Desil Baru Kurang Tepat Sasaran? Ekonom Ingatkan Resikonya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa waktu belakangan, pembahasan mengenai penggunaan sistem status desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTEN) banyak dibahas di media sosial.
Desil sendiri adalah cara membagi populasi ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat kondisi sosial ekonomi. Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah hingga desil 10 yang merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi. Dari pembagian ini, setiap orang atau rumah tangga ditempatkan pada rentang tertentu yang mencerminkan posisi relatifnya dibandingkan kelompok lainnya.
Baca Juga: Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya
Desil DTSEN ini pun digunakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan sasaran program seperti bantuan sosial (bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Non TUnai (BPNT), Programm Indonesia Pintar (PIP) dan Penerima Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JKN). Data ini pun juga digunakan untuk membatasi pembelian BBM Bersubsidi, khususnya Pertalite.
Dilansir dari laman DTSEN, penentuan tingkat kesejahteraan tersebut mempertimbangkan sejumlah kondisi sosial dan ekonomi, antara lain pekerjaan, pendidikan kondisi tempat tinggal, daya listrik, dan kepemilikan aset.
Sementara dalam pantauan KONTAN di X, akun bernama @keluhkesahkonoh pada 15 Agustus 2026 menyebutkan ibunya yang berstatus single parent dengan gaji Rp 1,4 juta per bulan berada di desil 9, yang masuk kategori sangat kaya, sehingga mengancam status penerimaan beasiswa KIP.
Di media sosial Threads, pembahasan mengenai desil baru juga terjadi. Dalam kolom khusus mengenai desil, beberapa warga mengeluhkan berada di kelompok desil yang tidak sesuai dengan kondisi finansialnya.
