Dapat Untung Saat Bunga Turun, Simak Rekomendasi Saham-Saham Properti Ini

Senin, 22 Juli 2019 | 06:15 WIB
Dapat Untung Saat Bunga Turun, Simak Rekomendasi Saham-Saham Properti Ini
[]
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor properti diprediksi kembali merekah di paruh kedua tahun ini. Pendorongnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan suku bunga acuan BI 7-day repo rate (BI 7-DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Dengan adanya penurunan suku bunga acuan, industri properti diperkirakan bakal kembali bangkit. Analis Indo Premier Sekuritas Laura Oei berpendapat, pemangkasan suku bunga acuan otomatis akan memberikan tenaga bagi perusahaan properti.

Dampak terbesar dirasakan perusahaan yang konsumennya masih mengandalkan kredit pemilikan rumah (KPR). Prospeknya bagus, apalagi ditambah insentif lain dari pemerintah, ujarnya akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, di tahun ini, pemerintah memang sedang gencar memberikan insentif bagi sektor properti; mulai dari pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga relaksaksi pengenaan pajak penjualan barang mewah (PPnBM).

Selain itu, berakhirnya masa pemilihan umum juga turut menjadi penggerak sektor properti tahun ini. Buktinya, selepas pemilu, penjualan properti kembali bergairah. Contoh, di semester satu lalu, pendapatan pra penjualan atawa marketing sales PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencapai Rp 2,2 triliun, setara 55% target tahun ini, yakni Rp 4 triliun.

Analis Sucor Sekuritas Joey Faustian menambahkan, dengan adanya penurunan suku bunga, diharapkan daya beli masyarakat terhadap produk properti meningkat, didorong penurunan bunga KPR ke level yang lebih rendah. Tetapi perlu diingat, tidak semua perbankan yang menawarkan KPR juga langsung merealisasikan penurunan bunga KPR. Hal tersebut juga dilihat oleh analis MNC Sekuritas Muhamad Rudy Setiawan.

Menurut Rudy, penurunan suku bunga acuan ini belum akan memberi pengaruh dalam jangka pendek. Karena itu, dia tidak terlalu yakin kinerja industri properti akan membaik mulai tahun ini.

Menengah ke bawah

Namun, perusahaan properti yang memiliki proyek properti bagi segmen kalangan menengah ke bawah bakal lebih cerah. Selain karena faktor penurunan bunga KPR, biasanya, kalangan menengah ke bawah cenderung lebih fleksibel, lantaran permintaannya murni untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal, bukan untuk investasi.

Sehingga, proyek properti yang harganya di bawah Rp 1 miliar diprediksi bakal lebih laku ketimbang properti yang memiliki target pasar menengah ke atas. Beberapa perusahaan pengembang, seperti BSDE, CTRA, SMRA, kini mulai mengubah profilpropertinya dan mulai berani menggarap segmen di bawah Rp 500 juta, ujar Rudy.

Salah satunya CTRA. Karena itu, Laura menjagokan CTRA tahun ini. Di tahun ini, Ciputra Development memiliki sejumlah produk yang memang dikhususkan bagi pembeli rumah pertama yang biasanya menggunakan KPR.

Setali tiga uang, adanya sejumlah proyek properti untuk segmen menengah ke bawah yang dirilis di semester kedua ini membuat Rudy menjagokan CTRA. Belum lagi, ekspansi yang dilakukan perusahaan milik Ciputra Grup ini tidak hanya fokus pada satu wilayah saja.

Pada semester II-2019, CTRA fokus pada empat proyek baru yang berada di pulau Jawa. Yaitu perumahan di Puri Semanan, township di Sentul, apartemen di Ciracas dan proyek mixed-use di Driyorejo, Gresik.

Selain itu, perusahaan ini juga menggenjot penjualan proyek yang sudah berjalan. Seperti kluster Citra Maja Raya, CitraRaya Tangerang, CitraLand Gama City Medan, CitraIndah City Jonggol, CitraLand City Losari Makassar dan CitraGarden City Jakarta

Sementara, Joey lebih menjagokan SMRA yang memiliki valuasi menarik. Selain itu, daya tarik emiten ini juga berasal dari kepemilikan landbank untuk segmen menengah ke bawah yang cukup luas.

