Dana Kelolaan dan Kinerja Reksadana Sepanjang Tahun 2023

Sabtu, 25 November 2023 | 11:37 WIB
Dana Kelolaan dan Kinerja Reksadana Sepanjang Tahun 2023
[ILUSTRASI. Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta ]
Wawan Hendrayana | Vice President Infovesta

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa tahun terakhir, reksadana saham tertekan. Penyebabnya, tren kenaikan suku bunga dan krisis geopolitik. Hingga 23 November 2023 rata-rata reksadana saham membukukan kinerja year to date (ytd) tahun -4%. Di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 2%. 

Dengan kinerja di bawah IHSG, minat investor melakukan subscription turun. Terlihat dana kelolaan Rp 93,3 triliun di  Oktober 2023, menurun 12% year to date.

Salah satu pertimbangan memilih reksadana adalah dana kelolaa. Terdapat anggapan, semakin besar dana kelolaan, kinerja reksadana semakin kurang lincah. Dengan jumlah dana kelolaan semakin besar, kegiatan pengelolaan semakin pasif sehingga sulit membukukan  return tinggi. 

Dalam mengelola dana, umumnya manajer investasi menggunakan dua strategi. Yaitu strategi investasi aktif dan pasif.  Strategi investasi pasif adalah strategi buy and hold  pengelola berinvestasi pada sekelompok saham dengan bobot tertentu yang dianggap paling optimal dan berusaha mempertahankan komposisi tersebut dengan transaksi jual beli tidak terlalu aktif.  Strategi investasi aktif , pengelola secara kontinyu melakukan transaksi jual beli saham atau market timing. 

Pengelolaan reksadana merupakan gabungan strategi buy and hold dan market timing. Bobot penggunaan strategi di atas sangat tergantung  besarnya dana kelolaan. Umumnya semakin besar jumlah dana kelolaan, manajer investasi lebih menyukai strategi buy and hold dibanding market timing.

Baca Juga: Taktik Menata Portofolio Investasi di Tahun Politik

Alasannya, jika dana kelolaan besar, saham yang bisa ditransaksikan juga semakin terbatas. Umumnya yang dipilih adalah saham perusahaan besar (blue chip) dan likuid (ditransaksikan dalam volume yang besar). 

Saham tidak likuid, meskipun berfundamental bagus, harganya bisa anjlok tajam jika terjadi penjualan dalam jumlah signifikan. Maka, dihindari  manajer investasi yang memiliki jumlah dana kelolaan yang besar.

Sampai di sini, pernyataan  reksadana yang dana kelolaannya besar akan kurang lincah masih masuk akal. Bagaimana praktiknya di tahun ini? Bagaimana kinerja  reksadana dikelompokkan dari dana kelolaan nya? 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, dilakukan riset pada reksadana saham di Indonesia. Data yang dikumpulkan return year to date hingga 23 November 2023 untuk reksadana dengan rata-rata dana kelolaan di atas Rp 10 miliar. Dari klasifikasi tersebut terkumpul 256 reksadana saham Sellanjutnya riset dilakukan dengan memisahkan reksadana saham menjadi 4 kuartil. 

Dalam periode di atas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan kinerja 2%. Maka, kinerja semua kuartil reksadana secara rata-rata lebih buruk dari IHSG. 

Namun reksadana dengan dana kelolaan jumbo di atas Rp 1 triliun memiliki kerugian terkecil dibanding kuartil lain. Walau selalu ada reksadana di setiap kuartil  yang kinerjanya mengalahkan benchmark.

Berdasarkan hasil pengamatan di atas, maka di tahun 2023 reksadana saham dengan kisaran dana kelolaan di antara Rp 100 miliar – Rp 1 triliun memberikan kinerja paling baik dibanding kategori lainnya. Dari sisi unit penyertaan terlihat, hampir semua kuartil reksadana cenderung mengalami gelombang redemption, kecuali pada kuartil dana kelolaan di bawah Rp 100 miliar yang justru dapat tumbuh

Jika hasil ini menjadi referensi investor, bisa disimpulkan anggapan reksadana dengan dana kelolaan kecil akan lincah dan mengalahkan return reksadana dengan dana kelolaan besar ternyata tidak tepat di tahun 2023. 

