Bunga Naik, Ini Pilihan Investasi yang Tepat

Senin, 20 Juni 2022 | 04:35 WIB
Bunga Naik, Ini Pilihan Investasi yang Tepat
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada pekan lalu membawa tren bunga acuan global naik. Sebab tak berselang lama, bank sentral lainnya ikut menaikkan bunga acuan masing-masing. 

Di Indonesia, karena inflasi domestik masih terjaga, maka Bank Indonesia diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga acuan. Namun, cepat atau lambat, BI tentu akan mengikuti.

CEO Edvisor.id Praska Putrantyo mengatakan, efek kenaikan suku bunga The Fed ini akan membuat pasar saham dan obligasi cenderung tertekan dalam jangka pendek. "Rupiah pun melemah menembus Rp 14.800 per dollar AS sembari menanti kebijakan bunga acuan BI di tengah inflasi tahunan domestik 3,55% per Mei 2022," kata dia.

Baca Juga: Ini Tips bagi Milenial untuk Mengatur Keuangan dari OK Bank

Kalau menurut Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, selama kenaikan bunga The Fed tidak lebih dari 2% di tahun ini, maka dampaknya ke pasar obligasi akan terukur. Namun, jika ternyata lebih dari 2%, maka asumsi yield wajar obligasi Indonesia akan berubah. 

"Pasar saham seharusnya jauh lebih baik karena mengacu kinerja keuangan dan pemulihan aktivitas ekonomi," kata Rudi, Jumat (17/6).

Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menyebut, kebijakan fiskal dan moneter Indonesia pun mendukung untuk meredam gejolak eksternal. Menurut dia, ke depan sentimen yang harus diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya resesi di Amerika Serikat. Jika sampai terjadi, maka arah bunga berubah menjadi lebih tidak agresif seperti saat ini

Selain itu, perang Rusia-Ukraina juga harus dipantau, karena berpengaruh pada harga minyak dunia. Jika kembali menembus US$ 120 per barel, maka inflasi tinggi berlanjut. 

Investasi di pasar uang

Baca Juga: Jumlah Nasabah Tajir Bank Mandiri Naik 7% hingga Bulan Lalu

Praska menyebut, meski dalam jangka pendek pasar saham dan SBN tertekan, tapi di jangka menengah tekanan akan melandai, karena pasar lebih mengacu pada kinerja keuangan. "Sementara pasar uang akan diuntungkan karena bunga instrumen pasar uang, seperti deposito bank, akan naik," imbuh dia.  

Karena itu, Praska menyebut, berinvestasi di obligasi korporasi yang memiliki rating minimal A dan fundamental serta likuiditas kuat bisa jadi alternatif. SBN tenor di bawah 10 tahun juga menarik karena fluktuasi rendah. 

Bagi investor saham, Praska menyarankan saham yang diuntungkan dengan pemulihan ekonomi serta saham siklikal bisa jadi pilihan. Seperti, saham perbankan, barang konsumen, ritel, dan energi. Racikan Praska, investor bisa menempatkan 20% investasi di instrumen pasar uang, 30% di SBN tenor di bawah 10 tahun, 20% di obligasi korporasi dan di saham 30%. 

Rudiyanto juga menyarankan reksadana dollar AS. Sebab secara historis, dollar AS menjadi diversifikasi pada kinerja IHSG. Dollar AS juga berpotensi menguat ketika IHSG turun, sehingga investor bisa mendapatkan keuntungan dari selisih kurs. Kalau Reza menyarankan di pasar uang 50%, 20% di saham, dan 30% instrumen lain.   

Baca Juga: Hadapi Tren Kenaikan Suku Bunga, Simak Rekomendasi Susunan Portofolionya

Bagikan

Berita Terbaru

Membuka Jalan Perempuan di Industri Jasa Kelistrikan
| Sabtu, 07 November 2026 | 22:22 WIB

Membuka Jalan Perempuan di Industri Jasa Kelistrikan

Schneider Electric membuka akses bagi perempuan untuk ikut menguasai keterampilan teknisi listrik. Hasilnya, sejak 2024,

Pilih Emas hingga Kripto, Begini Strategi Investasi Dirut OSL Indonesia Ivan Arilito
| Sabtu, 07 November 2026 | 10:27 WIB

Pilih Emas hingga Kripto, Begini Strategi Investasi Dirut OSL Indonesia Ivan Arilito

Ivan Arilito, Direktur Utama OSL Indonesia mengalokasikan sekitar 50% investasinya pada instrumen konvensional atau aset fisik, termasuk emas

Bisnis Pelayaran Masih Menjanjikan, SMDR Agresif Tambah Kapal Baru
| Sabtu, 07 November 2026 | 10:22 WIB

Bisnis Pelayaran Masih Menjanjikan, SMDR Agresif Tambah Kapal Baru

Di tengah dinamika perdagangan global dan ketidakpastian geopolitik, PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) bersiap memperbesar kapasitas bisnisnya. 

TOTL Sebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar Rp 136,4 Miliar
| Sabtu, 07 November 2026 | 08:17 WIB

TOTL Sebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar Rp 136,4 Miliar

Dasar pembagian dividen data keuangan per 30 September 2026. Di periode ini, TOTL mengantongi pendapatan usaha Rp 3,51 triliun, naik 26,10% YoY. ​

Penjualan Melejit Tiga Digit, AMMN Membalikkan Kerugian Menjadi Laba
| Sabtu, 07 November 2026 | 08:13 WIB

Penjualan Melejit Tiga Digit, AMMN Membalikkan Kerugian Menjadi Laba

Di periode Januari-September 2026, AMMN mencetak laba bersih sebesar US$ 880 juta, berbalik dari rugi US$175 juta di per September 2025.​

Kinerja Emiten Kawasan Industri Masih Bertaji
| Sabtu, 07 November 2026 | 08:08 WIB

Kinerja Emiten Kawasan Industri Masih Bertaji

Pertumbuhan kinerja emiten kawasan industri di sepanjang sembilan bulan tahun 2026 ditopang penjualan lahan ke sektor data center.

PT Timah (TINS) Mendulang Laba Bersih Lebih Banyak
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:46 WIB

PT Timah (TINS) Mendulang Laba Bersih Lebih Banyak

Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih TINS mencapai Rp 4,12 triliun, meroket 584% secara tahunan.

Pilihan SBN Ritel Terbaru untuk Dana Dingin di Akhir Tahun
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:30 WIB

Pilihan SBN Ritel Terbaru untuk Dana Dingin di Akhir Tahun

ST017 menawarkan kupon 6,95% untuk tenor dua tahun dan kupon 7,05% untuk tenor empat tahun di akhir tahun ini. 

Pergerakan Rupiah Sepekan Ini Tertopang Data PDB
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:15 WIB

Pergerakan Rupiah Sepekan Ini Tertopang Data PDB

Rupiah di pasar spot tutup di level Rp 18.089 per dolar AS pada Jumat (6/11), turun tipis 0,04% secara harian, namun menguat 0,32% dalam sepekan

Jebakan Free Float
| Sabtu, 07 November 2026 | 06:10 WIB

Jebakan Free Float

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), per Oktober 2026 ada 328 emiten belum memenuhi ketentuan minimum free float 15%.

INDEKS BERITA

Terpopuler