Bobby Gafur Jual Saham OASA, Sinyal Apa untuk Pasar?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi jual saham oleh pengendali PT Mahakarsa Biru Energi Tbk (OASA), yakni Bobby Gafur, memancing analisa pemerhati pasar.
Berdasarkan keterangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Bobby Gafur menjual sebanyak 34,27 juta saham OASA pada 17 September 2026 dengan tujuan realokasi investasi. Dia melepasnya pada harga Rp 250.
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Bobby Gafur di OASA turun menjadi sekitar 2,03 miliar saham atau 32,01%, dari sebelumnya 2,06 miliar saham atau setara 32,55%.
Sebelumnya, per 6 Agustus 2026 lalu, Bobby Gafur juga mengurangi kepemilikannya di OASA. Pada periode tersebut, dia tercatat melepas sebanyak 57,12 juta lembar saham OASA dengan harga Rp 310.
Aksi tersebut memang tidak serta-merta menunjukkan adanya perubahan fundamental di OASA, tetapi hal ini menjadi lebih sensitif karena terjadi di saat pasar berada dalam tren penurunan.
Baca Juga: OASA Menggarap Tiga Proyek Sampah
Sebagai gambaran saja, per Rabu (23/9), sebulan belakangan saham OASA telah melemah 14,11% ke Rp 280. OASA pun sebenarnya masih menguat dalam rentang harian dan mingguan masing-masing sebesar 0,72% dan 2,19% dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 1,77 triliun.
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, dari sisi besaran, aksi jual tersebut relatif kecil. Penurunan kepemilikan dari 32,55% menjadi 32,01% hanya sekitar setengah persen sehingga tambahan pasokan saham ke pasar dinilai belum material.
“Magnitudenya kecil, kepemilikan turun dari 32,55% ke 32,01%, hanya sekitar setengah persen, jadi pasokan tambahannya tidak material,” ujar Wafi kepada KONTAN, Rabu (23/9)
Walau begitu, menurut dia, dampak psikologis dari transaksi tersebut justru dapat lebih besar dibandingkan dampak teknisnya. Pasalnya, investor cenderung menganggap pengendali sebagai pihak yang memiliki pemahaman paling dekat terhadap kondisi dan prospek perusahaan.
Oleh karena itu, aksi penjualan sekecil apa pun berpotensi ditafsirkan sebagai berkurangnya keyakinan pengendali terhadap saham atau prospek perseroan, terutama ketika harga saham sedang berada dalam tren turun. Padahal, alasan yang disampaikan dalam transaksi tersebut adalah realokasi investasi.
Wafi menilai alasan tersebut pada dasarnya masih tergolong wajar karena dapat berkaitan dengan diversifikasi portofolio atau kebutuhan menempatkan modal pada aset lain.
“Alasan realokasi investasi wajar, tapi di tengah tren turun pasar cenderung menafsirkan lebih negatif,” imbuh Wafi.
