berdasarkan Perjanjian Kredit baik sekarang ataupun di kemudian hari," seperti dijelaskan Andre dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (20/11).

Manajemen Malindo Feedmill akan menggunakan pinjaman BCA untuk modal kerja seperti membeli bahan baku dan membayar pemasok. MAIN yakin dana itu bisa memperkuat kondisi keuangan.

Bagikan

Berita Terbaru

Meski Prospek Emiten Rumah Sakit Masih Cerah, Pelemahan Rupiah Jadi Batu Ujian
| Selasa, 14 Juli 2026 | 07:23 WIB

Meski Prospek Emiten Rumah Sakit Masih Cerah, Pelemahan Rupiah Jadi Batu Ujian

Rumah sakit dengan dominasi pasien mandiri maupun asuransi swasta masih memiliki fleksibilitas untuk melakukan penyesuaian tarif secara bertahap.

Peluang Baru Kerja Sama RI dan Australia
| Selasa, 14 Juli 2026 | 07:23 WIB

Peluang Baru Kerja Sama RI dan Australia

Nilai perdagangan Indonesia dan Australia meningkat dari US$ 7,2 miliar pada 2020 menjadi US$ 13 miliar pada 2025.

Pertaruhan Konsistensi Kebijakan Fiskal Negara
| Selasa, 14 Juli 2026 | 07:08 WIB

Pertaruhan Konsistensi Kebijakan Fiskal Negara

S&P mempertahankan peringkat utang Indonesia di BBB dengan outlook tetap stabil                      

Problem Suplai Batubara PLN Belum Tuntas
| Selasa, 14 Juli 2026 | 07:07 WIB

Problem Suplai Batubara PLN Belum Tuntas

Pengusaha Batubara meminta target pasokan batubara ke PLN sejalan persetujuan RKAB dan kemampuan penambang

Likuiditas Bank Kecil Semakin Ketat
| Selasa, 14 Juli 2026 | 06:50 WIB

Likuiditas Bank Kecil Semakin Ketat

Gelombang tekanan likuiditas mulai menguji ketahanan bank-bank kecil. Ini terlihat dari DPK bank KBMI 1 yang mengalami penyusutan.

 Dividen Saham Masih Beri Imbal Hasil Lebih Unggul dari Deposito
| Selasa, 14 Juli 2026 | 06:30 WIB

Dividen Saham Masih Beri Imbal Hasil Lebih Unggul dari Deposito

Selisih imbal hasil makin lebar: deposito hanya memberi sekitar 3,6% bersih, sedangkan sejumlah saham menawarkan yield di atas 10%

Ekspansi Toko Jadi Amunisi PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)
| Selasa, 14 Juli 2026 | 06:30 WIB

Ekspansi Toko Jadi Amunisi PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mengoptimalkan ruang ritel yang ada seiring penambahan gerai baru untuk menjaga pendapatan

Perbankan Menimbun Dana di Instrumen SRBI
| Selasa, 14 Juli 2026 | 06:30 WIB

Perbankan Menimbun Dana di Instrumen SRBI

SRBI kembali jadi incaran bank. Saat kredit swasta melambat, instrumen BI menawarkan tempat aman untuk mengoptimalkan likuiditas.

Rupiah Masih Akan Tertekan Eskalasi Perang pada Selasa (14/7)
| Selasa, 14 Juli 2026 | 06:15 WIB

Rupiah Masih Akan Tertekan Eskalasi Perang pada Selasa (14/7)

Rupiah melemah di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. 

Rapor Reksadana Offshore Terangkat Saham Bertema AI
| Selasa, 14 Juli 2026 | 06:00 WIB

Rapor Reksadana Offshore Terangkat Saham Bertema AI

Return reksadana saham offshore berdenominasi dolar AS disokong pertumbuhan kinerja saham-saham teknologi global.

INDEKS BERITA

Terpopuler