Danantara Garap 8 Proyek Waste to Energy, Simak Peluang CDIA, BIPI, BNBR, dan OASA
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danantara Indonesia melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) mantap melanjutkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tahap II dengan menggelontorkan investasi senilai Rp 18 triliun.
Pada tahap II ini, Danantara membidik delapan lokasi di Indonesia, yakni Medan Raya, Kabupaten Bekasi, Lampung, Serang, Semarang, Surabaya, Bogor Raya 2, dan Yogyakarta Raya.
CFO Denera Ramadan Harahap mengungkapkan dalam keterangan resminya bahwa indikasi awal komitmen pendanaan yang diterima telah melampaui US$ 4 miliar atau sekitar 3,6 kali kebutuhan pembiayaan yang ditargetkan.
Dukungan pendanaan tersebut berasal dari konsorsium yang mencakup 13 bank internasional, lembaga keuangan multilateral seperti Asian Development Bank (ADB), Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), Islamic Development Bank (IsDB), dan KfW, serta bank-bank Himbara dan perbankan komersial nasional. Tenor pinjaman yang ditawarkan mencapai 23 tahun.
Sebelum fase kedua ini bergulir, proyek PSEL atau Waste to Energy (WtE) tahap I telah lebih dulu memikat sejumlah emiten di lantai bursa. Pada tahap I, sejumlah emiten yang terlibat dalam proyek PSEL atau waste to energy (WtE) ini adalah PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA), dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).
TOBA, yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan batubara, kini mengubah fokus bisnisnya ke energi terbarukan hingga kendaraan listrik. Langkah perusahaan untuk masuk lebih dalam ke sektor pengelolaan sampah semakin terlihat setelah mengakuisisi Sembcorp Enviro.

Sementara itu, IMPC merupakan emiten kemasan plastik yang turut masuk ke bisnis pengelolaan sampah. Dibandingkan dengan TOBA, keterlibatan IMPC masih memiliki keterkaitan dengan bisnis lamanya karena plastik merupakan salah satu bahan yang dapat didaur ulang.
IMPC mengelola sampah melalui anak usahanya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI). SKI juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT CCEPC Indonesia untuk menjajaki pengembangan proyek WtE di Bali.
Dalam kerja sama tersebut, SKI berperan sebagai penyedia dukungan investasi, sedangkan CCEPC menangani aspek teknis sebagai kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC) sekaligus operator operation and maintenance (O&M). CCEPC juga menyatakan komitmennya untuk mendukung SKI secara eksklusif dalam setiap tender proyek WtE yang diikuti.
Selanjutnya, MHKI diketahui merupakan pengelola limbah di Bantargebang, Bekasi, dan tengah menyiapkan ekspansi pengelolaan sampah ke wilayah lain, seperti Lamongan, Jawa Timur.
Emiten tersebut memperoleh dukungan pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 4,95 miliar untuk memperkuat operasional dan mengembangkan teknologi pengolahan limbah yang lebih modern.
OASA juga aktif membangun proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), termasuk proyek di Jakarta Timur yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I-2028 serta proyek PLTSa Cipeucang di Tangerang Selatan dengan kapasitas 25 megawatt (MW).
OASA telah mengonfirmasi partisipasinya dalam lelang proyek WtE yang digarap Danantara. Perusahaan ini juga menjajaki kerja sama dengan mitra konsorsium, termasuk perusahaan asal China yang memiliki kapasitas pengolahan sampah berskala besar.
Perkembangan proyek PSEL tahap I pun masih berlanjut. Terbaru, Danantara meresmikan pembangunan fasilitas PSEL Bogor Raya 1 di Bogor pada September lalu. PSEL Bogor Raya 1 menjadi fasilitas PSEL ketiga yang memasuki tahap pembangunan setelah PSEL Denpasar Raya di Bali dan PSEL Kota Bekasi. Fasilitas PSEL Bogor tersebut ditargetkan beroperasi pada 2028.
Baca Juga: Efisiensi Berbasis ESG, Dari Pengelolaan Air Hingga Memangkas Emisi
Mitra PSEL Danantara Tahap II
Pada proyek PSEL tahap II, Danantara menyebut minat calon mitra juga meningkat. Denera mencatat jumlah calon mitra pada tahap II mencapai 85 pihak, dibandingkan dengan 24 calon mitra pada tahap I.
Dalam pengembangan proyek PSEL tahap II ini, Danantara telah menggandeng PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebagai salah satu mitra. Keterlibatan CDIA menjadi salah satu langkah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) untuk masuk ke bisnis pengolahan sampah.
Dalam keterangan tertulisnya, emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu ini menyampaikan bahwa proyek tersebut masih berada dalam tahap awal studi dan evaluasi kelayakan.
