DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah

Kamis, 14 Mei 2026 | 06:10 WIB
DBS Research Group: Perekonomian Indonesia Masih Resilien di Bawah Pelemahan Rupiah
[ILUSTRASI. Rupiah Terlemah Sepanjang Masa (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah pelemahan rupiah yang terjun cukup cepat, meningkatnya tensi geopolitik global dan lonjakan harga energi dunia, perekonomian Indonesia dinilai masih cukup resilien. 

Dalam paparan DBS Research Group yang berlangsung kemarin, Rabu (13/5), DBS menyebutkan bahwa konflik di Timur Tengah terutama setelah eskalasi serangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat,  berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global sekaligus memengaruhi prospek ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.

William Simadiputra Senior Vice President DBS Vickers Securities dalam paparannya menyebutkan bahwa secara keseluruhan, kepercayaan diri pasar domestik masih tinggi walau memang tingkatnya menurun sejak Maret 2026 karena perang membuat investor menjadi cemas.

Baca Juga: Anomali Ekonomi RI Tumbuh 5,61%, FDI dari China Naik dan PMI Manufaktur Melemah

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik memiliki dampak beragam terhadap berbagai sektor industri.

Dia menjabarkan, di sektor pertambangan dan energi, perusahaan tambang hulu dinilai akan diuntungkan karena dapat meningkatkan produksi di tengah harga komoditas yang lebih tinggi. Sebaliknya, industri pengolahan atau smelter menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku dan energi, terutama asam sulfat dan bahan bakar.

Pada sektor agribisnis dan pangan, perusahaan perkebunan sawit diperkirakan mendapat manfaat dari tingginya harga Crude Palm Oil (CPO) seiring meningkatnya kebutuhan biodiesel global. Namun sektor hilir seperti refinery dan consumer goods menghadapi tekanan akibat naiknya biaya kemasan dan bahan baku. Konsumsi masyarakat juga berisiko melemah apabila inflasi meningkat akibat lonjakan harga energi.

"Sektor energi hulu atau upstream oil and gas menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari reli harga minyak. Sementara itu, perusahaan importir energi dan petrokimia berpotensi mengalami tekanan margin karena kenaikan harga LNG dan naphta," paparnya, Rabu (13/5).

Lebih lanjut, di sektor otomotif, kendaraan listrik diperkirakan mendapat sentimen positif karena kenaikan harga BBM dapat mendorong masyarakat beralih ke EV. Sebaliknya, penjualan mobil berbahan bakar konvensional atau ICE/hybrid berpotensi melambat akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Saham Meroket 50%, GPSO Siap Eksekusi Private Placement & Masuk ke Komponen Otomotif
| Jumat, 15 Mei 2026 | 15:08 WIB

Saham Meroket 50%, GPSO Siap Eksekusi Private Placement & Masuk ke Komponen Otomotif

PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) menjadwalkan sudah bisa membukukan pengakuan pendapatan perdana pada minggu kedua Juli 2026.

Cita Mineral (CITA) Bakal Sebar Dividen Tunai Rp 1,39 Triliun
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:54 WIB

Cita Mineral (CITA) Bakal Sebar Dividen Tunai Rp 1,39 Triliun

Nilai dividen yang akan diterima setiap pemegang saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sebesar Rp 351 per saham.

Penjualan Unjuk Gigi, Prospek Astra (ASII) Kian Bertaji
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:51 WIB

Penjualan Unjuk Gigi, Prospek Astra (ASII) Kian Bertaji

Penjualan mobil PT Astra International Tbk (ASII) pada periode April 2026 tembus 41.752 unit, tumbuh 54,77% secara tahunan.

Tingkatkan Likuiditas Saham, Rukun Raharja (RAJA) Siap Laksanakan Stock Split
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:43 WIB

Tingkatkan Likuiditas Saham, Rukun Raharja (RAJA) Siap Laksanakan Stock Split

Sebelum stock split, nilai nominal saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) masih Rp 25 per saham dan akan dipecah menjadi Rp 5 per saham. ​

Ekspansi Layanan Mendorong Kinerja Siloam (SILO) Semakin Menawan
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:35 WIB

Ekspansi Layanan Mendorong Kinerja Siloam (SILO) Semakin Menawan

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatatkan kinerja solid di sepanjang 2025, baik dari sisi bottom line maupun top line. 

Rupiah Jeblok Bikin Bengkak Beban Utang, Kredibilitas Kebijakan Pemerintah Disorot
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:30 WIB

Rupiah Jeblok Bikin Bengkak Beban Utang, Kredibilitas Kebijakan Pemerintah Disorot

Ekstra debt service sebagai imbas kombinasi rupiah yang anjlok dan yield yang melambung bakal menembus lebih dari Rp 20 triliun.

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Cerah
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:29 WIB

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Cerah

Harga timah global yang masih berpotensi bertahan di level tinggi akan menjadi penopang bagi kelangsungan kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Masih Cerah
| Jumat, 15 Mei 2026 | 09:24 WIB

Harga Timah Semakin Bergairah, Prospek TINS Masih Cerah

Harga timah global yang masih berpotensi bertahan di level tinggi akan menjadi penopang bagi kelangsungan kinerja PT Timah Tbk (TINS).

Haji Isam Beli Saham PACK Senilai Rp 936 Miliar
| Jumat, 15 Mei 2026 | 08:57 WIB

Haji Isam Beli Saham PACK Senilai Rp 936 Miliar

Kehadiran PACK menambah daftar emiten yang terafiliasi dengan Haji Isam. Sebelumnya, ia telah memiliki sejumlah perusahaan tercatat di BEI. ​

Emiten Ramai-Ramai Tambah Usaha Baru Agar Laba Menderu
| Jumat, 15 Mei 2026 | 08:51 WIB

Emiten Ramai-Ramai Tambah Usaha Baru Agar Laba Menderu

Ada sembilan emiten yang mengumumkan langkah ekspansi bisnis melalui penambahan aktivitas kegiatan usaha baru. 

INDEKS BERITA

Terpopuler