Bunga Naik, Asing Hengkang dari SBN

Senin, 25 April 2022 | 03:35 WIB
Bunga Naik, Asing Hengkang dari SBN
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren keluarnya aliran dana asing dari pasar surat berharga negara (SBN) kembali berlanjut. Padahal pada pekan pertama April investor asing masih gencar belanja SBN hingga Rp 8,9 triliun. Total kepemilikan investor asing di SBN Rp 857,23 triliun hingga 7 April.

Namun, selepas itu, investor asing kembali melepas kepemilikannya. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), per 21 April, jumlah kepemilikan asing di SBN tinggal senilai Rp 843,82 triliun. Artinya, sejak 7 April, tercatat outflow sebesar Rp 13,41 triliun. 

Bahkan, jika dihitung sejak akhir tahun 2021, aliran dana investor asing yang keluar dari pasar SBN sudah mencapai Rp 47,52 triliun. Efeknya porsi kepemilikan investor asing di SBN pun ikutan menciut dari 19,05% pada akhir tahun 2021 menjadi hanya 17,37% per 21 April 2022.

Baca Juga: Antisipasi Kenaikan Suku Bunga, Outflow di Pasar SBN Masih Berlanjut

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengungkapkan, inflow yang terjadi pada awal bulan April lebih disebabkan kondisi global yang sempat bersahabat dengan pasar emerging market. Alhasil, investor asing mulai ambil posisi lagi di pasar SBN. 

Sayangnya,  pasar kembali diterpa rencana The Fed menaikkan suku bunga lebih agresif dari proyeksi semula.

Portfolio Manager Sucorinvest Asset Management Gama Yuki berpendapat, outflow yang terjadi merupakan antisipasi investor asing menghadapi suku bunga serta inflasi di 2022. "Kenaikan suku bunga dan inflasi tidak disukai investor obligasi, sehingga investor keluar dari safe instrument yaitu obligasi dan pindah ke instrumen berisiko seperti saham," pendapat Gama, Jumat (22/4).

Ramdhan berpendapat, keluarnya investor asing juga akibat US Treasury menjanjikan imbal hasil lebih menarik. Akibatnya, investor asing memilih US Treasury yang yield-nya terus naik dalam beberapa waktu terakhir. Menurut dia, saat ini jumlah investor asing yang beralih ke pasar saham sebenarnya tidak terlalu banyak. 

Pasalnya, secara karakteristik, kedua instrumen tadi sangat berbeda. Jadi, investor obligasi lebih memilih beralih ke US Treasury ketika terjadi ketidakpastian di pasar global. Sementara investor asing yang memiliki karakteristik agresif mayoritas masuk ke pasar saham. 

Baca Juga: Pekan Ketiga April 2022, Arus Modal Asing Masuk Rp 450 Miliar

Volatilitas terjaga

Ramdhan yakin yield US Treasury berpotensi terus naik sembari menunggu kepastian sikap The Fed soal kenaikan suku bunga acuan. Menurut Ramdhan, kondisi ini akan berlangsung hingga akhir semester I-2022 atau pertengahan kuartal III-2022. Alhasil, selama periode tersebut, Ramdhan melihat, investor asing belum akan kembali masuk ke pasar SBN. 

Tapi di sisi lain, potensi outflow dana asing akan cenderung terbatas karena saat ini asing yang berada di SBN merupakan tipe investor dengan horizon investasi jangka panjang. "Saat ini, praktis yang menjaga stabilitas pasar SBN adalah investor domestik serta Bank Indonesia melalui private placement. Itulah mengapa pelemahan yield SBN cenderung pelan," imbuh Ramdhan. 

Gama juga berpendapat, ke depan pasar obligasi akan lebih terjaga, terutama dalam jangka panjang. Yield akan lebih stabil setelah porsi asing menipis. Dia juga bilang saat ini porsi investor asing bertipe trader di pasar obligasi semakin kecil dibanding investor asing dengan horizon jangka panjang. 

