Bos The Fed Menilai Sudah Waktunya Pangkas Nilai Stimulus, Bunga Belum Perlu Diubah

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 15:20 WIB
Bos The Fed Menilai Sudah Waktunya Pangkas Nilai Stimulus, Bunga Belum Perlu Diubah
[ILUSTRASI. Televisi di lantai bursa New York menyiarkan pengumuman Pimpinan Federal Reserve Chair Jerome Powel,AS, 22 September 2021. REUTERS/Brendan McDermid]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell, Jumat (23/10), menyatakan otoritas moneter di Amerika Serikat (AS) itu harus memulai proses mengurangi dukungannya terhadap ekonomi dengan mengurangi pembelian asetnya. Namun The Fed tidak boleh menyentuh tombol suku bunga.

“Saya pikir sudah waktunya untuk mengurangi. Namun, saya tidak berpikir ini saatnya untuk menaikkan suku bunga," kata Powell dalam penampilan virtual sebelum konferensi. Ia mengingatkan pekerjaan di AS saat ini masih lima juta lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah di masa prapandemi.

Dia juga menegaskan kembali pandangannya bahwa inflasi yang tinggi kemungkinan akan mereda tahun depan karena tekanan dari pandemi memudar. “Kami pikir kami bisa bersabar dan membiarkan pasar tenaga kerja pulih,” ujar dia.

The Fed telah berjanji untuk mempertahankan bunga overnight, yang menjadi acuan, di kisaran mendekati 0% sampai ekonomi kembali ke lapangan kerja penuh dan inflasi menyentuh serta bertahan untuk beberapa waktu di batas tertinggi yang ditetapkan bank sentral, yaitu 2%.

Baca Juga: Bos The Fed: Terlalu prematur untuk menaikkan bunga meski inflasi AS masih tinggi

Powell menilai sangat mungkin target full employment tercapai di tahun depan. Asalkan, kendala rantai pasokan mereda seperti yang diharapkan dan sektor jasa dibuka lebih penuh. Kenaikan lowongan kerja melambat tajam pada Agustus dan September karena kasus Covid-19 melonjak.

Namun, itu bukan kepastian. Dan jika inflasi, yang sudah lebih tinggi dan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan semula, bergerak semakin ke atas, The Fed pasti akan bertindak, katanya.

"Kebijakan kami diposisikan dengan baik untuk mengelola berbagai hasil yang masuk akal," tambah Powell. "Kita perlu memperhatikan, dan mengawasi dengan cermat, dan melihat apakah ekonomi berkembang sesuai dengan harapan kita, dan menyesuaikan kebijakan yang sesuai."

Pernyataan itu tampaknya membuka pintu bagi kemungkinan yang ditakuti The Fed: perlu menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi agar tidak lepas kendali dan, dengan melakukan itu, memperpendek pemulihan pekerjaan.

Powell mengatakan dia tidak melihat urgensi itu dalam situasi sekarang. Tetapi dia melihat ketegangan yang meningkat antara dua mandat Fed tentang pekerjaan penuh dan harga yang stabil.

"Risikonya jelas sekarang untuk kemacetan yang lebih lama dan lebih persisten dan, dengan demikian, inflasi yang lebih tinggi," katanya. Untuk saat ini, The Fed perlu "memeriksa" inflasi yang tinggi itu, meskipun itu berarti bagi rumah tangga yang harus membayar lebih untuk gas dan makanan, untuk memberi waktu bagi ekonomi untuk mengatasi kekusutan pasokan.

The Fed telah mengisyaratkan kemungkinan untuk mengurangi pembelian bulanan obligasi Treasury dan sekuritas berbasis hipotek bernilai US$ 120 miliar mulai bulan depan

Sekitar setengah dari pembuat kebijakan Fed percaya kenaikan suku bunga perlu dilakukan pada tahun 2022. Beberapa menyarankan itu mungkin harus dilakukan pada musim panas.

