Direktur UUS Bank Pemata Rudy Basyir Ahmad, Penyintas Perang Kini Jadi Direktur
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di luar citra seorang direktur yang kerap diasosiasikan dengan kekakuan dan jarak, Rudy Basyir Ahmad justru dikenal sebagai sosok yang cair, terbuka, dan selalu menjaga pintu diskusi tetap lebar.
Kini, Rudy menjabat sebagai Direktur Keuangan sekaligus Direktur Unit Usaha Syariah di Bank Permata. Dua tanggung jawab besar yang ia emban sejak bergabung pada 2023.
Namun bagi Rudy, kepercayaan ganda ini bukan beban, melainkan bukti nyata bahwa perjalanan panjangnya selama lebih dari dua dekade di industri keuangan telah menempa dirinya menjadi pemimpin yang siap menghadapi berbagai medan.
Rudy lahir dari keluarga seorang diplomat Indonesia. Tak heran, masa kecilnya diisi oleh perubahan alamat, bahasa dan budaya yang silih berganti. Dari satu negara ke negara lain, dari satu sekolah ke sekolah berikutnya, itulah ritme hidup yang ia kenal sejak kecil.
Bahkan sejumlah pengalaman menakutkan pernah ia hadapi. Di tahun 1989, ketika Irak menginvasi Kuwait, Rudy kecil bersama keluarganya harus mengungsi. Mereka berlindung di KBRI Kuwait selama hampir dua bulan, sebelum akhirnya menyeberangi perbatasan menuju negara lain dalam kondisi penuh kepanikan.
"Di perbatasan yang banyak banget orang, itu pengalaman yang tak pernah terlupakan," ucap Rudy kala berbincang dengan KONTAN belum lama ini. Trauma akibat peristiwa itu sempat membekas. Selama beberapa tahun setelah kembali ke Indonesia, suara helikopter membuatnya cemas.
Namun dari pengalaman mengungsi itulah, Rudy menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar ketangguhan. Yakni keyakinan bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang selalu hadir di saat paling genting. "Banyak hal-hal ajaib yang mungkin tidak bisa terjadi tanpa bantuan dari Yang di Atas. Kalau kita percaya, banyak hal yang kita anggap tidak mungkin, ternyata bisa," kisahnya.
Tak hanya kisah masa kecil yang membentuk karakternya hingga saat ini. Perjalanan karier Rudy juga tak kalah menarik. Dunia kerja di sektor perbankan, nyatanya tidak direncanakan sejak awal. Ini terlihat dari pilihannya untuk duduk di jurusan information system and technology saat kuliah.
Di periode 90-an, teknologi digital mulai berkembang pesat. Internet masih dalam tahap pertumbuhan awal, tetapi potensinya sudah terlihat. Rudy melihat masa depan di sana. "Jadi saya waktu itu melihat technology will be the next big thing," ujar Rudy.
Ia lulus tahun 2000, ketika Indonesia masih tertatih-tatih keluar dari krisis finansial 1998. Setahun kemudian, sebuah kesempatan tak terduga datang. Ia mendapat tawaran magang di sebuah bank di Amsterdam, Belanda. Tugasnya membangun aplikasi berbasis sistem informasi untuk mendukung advisory risk management bagi bank-bank Indonesia.
Di sinilah titik balik itu terjadi. Rudy bukan hanya membangun software. Ia membaca dan menyelami apa yang sedang ia kerjakan. Atasannya yang suportif terus memberinya buku tentang risk management dan seluk-beluk perbankan.
Saat bank Eropa mengimplementasikan standar Basel, credit risk, dan berbagai ilmu manajemen risiko lain, Rudy menjadi salah satu orang pertama di kalangan profesional muda Indonesia yang mempelajarinya secara mendalam.
Dari situ sebuah cita-cita baru terbentuk. Rudy kembali ke Indonesia, masuk ke industri perbankan, dan berkontribusi membangun ekosistem keuangan yang lebih kuat. Bagi Rudy, negara dengan industri perbankan yang kokoh akan memiliki ekonomi yang kokoh pula.
Revolusi kesuksesan
Tahun 2003, Rudy bergabung dengan Citibank Indonesia. Ia tidak menyangka bahwa ia akan menghabiskan 17 tahun di bank tersebut. Ia membangun karier dari bawah, melewati berbagai peran, menyerap sistem dan tatakelola bank asing yang sangat terstruktur dan prudent.
