Cuan Hanya Halusinasi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rabu kelabu. Kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyungsep hingga 7,35% ke 8.320,56. Lalu investor asing mencetak jual bersih alias net sell superjumbo hingga Rp 6,17 triliun.
"Kiamat" itu setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), acuan utama investor institusi dunia menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar modal Indonesia. MSCI selama ini menilai seberapa mudah investor asing masuk dan keluar dari sebuah pasar.
Penilaian itu tercermin dari tiga aspek utama. Pertama, foreign inclusion factor (FIF), yakni porsi saham yang dianggap MSCI benar-benar bisa dibeli investor asing.
Kedua, number of shares (NOS), mencerminkan saham yang benar-benar beredar dan aktif diperdagangkan. Ketiga, trading velocity band (TVB), aturan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membatasi harga saham naik atau turun dalam satu hari. MSCI menahan kenaikan FIF dan NOS serta tidak menambahkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes.
Yang gawat, jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI siap memangkas peringkat pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market alias sejajar Vietnam dan Filipina.
Efek keputusan MSCI itu mencerminkan minimnya perlindungan terhadap investor ritel. Kontan sering mengingatkan soal ini. Terutama saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di atas 9.000.
Pengamat pasar modal dan Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat pernah mengingatkan, keberadaan saham berkapitalisasi jumbo, tapi tidak likuid, menyebabkan IHSG kehilangan fungsi utama sebagai barometer pasar. IHSG tak mencerminkan arah pasar sesungguhnya.
Ketika Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR, awal Desember lalu, BEI malah berbicara rekor tertinggi baru alias all time high (ATH) sebanyak 22 kali sepanjang 2025 berjalan ini. Sambil menyebut, rekor itu saat Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya malah pernah menyebut, IHSG ke 9.000 baru awal dan akan naik terus. Menurutnya, kenaikan IHSG merupakan cerminan ekonomi. Padahal seperti Teguh bilang, IHSG kehilangan fungsi sebagai barometer pasar.
Benar, ATH tapi itu semu alias "halu". Jika tidak ada pembenahan mendasar, kisah ini akan terus berulang. IHSG, mencetak rekor baru dipuji sebagai simbol kebangkitan ekonomi. Sementara cuan bagi investor hanya halusinasi. Indah dipandang, sulit terwujud.
