Budi Muljono: Investasi Bukan Sekadar Kejar Cuan

Sabtu, 18 Mei 2019 | 08:02 WIB
Budi Muljono: Investasi Bukan Sekadar Kejar Cuan
[]
Reporter: Aloysius Brama | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. "Buy and forget!"  Ungkapan ini tepat menggambarkan moto Budi Muljono dalam berinvestasi. Lelaki yang kini menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Kino Indonesia Tbk (KINO) ini mengaku, motivasi awalnya menjajal langsung instrumen saham bukanlah untuk mengejar keuntungan jangka pendek.

Perkenalan Budi pertama kalinya dengan investasi dan saham terjalin semenjak dirinya duduk di bangku kuliah. Maklum, kala itu dia menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi Manajemen di Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Budi semakin memahami seluk beluk investasi dan saham ketika dia mengambil pendidikan S2 untuk program business administration di Universitas St. Louis, Amerika Serikat.

Namun, Budi baru benar-benar bersentuhan langsung dengan investasi, terutama saham, ketika dirinya meniti karier sebagai corporate finance di perusahaan properti PT Surya Semesta Internusa Tbk.

"Awal perkenalan saya dengan saham secara riil akhirnya terjalin melalui rekan di tempat saya bekerja dahulu," kenang Budi.

Dari situ, pandangannya mengenai investasi saham berubah. Dahulu, ia melihat para investor saham hanya sekadar ikut-ikutan dalam mengambil keputusan investasi. Namun dari koleganya tadi, ia jadi tahu cara lain dalam berinvestasi saham.

"Kolega saya mengarahkan, bila mau investasi saham, jangan sekadar ikut-ikutan. Tapi harus mempelajari betul secara menyeluruh," kata pria yang resmi menjabat sebagai Direktur Keuangan KINO pada 23 Mei 2018 lalu ini.

Investasi nilai

Kata kunci mempelajari lantas menjadi daya tarik yang tak bisa dihindari oleh Budi. Saya sangat tertarik mempelajari hal-hal baru, termasuk belajar saham, jelas dia.

Budi akhirnya mengikuti cara investasi koleganya tersebut, yakni cara yang oleh banyak orang dikenal dengan istilah investasi nilai (value investing).

Untuk itu, ia harus mendalami semua aspek sebelum terjun langsung membeli saham suatu perusahaan. Bukan hanya dari segi profil dan kinerja keuangan emiten yang akan ia pilih, namun juga melihat bagaimana prospek sektor perusahaan tersebut secara keseluruhan.

"Saya pindai secara komprehensif bagaimana prospek ekonomi global dan domestik ke depan, bagaimana dampaknya terhadap sektor-sektor yang perusahaannya ingin saya pilih," papar Budi.

Setelah itu, dia baru mulai memilah perusahaan mana di sektor tersebut yang masih memiliki valuasi saham murah. "Dengan cara tersebut, beberapa tahun lalu, saya melihat bahwa beberapa sektor penunjang infrastruktur dan konstruksi akan mengalami kinerja yang bagus seiring dengan program pembangunan pemerintah," kisah Budi sambil tertawa.

Meski begitu, Budi juga mengakui pernah membuat perhitungan yang salah. Ketika penurunan harga minyak dunia terjadi, ia memperkirakan kinerja emiten di sektor transportasi, terutama pesawat, bisa membaik.

"Tapi ternyata saya salah perhitungan. Penurunan minyak itu tidak terlalu berpengaruh ke sektor penerbangan karena harga bahan bakar pesawat di maskapai itu memakai sistem hedging," tutur dia. Dari situ Budi paham setiap bisnis memiliki logikanya masing-masing.

Kini Budi mengoleksi saham beberapa perusahaan yang bergerak di sejumlah sektor usaha, seperti infrastruktur, konstruksi, agrobisnis dan transportasi.

Budi mengatakan, dalam berinvestasi, dirinya bukanlah tipe imvestor yang agresif. "Saya tipikal yang lebih bisa menahan diri. Misal dari alokasi uang, penghasilan saya akan digunakan dulu untuk keperluan primer. Setelahnya baru saya investasikan," tutur Budi.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Menanti Hukuman Tegas bagi Pembakar Lahan
| Jumat, 11 September 2026 | 06:22 WIB

Menanti Hukuman Tegas bagi Pembakar Lahan

Inpres 11/2026 mengatur bahwa pembukaan lahan untuk kepentingan kearifan lokal harus memenuhi beberapa persyaratan.

Menanti Hukuman Tegas bagi Pembakar Lahan
| Jumat, 11 September 2026 | 06:22 WIB

Menanti Hukuman Tegas bagi Pembakar Lahan

Inpres 11/2026 mengatur bahwa pembukaan lahan untuk kepentingan kearifan lokal harus memenuhi beberapa persyaratan.

Menyoal Untung Rugi Program 200 Juta Rekening Baru
| Jumat, 11 September 2026 | 06:20 WIB

Menyoal Untung Rugi Program 200 Juta Rekening Baru

Pemerintah menargetkan pembukaan 200 juta rekening baru lewat BRI dan BSI, tapi efektivitas dan risiko rekening pasif jadi sorotan.

Harga Minyak Terus Merangkak Naik
| Jumat, 11 September 2026 | 06:15 WIB

Harga Minyak Terus Merangkak Naik

 Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) di pasar spot melampaui US$ 97 per barel pada Kamis (10/10).

Risiko Aturan Populis
| Jumat, 11 September 2026 | 06:10 WIB

Risiko Aturan Populis

Tanpa aturan yang khusus tentang perampasan aset, seharusnya negeri ini sudah bisa terbebas dari korupsi.

Bakal Jalankan Program Pembukaan Rekening Gratis, Bagaimana Efeknya ke BBRI dan BRIS?
| Jumat, 11 September 2026 | 06:07 WIB

Bakal Jalankan Program Pembukaan Rekening Gratis, Bagaimana Efeknya ke BBRI dan BRIS?

Analis menyebut penunjukkan BBRI dan BRIS ini tidak akan memiliki efek besar terhadap prospek kedua perbankan tersebut.

Menguji Kesiapan Industri Penuhi TKDN EV 60%
| Jumat, 11 September 2026 | 06:06 WIB

Menguji Kesiapan Industri Penuhi TKDN EV 60%

Industri komponen lokal pada dasarnya siap memasok kebutuhan kendaraan listrik, terutama untuk komponen di luar powertrain.

Demi Menjaga Likuiditas, BI Rem Lelang SRBI
| Jumat, 11 September 2026 | 06:00 WIB

Demi Menjaga Likuiditas, BI Rem Lelang SRBI

Pengurangan lelang SRBI memberi ruang likuiditas lebih besar bagi perbankan domestik.                   

Ekspansi Kerjasama dan Layanan Jadi Andalan Medikalola Hermina Tbk (HEAL)
| Jumat, 11 September 2026 | 06:00 WIB

Ekspansi Kerjasama dan Layanan Jadi Andalan Medikalola Hermina Tbk (HEAL)

PT Medikalola Hermina Tbk (HEAL) menargetkan porsi pendapatan lebih seimbang antara pasien BPJS dan non BPJS

Investasi Dana Pensiun Mulai Berbalik Arah
| Jumat, 11 September 2026 | 05:50 WIB

Investasi Dana Pensiun Mulai Berbalik Arah

OJK mencatat industri dapen mengantongi Return on Investment (ROI) sebesar 0,95% pada bulan Juli 2026. 

INDEKS BERITA

Terpopuler