"Kelanjutkan proyek PSEL nantinya akan bergantung pada hasil feasibility study (FS) dan dikeluarkannya Final Letter of Award," papar Corporate Secretary TPIA Erri Dewi Riani.
Perusahaan juga belum dapat menyampaikan nilai investasi final, porsi investasi anak usaha, potensi kontribusi terhadap pendapatan hingga laba bersih, maupun target waktu penyelesaian proyek.
Selain TPIA melalui CDIA, proyek PSEL tahap II juga melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melalui PT Bakrie Power, serta PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan OASA.
Berikut lokasi dan mitra yang akan mengelola proyek PSEL tahap II tersebut:
Medan Raya: Konsorsium SUEZ Insan Asia dari Prancis dan Indonesia, dengan kapasitas 1.700 ton per hari.
Kabupaten Bekasi: Konsorsium Everbright Cemerlang Energy yang melibatkan China Everbright, Harmoni, dan Bioregen.
Lampung Raya: Konsorsium Bumi Biru Indonesia yang melibatkan SUS Indoplas dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA).
Serang Raya: Konsorsium Masa Depan Energi Indonesia yang melibatkan Chandra Waste Energy, anak usaha PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang juga terkait dengan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), serta BGE, dengan kapasitas 1.161 ton per hari.
Semarang Raya: Veolia Environmental Services Asia, dengan kapasitas 1.100 ton per hari.
Surabaya Raya: Konsorsium Mentari Citra Lestari yang melibatkan Bakrie Power milik PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Acritas Karya Persada, dan SUS Indonesia Holding, yang berafiliasi dengan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI).
Bogor Raya 2: Konsorsium MPM-CEVIA atau Mega Power CEVIA.
Yogyakarta Raya: Konsorsium Cakra Energi Lestari yang melibatkan Pertamina Power Indonesia, Tianjin TEDA, dan CITICC.
Baca Juga: Mengurai Masalah Daur Ulang Kemasan UHT
Katalis Jangka Panjang
Pengamat Pasar Modal sekaligus Pendiri Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima menilai proyek PSEL berpotensi menjadi katalis positif bagi diversifikasi bisnis dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan yang terlibat.
Jika proyek berjalan sesuai rencana, pengembangan PSEL berpeluang membuka akses terhadap kontrak yang lebih luas, terutama di sektor energi baru dan pengelolaan sampah yang masih memiliki ruang pertumbuhan.
"Jika ini berhasil, (emiten) berpotensi akan mengambil alih potensi kontrak yang lebih luas, terutama melalui peluang di sektor energi baru dan pengelolaan sampah yang masih belum terlalu ada pesaing yg menonjol" papar Bima kepada KONTAN, belum lama ini.
Senada, Senior Investment Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai keterlibatan CDIA dalam proyek PSEL tahap II berpotensi menjadi katalis positif bagi prospek bisnis perseroan dalam jangka menengah hingga panjang.
"Proyek yang mencakup delapan lokasi di Indonesia ini membuka peluang bagi perusahaan untuk memperluas eksposur bisnis ke sektor energi bersih, pengelolaan limbah, dan infrastruktur berkelanjutan," ujar Nafan.
Diversifikasi tersebut berpotensi memperkuat prospek pertumbuhan bisnis, terutama bagi CDIA dan TPIA serta BNBR melalui PT Bakrie Power, di luar segmen usaha yang telah berjalan. Keterlibatan dalam proyek ini juga dapat meningkatkan visibilitas pendapatan apabila perseroan memperoleh peran operasional maupun komersial yang signifikan.
Mengutip laporan tahunan TPIA tahun 2025, perusahaan terlihat mulai mengalihkan fokus ke bisnis pengolahan sampah menjadi energi dari bisnis yang sebelumnya bergerak di bidang angkutan laut.
TPIA mulai mengembangkan bisnis ini melalui pembentukan PT Chandra Waste Energy (CWE), yang berada langsung di bawah CDIA. CWE juga telah bergabung dalam konsorsium Masa Depan Energi Indonesia bersama Beijing GeoEnviron Engineering and Technology Inc. Sebelumnya, Chandra Waste Energy bernama PT Chandra Global Maritim (CGM).
Pada kuartal I-2026, segmen infrastruktur TPIA masih menjadi penyumbang pendapatan terkecil, yakni sebesar US$ 87,50 juta. Meski demikian, angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 52,01 juta. Perkembangan ini menunjukkan bahwa upaya TPIA melakukan peralihan bisnis telah terlihat sebelum proyek PSEL Danantara dimulai.
CDIA juga menyampaikan bahwa diversifikasi bisnis merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Manajemen menyebut partisipasi dalam proyek PSEL Danantara tahap II sebagai bentuk dukungan terhadap agenda pemerintah dalam pemanfaatan energi ramah lingkungan.