Hingga akhirnya, pencapaian tertinggi itu tiba. Rudy diangkat sebagai Chief Finance Officer. Suatu jabatan, yang disebut Rudy, biasanya diduduki oleh ekspatriat.
Ia juga sempat berkarier di GoTo Financial untuk melengkapi kariernya di industri keuangan. Perjalanan kariernya terus berlanjut hingga di tahun 2023, Rudy menerima tawaran dari Permata Bank, bank yang ia nilai memiliki fundamental yang kuat dan nilai-nilai kolaborasi yang sejalan dengan keyakinannya.
Tak lama setelah bergabung, ia mendapat amanah yang lebih besar, yakni merangkap jabatan sebagai Direktur Unit Usaha Syariah (UUS), di samping fungsi utamanya sebagai Direktur Keuangan.
Tantangan pun hadir berlipat. Rudy mengakui bahwa latar belakangnya bukan dari bidang syariah. Alih-alih menjadikannya hambatan, ia mengubahnya menjadi pendorong untuk belajar lebih cepat dan memimpin lebih kolaboratif.
"Saya tidak mungkin bisa jalan sendiri. Saya banyak berdiskusi dengan tim compliance, dengan Dewan Pengawas Syariah, dengan tim-tim yang mengerti syariah, supaya saya bisa mengambil keputusan secara holistik," paparnya.
Apa yang ia bawa, adalah keahlian dalam tatakelola, manajemen risiko, dan efisiensi bisnis untuk diterapkan di bisnis syariah.
Di usia karier yang sudah matang, Rudy pun berbicara tentang mana sukses yang telah berevolusi dalam dirinya. Di awal karier, ia mengakui bahwa sukses masih identik dengan promosi, pencapaian target, dan peran-peran bergengsi. Namun pandangannya sudah jauh berbeda.
Sukses buat dirinya saat ini adalah bagaimana ia bisa menciptakan hal-hal positif terhadap lingkungan sekitar. "Hal-hal positif yang kecil-kecil pun, kalau impactful ke orang, ke perusahaan, ke keluarga saya, itu buat saya adalah sesuatu yang sukses," tegas Rudy.
Terapi helikopter dan instruktur selam
Rudy Basyir Ahmad masih kecil ketika Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1989. Saat itu, Rudy dan orangtuanya yang bertugas sebagai diplomat di Kuwait harus menyelamatkan diri.
Setelah kembali ke Indonesia, ada satu hal kecil yang berubah pada diri Rudy. Yakni suara helikopter membuatnya takut. Bukan ketakutan biasa, tapi hingga kecemasan yang berlebihan.
Namun penugasan sang ayah berikutnya di Los Angeles (LA) membuka pintu kesembuhan bagi Rudy. LA adalah satu kota dengan lalu lintas udara paling ramai di Amerika Serikat. Helikopter lalu-lalang hampir setiap jam. Pagi, siang, hingga malam.
Tidak ada pilihan lain selain mendengarnya, setiap hari, berulang-ulang, sampai suara itu tidak lagi terasa mengancam. Hanya bising biasa, seperti suara klakson di Jakarta. Dan tanpa sesi konseling, tanpa buku panduan, Rudy pun sembuh dari fobia suara helikopter.
Dalam dunia psikologi, ada pendekatan yang disebut exposure therapy. Pendekatan ini menyembuhkan rasa takut dengan menghadapinya berulang kali dalam dosis yang aman, sampai otak belajar bahwa ancaman itu tidak nyata.
Rudy tidak tahu istilah tersebut waktu itu. Tapi tanpa sadar, LA sudah melakukan terapi tersebut untuknya. Keberanian yang muncul terhadap suara helikopter, terus bertransformasi dalam dirinya selama bertahun-tahun kemudian. Termasuk dalam urusan non profesional.
Jika Anda membayangkan seorang direktur bank akan menghabiskan akhir pekan dengan berhadapan dengan spreadsheet, Rudy akan membuktikan anda salah.
Karena di luar kantor, pria ini punya dunia lain, yakni dunia bawah laut. Keberanian menghadapi tantangan membawanya menjelajahi dunia selam. Tak main-main, ia bahkan mengantongi sertifikat sebagai instruktur dalam kegiatan air ini.