Karena itu Gama yakin jika pasar SBN dalam negeri akan kembali membaik. Apalagi, fundamental Indonesia solid.  

Sementara dari sisi yield, Gama menuturkan, real yield Indonesia juga masih menarik dibandingkan negara lain yang memiliki posisi peringkat utang sama. Tambah lagi, yield SBN masih lebih menarik jika dibandingkan dengan instrumen investasi lain, seperti deposito.

Ramdhan menyebut, yield SBN saat ini tengah mencari titik keseimbangan baru. Titik tersebut baru bisa akan terlihat ketika The Fed sudah memberi kepastian berapa kali menaikkan bunga acuan.

Baca Juga: Warga Rusia Panik, Tarik Mata Uang Asing dari Bank Rp 140,6 Triliun pada Maret

"Ketika semuanya sudah kembali stabil, SBN masih punya real yield yang menarik. Ditambah lagi dengan yield SUN tenor 10   yang saat ini berada di kisaran 6,8%-6,9%, akan membuat SBN punya prospek yang menarik sebagai pilihan investor asing," ujar Ramdhan.  

Bagikan

Berita Terbaru

Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati
| Selasa, 21 April 2026 | 15:50 WIB

Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Saham Migas yang Layak Dicermati

Berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran pada 22 April 2026 berpotensi menjadi game changer arah sektoral di pasar saham.

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?
| Selasa, 21 April 2026 | 09:35 WIB

Asing Kabur Terus dari Pasar Saham, Mampukah Likuiditas Domestik Menyelamatkan IHSG?

IHSG Belum berpijak pada fondasi yang kokoh, melainkan masih rentan karena sekadar bergantung pada perputaran likuiditas yang tersisa.

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat
| Selasa, 21 April 2026 | 08:31 WIB

Menyelisik Jejak Pengendali Baru BIKE, Dimiliki Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat

Pemegang saham mayoritas PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE) punya track record buruk di saham MENN.

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!
| Selasa, 21 April 2026 | 08:05 WIB

Pendapatan Turun dan Rugi Bengkak Rp 5,4 T, Anak Usaha ADHI Kini Hadapi Gugatan PKPU!

Jerat PKPU yang membelit anak usaha ADHI merupakan manifestasi dari tekanan likuiditas sistemik yang menghantui BUMN Karya.

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela
| Selasa, 21 April 2026 | 07:43 WIB

Indointernet (EDGE) Go Private, Pengendali Tawarkan Tender Sukarela

Harga penawaran tender sukarela Rp 11.500 per saham. Nilai ini mencerminkan premi 141,2%, di atas rata-rata harga tertinggi selama 90 hari.

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue
| Selasa, 21 April 2026 | 07:38 WIB

Kantongi Restu RUPS, Wahana Interfood (COCO) Bakal Menggelar Rights Issue

Aksi rights issue akan digelar COCO usai mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Jumat, (17/4).​

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit
| Selasa, 21 April 2026 | 07:32 WIB

Eksekusi Proyek Pembangkit, Kinerja PGEO bisa Terungkit

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mulai mengeksekusi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 4.

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi
| Selasa, 21 April 2026 | 07:26 WIB

Tahun 2025, Kinerja Emiten Jasa Konstruksi Bervariasi

Jika ditelisik, kinerja emiten konstruksi swasta, baik dari sisi top line maupun bottom line lebih unggul dibandingkan emiten BUMN karya.

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas
| Selasa, 21 April 2026 | 07:06 WIB

Ketika BEI Butuh Penyedia Likuiditas Agar Bursa Berkualitas

BEI mengklaim, liquidity provider dapat meningkatkan kualitas perdagangan melalui penyempitan bid-ask spread.

 Menakar Plus Minus Bila OJK Didanai APBN
| Selasa, 21 April 2026 | 07:05 WIB

Menakar Plus Minus Bila OJK Didanai APBN

​Wacana pendanaan OJK dari APBN menggantikan iuran industri menuai sorotan, dinilai berisiko memicu intervensi politik 

INDEKS BERITA

Terpopuler