Reksadana dana kelolaan jumbo justru diuntungkan dengan kenaikan pasar saham yang pada akhir tahun 2023 didominasi saham-saham berkapitalisasi besar. 

Berdasarkan data di atas investor lebih baik membeli reksadana dengan dana kelolaan yang besar yang terbukti lebih defensif dibanding dana kelolaan kecil.

Angka di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan bursa saham. Perlu diingat, kian tinggi potensi return selalu diikuti dengan potensi risiko tinggi. Investor tetap harus mempertimbangkan sejumlah faktor selain dana kelolaan dan return seperti risiko, tujuan dan jangka waktu investasi.                  

Bagikan

Berita Terbaru

XLSmart Merugi di Kuartal Pertama Usai Merger, Begini Gambaran Kinerja ISAT
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 14:00 WIB

XLSmart Merugi di Kuartal Pertama Usai Merger, Begini Gambaran Kinerja ISAT

PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), perusahaan gabungan XL Axiata dan Smartfren merugi usai resmi merger pada 17 April 2025.

Harga Terus Tergerus, Saham Alamtri Resources (ADRO) Dinilai Masih Menyimpan Potensi
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 13:00 WIB

Harga Terus Tergerus, Saham Alamtri Resources (ADRO) Dinilai Masih Menyimpan Potensi

Rencana PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memulai bisnis di bidang energi terbarukan menjadi salah satu katalis positif.

IHSG Tumbang 2%, BI Intervensi Rupiah yang Sempat Menembus Rp 16.500
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 12:06 WIB

IHSG Tumbang 2%, BI Intervensi Rupiah yang Sempat Menembus Rp 16.500

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,27% atau 180,81 poin menjadi 7771,28 pada akhir perdagangan sesi I hari ini, Jumat (29/8).

Perluasan Pasar Bikin Saham Pyridam Farma (PYFA) Melaju Kencang
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 12:00 WIB

Perluasan Pasar Bikin Saham Pyridam Farma (PYFA) Melaju Kencang

Akuisisi Probiotec dinilai sebagai momentum penting yang menandai transformasi PYFA menjadi bagian dari rantai pasok global.

Emiten Sawit Haji Isam Melesat ke ARA, Saatnya Hold atau Jual?
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 11:00 WIB

Emiten Sawit Haji Isam Melesat ke ARA, Saatnya Hold atau Jual?

Kamis (28/8), saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) kompak ditutup pada level auto reject atas (ARA).

Kinerja Saham Masih Tertatih, Indofood (INDF) Masih Direkomedasikan
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 09:28 WIB

Kinerja Saham Masih Tertatih, Indofood (INDF) Masih Direkomedasikan

Kinerja INDF masih terus ditopang oleh anak usahanya ICBP, dengan proyeksi kontribusi penjualan kepada INDF sebanyak 63% di tahun 2025.

Profit 28,19% Setahun, Cek Harga Emas Antam Hari Ini (29 Agustus 2025)
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:54 WIB

Profit 28,19% Setahun, Cek Harga Emas Antam Hari Ini (29 Agustus 2025)

Jumat (29 Agustus 2025) harga emas batangan di laman resmi Logam Mulia PT Aneka Tambang naik Rp 20.000 per saham.

Patriot Bond Tak Ganggu Anggaran Negara
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:40 WIB

Patriot Bond Tak Ganggu Anggaran Negara

Ada risiko ketidakpastian fiskal jika pasar menganggap adanya jaminan secara implisit dari negara terhadap utang Danantara

Jangkar Diangkat, Harga Saham HUMI dan MITI Melaju Kencang Bak di Lautan Tenang
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:38 WIB

Jangkar Diangkat, Harga Saham HUMI dan MITI Melaju Kencang Bak di Lautan Tenang

Prospek industri dan ekspansi yang digadang HUMI dan MITI ditengarai menjadi katalis yang mendorong harga sahamnya belakangan ini.

Belanja Kembali Tertahan Setelah Usai Libur Lebaran
| Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:19 WIB

Belanja Kembali Tertahan Setelah Usai Libur Lebaran

Ekonom perkirakan pertumbuhan konsumsi rumahtangga pada kuartal III-2025 cuma 4,9%, melambat dari periode sebelumnya         

INDEKS BERITA

Terpopuler