BNBR turut masuk ke proyek ini melalui Bakrie Power. BNBR memiliki 99,99% saham Bakrie Power, yang telah bergabung dalam konsorsium Mentari Citra Lestari bersama PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Limited.
Perusahaan yang berdiri sejak 1994 itu awalnya bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik. Pada 2025, segmen manufaktur dan infrastruktur menjadi kontributor pendapatan terbesar BNBR, dengan pendapatan konsolidasi Rp 3,11 triliun. Angka tersebut menyusut dibandingkan dengan Rp 3,47 triliun pada 2024.
Dalam proyek PSEL Danantara, Bakrie Power akan mengembangkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Surabaya Raya dengan kapasitas 1.100 ton per hari.
Nafan menekankan bahwa nilai investasi Rp 18 triliun merupakan alokasi untuk pengembangan proyek PSEL tahap II secara keseluruhan, bukan otomatis menjadi pendapatan atau nilai kontrak yang diterima perusahaan.
Besarnya dampak terhadap kinerja perseroan akan bergantung pada porsi keterlibatan masing-masing perusahaan, struktur kerja sama dengan Danantara melalui Denera, pembagian peran dengan mitra lain, serta potensi imbal hasil yang diperoleh.
"Tentu ini sentimen positif, tetapi pasar tetap perlu menunggu kejelasan mengenai nilai kontrak, skema pendanaan, dan kontribusi proyek terhadap kinerja keuangan perseroan," ujarnya.
Bima juga sepakat bahwa dampak proyek PSEL terhadap kinerja perusahaan yang terlibat akan sangat bergantung pada besarnya porsi keterlibatan masing-masing perseroan dan keberhasilan pelaksanaan tahap II. Keberhasilan tersebut juga akan berpengaruh terhadap peluang mendapatkan proyek berikutnya.
Dalam jangka pendek hingga awal 2027, kontribusi proyek semacam ini terhadap pendapatan dan laba perusahaan yang terlibat kemungkinan masih terbatas. Pasalnya, sejumlah fasilitas masih berada dalam tahap pembangunan.
"Hasil kinerja akan lebih terasa ketika proyek mulai beroperasi secara komersial dan menghasilkan pendapatan berulang nantinya," kata Bima lagi.
Baca Juga: Mengasah Strategi Mengelola Dana Nasabah Tajir
Risiko Proyek PSEL Danantara yang Perlu Dicermati
Selain berpotensi mendorong pertumbuhan, proyek PSEL juga memiliki sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Nafan menyoroti risiko keterlambatan proyek akibat koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola sampah, penyedia teknologi, hingga PLN sebagai pembeli listrik.
"Keterlambatan penyediaan lahan, perizinan, penyelesaian desain, maupun pembangunan fasilitas dapat menggeser jadwal operasional dan menunda realisasi pendapatan." ujarnya.
Risiko berikutnya berasal dari besarnya kebutuhan investasi. Apabila pembiayaan mengandalkan pinjaman, kenaikan biaya bunga, pembengkakan biaya konstruksi, atau realisasi pendapatan yang lebih lambat dari perkiraan dapat menekan tingkat pengembalian investasi.
Dari sisi operasional, kepastian pasokan sampah juga menjadi faktor penting. Fasilitas PSEL membutuhkan pasokan sampah yang memadai dan konsisten, baik dari sisi volume maupun karakteristiknya.
Jika pasokan tidak sesuai dengan kebutuhan atau proses pengolahan memerlukan biaya tambahan, biaya operasional berpotensi meningkat dan produksi listrik menjadi kurang optimal.
Bagi emiten yang terlibat, besarnya risiko tersebut akan bergantung pada porsi pendanaan dan tanggung jawab yang benar-benar ditanggung masing-masing perseroan.
Bima turut menyoroti risiko keterlambatan pembangunan, kenaikan biaya investasi, persoalan teknologi pengolahan, serta kemampuan manajemen dalam mengeksekusi proyek.
Investor juga perlu mencermati pembagian manfaat ekonomi antara CDIA, TPIA, BNBR, dan mitra proyek lainnya, termasuk struktur kepemilikan, pembagian risiko, serta mekanisme pembayaran atas jasa atau listrik yang dihasilkan.
"Faktor-faktor tersebut yang nantinya akan menentukan apakah proyek ini benar-benar menjadi katalis fundamental bagi pertumbuhan pendapatan dan laba bagi emiten-emiten yang tergabung dalam proyek ini," tandas Bima.
DISCLAIMER ON: Informasi ini bukan ajakan untuk membeli, tidak membeli, atau menjual aset apa pun. Segala keputusan investasi menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya.
