Cukai Rokok Tahun Depan Berdampak Beragam Bagi Pelaku Bisnis Tembakau

Sabtu, 12 Desember 2020 | 07:40 WIB
Cukai Rokok Tahun Depan Berdampak Beragam Bagi Pelaku Bisnis Tembakau
[ILUSTRASI. Pebisnis tembakau iris merasa akan diuntungkan sedangkan petani menilai bakal dirugikan dengan adanya kebijakan cukai rokok 2021. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/wsj.]
Reporter: Muhammad Julian | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) bakal memberikan dampak beragam bagi industri rokok. Ada yang merasa diuntungkan tapi ada pula yang memperkirakan bakal dirugikan.

PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) menilai, kenaikan tarif cukai rokok pada 2021 justru akan mengungkit permintaan produk tembakau iris. Pasalnya, produknya bisa menjadi alternatif yang ekonomis bagi para perokok. "Harga-harga rokok terutama yang SKM (sigaret kretek mesin) itu akan naik lagi dan menjadi semakin mahal. Produk ITIC menjadi alternatif yang ekonomis bagi perokok, kata Djonny Saksono, Direktur Utama PT Indonesian Tobacco Tbk  kepada KONTAN, Jumat (11/12).

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

PBSA Berencana Melakukan Stock Split dengan Rasio 1:2
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:08 WIB

PBSA Berencana Melakukan Stock Split dengan Rasio 1:2

PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) berencana melakukan pemecahan saham alias stock split dengan rasio 1:2.

Dapat Restu RUPSLB, BRNA Siap Menggelar Rights Issue
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:04 WIB

Dapat Restu RUPSLB, BRNA Siap Menggelar Rights Issue

Harga pelaksanaan rights issue BRNA Rp 685 per saham. Dus, dari rights issue, BRNA berpotensi meraup dana maksimal sekitar Rp 372,6 miliar. 

Permintaan Ayam Menguat, Laba Emiten Unggas Masih Bisa Ngegas
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:58 WIB

Permintaan Ayam Menguat, Laba Emiten Unggas Masih Bisa Ngegas

Kuatnya permintaan pada kuartal IV-2026 jadi katalis positif kinerja keuangan emiten unggas di sisa tahun ini.

Energi Mega Persada (ENRG) Genjot Kinerja Melalui Pengembangan Aset dan Akuisisi
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Energi Mega Persada (ENRG) Genjot Kinerja Melalui Pengembangan Aset dan Akuisisi

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyiapkan ekspansi produksi migas secara organik melalui pengeboran lebih dari 120 sumur.​

Dibayangi Sentimen MSCI dan Nota Keuangan, IHSG Bergerak Terbatas
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:41 WIB

Dibayangi Sentimen MSCI dan Nota Keuangan, IHSG Bergerak Terbatas

Selain sentimen MSCI, pelaku pasar juga menunggu pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027 Jumat, (14/8)

Keputusan MSCI Bikin Bursa Indonesia Semakin Sepi
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:41 WIB

Keputusan MSCI Bikin Bursa Indonesia Semakin Sepi

MSCI mendepak 10 saham asal Indonesia dari daftar konstituennya. Dengan begitu, MSCI tetap melakukan pembekuan alias freeze pasar saham nasional.

Prospek Emiten EBT Masih Cerah
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:34 WIB

Prospek Emiten EBT Masih Cerah

Emiten EBT seperti BREN dan PGEO memiliki momentum yang relatif kuat, sehingga ruang pertumbuhan masih terbuka.​

INCO Memacu Pembangunan Smelter HPAL
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:32 WIB

INCO Memacu Pembangunan Smelter HPAL

Proyek HPAL membuat INCO jadi perusahaan dengan eksposur yang lebih luas terhadap rantai nilai nikel untuk baterai kendaraan listrik.

Pendapatan Masih Kuat, Prospek MIKA Semakin Sehat
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:25 WIB

Pendapatan Masih Kuat, Prospek MIKA Semakin Sehat

Hingga akhir semester I-2026, MIKA membukukan pendapatan sebesar Rp 2,77 triliun, tumbuh 8,01% secara tahunan atau year on year (yoy). 

Investor Asing Masih Bertahan di Instrumen Jangka Pendek BI
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Investor Asing Masih Bertahan di Instrumen Jangka Pendek BI

Selama imbal hasil SRBI tetap menarik dan ketidakpastian tinggi, investor asing mempunyai alasan untuk tetap memilih instrumen yang lebih pendek

INDEKS BERITA

Terpopuler