Pertumbuhan 5,61%
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menurut data resmi, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2026 mencapai 5,61%. Menteri keuangan bahkan menyatakan bahwa Indonesia telah lepas dari kutukan pertumbuhan 5%.
Namun, pasar keuangan tidak menyambut data positif ini dengan gegap gempita. Menurut data Bursa Efek Indonesia hingga 12 Mei 2026, indeks saham Indonesia mencatat kinerja terburuk di Asia Tenggara, Asia Pasifik, dan secara global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 22,25% sejak awal tahun. India yang memiliki indeks saham terburuk kedua setelah Indonesia, cuma mencatat penurunan 12,45%, sangat jauh dari penurunan IHSG.
Tak cuma pasar saham, instrumen surat berharga negara (SBN) pun mencatat kinerja yang buruk. Yield SBN terus naik, menunjukkan bahwa investor perlu imbal hasil yang tinggi karena menganggap risiko instrumen ini meningkat.
Menurut data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), imbal hasil surat utang negara jangka menengah hingga panjang hampir 7%. Kenapa tidak tembus angka ini?
Karena ada intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI). Kepemilikan BI pada SBN menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada April-Mei ini.
Dengan pembelian SBN di pasar sekunder, harga tidak akan turun terlalu tajam. Harga yang mentok di level tertentu akan menahan imbal hasil dari kenaikan yang jauh lebih tinggi. Ini juga terlihat pada kurva yield tenor 15 tahun ke atas yang cenderung horizontal.
Efek stabilisasi, porsi kepemilikan BI mencapai lebih dari 26% dari total SBN yang dapat diperdagangkan. BI kini menjadi pemegang terbesar SBN, jauh lebih tinggi ketimbang porsi bank sebesar 18% atau asing yang kini hanya kurang dari 13% dari total SBN yang dapat diperdagangkan.
Bahkan, pemerintah pun mengungkapkan niat untuk membentuk Bond Stabilization Fun (BSF) untuk stabilisasi pasar. Jika terbentuk, BSF ini menjadi seperti buyback SBN oleh pemerintah. Padahal, pemerintah sedang kembang kempis agar defisit fiskal tetap aman.
Efek lain pertumbuhan ekonomi tinggi pada kuartal pertama 2026, nilai tukar rupiah justru tumbang. Kurs rupiah terus mencatat rekor terburuk baru sejak Maret hingga Mei ini. Rupiah mencatat kinerja terburuk kedua setelah rupee India.
Di sektor riil, coba tanya tetangga Anda apakah pertumbuhan ekonomi tinggi ini mereka rasakan.