Beberapa kawasan yang dikuasai SMRA adalah Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Karawang, Bandung dan Makassar. Joey menyarankan beli SMRA dengan target harga Rp 1.350 per saham.

Sedangkan Rudy dan Laura merekomendasikan beli saham CTRA dengan target saham masing-masing Rp 1.310 dan Rp 1.400 per saham.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026
| Senin, 23 Februari 2026 | 13:00 WIB

Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026

Head of Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai bahwa aksi korporasi MPPA di awal 2026 merupakan manuver survival to revival.

Penambangan Phase 8 Batu Hijau Bikin Prospek Kinerja AMMN Berkilau
| Senin, 23 Februari 2026 | 11:00 WIB

Penambangan Phase 8 Batu Hijau Bikin Prospek Kinerja AMMN Berkilau

Penopang kinerja AMMN tahun ini adalah pemulihan produksi tembaga dan emas perusahaan, pasca transisi operasi ke Fase 8 di Tambang Batu Hijau.

ESG Jasa Marga (JSMR): Kelola Lonjakan Sampah Saat Pemudik Tumpah Ruah
| Senin, 23 Februari 2026 | 09:02 WIB

ESG Jasa Marga (JSMR): Kelola Lonjakan Sampah Saat Pemudik Tumpah Ruah

Simak strategi PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengolah sampah terintegrasi di rest area dan menjaga lingkungan. Juga rencana jalan tol di 2026.

KOCI Melesat 129% Sejak Awal Tahun, Simak Rencana Bisnis Tahun 2026
| Senin, 23 Februari 2026 | 09:00 WIB

KOCI Melesat 129% Sejak Awal Tahun, Simak Rencana Bisnis Tahun 2026

Secara year to date (YtD) sampai dengan Jumat (20/2), harga saham PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) melesat 129,41% ke level Rp 195 per saham.

Sentra Food Indonesia (FOOD) Membidik Penjualan Tumbuh 25% Tahun Ini
| Senin, 23 Februari 2026 | 07:13 WIB

Sentra Food Indonesia (FOOD) Membidik Penjualan Tumbuh 25% Tahun Ini

Pada 2025 penjualan FOOD tercatat Rp 95,26 miliar. Memasuki 2026, mereka menargetkan penjualan meningkat menjadi Rp 119 miliar.

Kritik dan Demokrasi
| Senin, 23 Februari 2026 | 07:01 WIB

Kritik dan Demokrasi

Ketika kritik menyentuh isu sensitif atau kebijakan strategis pemerintah, respons yang muncul bukan berupa debat gagasan, melainkan intimidasi.

Geber Proyek Baterai EV US$ 9 Miliar, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham INCO
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:55 WIB

Geber Proyek Baterai EV US$ 9 Miliar, Cek Rekomendasi dan Target Harga Saham INCO

Dua megaproyek yang menjadi ujung tombak adalah pembangunan smelter HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Bahodopi, Sulawesi Tengah.​

Lima Saham Ini Paling Banyak Dibeli Asing, Pilih ASII, INCO, MDKA, FAPA atau BRMS?
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:30 WIB

Lima Saham Ini Paling Banyak Dibeli Asing, Pilih ASII, INCO, MDKA, FAPA atau BRMS?

Saham bank-bank besar masih menjadi sasaran aksi jual investor asing, begitu pula sebagian saham konglomerasi.

BI Menopang Pembiayaan Pemerintah
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:12 WIB

BI Menopang Pembiayaan Pemerintah

Bank Indonesia dan Kemenkeu sepakat tukar SBN Rp 173,4 T, menggeser beban utang.                        

Harga Kerbau dan Sapi Merangkak Naik
| Senin, 23 Februari 2026 | 06:02 WIB

Harga Kerbau dan Sapi Merangkak Naik

Harga daging sapi murni naik 0,56% menjadi Rp 138.832 per kg dan daging kerbau segar lokal naik 0,39% menjadiRp 142.424 per kg.

INDEKS BERITA

Terpopuler