Baca Juga: Dolar AS perkasa, rupiah melemah 0,34% dalam sepekan

Setengah lainnya dari penentu suku bunga AS melihat kenaikan suku bunga tidak sesuai sampai tahun 2023, dan salah satunya - Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari - bertahan untuk tahun 2024.

Tetapi data baru-baru ini tampaknya sejalan dengan pandangan mereka yang mendorong kenaikan biaya pinjaman sebelumnya.

Harga konsumen telah meningkat lebih dari dua kali target Fed.

Dan, Powell mencatat, "kendala pasokan dan inflasi yang meningkat kemungkinan akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya dan hingga tahun depan, dan hal yang sama berlaku untuk tekanan pada upah."

Namun, katanya, kasus yang paling mungkin adalah tekanan inflasi mereda dan pertumbuhan pekerjaan untuk melanjutkan langkahnya dari musim panas lalu.

Untuk saat ini, The Fed akan mengawasi dan menunggu, kata Powell.

Selanjutnya: Negara Anggota G7 Mencapai Kesepakatan Perdagangan Berbasis Digital dan Data

 

Bagikan

Berita Terbaru

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank
| Senin, 30 Maret 2026 | 09:15 WIB

Sinyal Bahaya Mengintai! Efek Jeda Suku Bunga BI 4,75% Berpotensi Menjerat Laba Bank

Masyarakat cenderung makin berhati-hati dalam mengambil komitmen pembiayaan jangka panjang, seperti KPR dan KKB.

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:30 WIB

Perluas Segmen OEM dan Baterai EV, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham DRMA

Mandiri Sekuritas memproyeksikan laba bersih 2026 DRMA bakal terbang sekitar 23,46% menjadi di kisaran Rp 805 miliar.

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:03 WIB

Menengok Potensi Sektor Saham di Kuartal Kedua

Memasuki kuartal II-2026, pundak investor dalam negeri menanggung sentimen negatif. Sentimen apa saja yang harus diawasi market?

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife
| Senin, 30 Maret 2026 | 08:00 WIB

Saham BRMS Mulai Bangkit, Disengat Aksi Borong Blackrock, Vanguard Hingga Manulife

Laba bersih PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada 2026 diperkirakan mampu melonjak ke angka US$ 94 juta.

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:43 WIB

Tekanan Jual, Rupiah Loyo dan Sentimen Global, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini

Kenaikan harga minyak mentah dan gas alam menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran  supply serta dampak kenaikan harga energi ke inflasi

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:30 WIB

Harga Batubara Membara! Asing Guyur Ratusan Miliar ke Saham AADI, BUMI, ITMG dan PTBA

Harga batubara menguat tajam di atas US$ 140 per ton pada Jumat pekan lalu, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2024.

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:22 WIB

Awal Pekan: Persepsi Risiko Jelek, Rupiah Jeblok, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari faktor domestik, persepsi terhadap risiko fiskal, kenaikan CDS dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pemberat bursa saham.

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:12 WIB

Gadai Ramai, Kredit Tetap Landai

Permintaan gadai naik untuk memenuhi kebutuhan saat Ramadan dan Lebaran.                                 

Asuransi Rangka Kapal Diproyeksi Tumbuh Moderat Tahun Ini
| Senin, 30 Maret 2026 | 07:00 WIB

Asuransi Rangka Kapal Diproyeksi Tumbuh Moderat Tahun Ini

Asuransi marine hull diprediksi tumbuh moderat di 2026, didorong kebutuhan armada baru, meski risiko global dan klaim tinggi tetap mengintai

Ekspansi Pelat Merah Dorong Kredit Sindikasi Melesat
| Senin, 30 Maret 2026 | 06:45 WIB

Ekspansi Pelat Merah Dorong Kredit Sindikasi Melesat

​Kredit sindikasi melonjak di kuartal I-2026, tapi mayoritas mengalir ke BUMN, menegaskan hanya pelat merah yang berani ekspansi proyek jumbo

INDEKS BERITA

Terpopuler