Ditekan Harga Minyak, Prospek MEDC Masih Menarik Disimak

Kamis, 06 Agustus 2026 | 06:16 WIB
Ditekan Harga Minyak, Prospek MEDC Masih Menarik Disimak
[ILUSTRASI. Medco Energi Internasional, MEDC (DOK/MEDC)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) terlihat banyak diakumulasi oleh investor domestik pada perdagangan Selasa ((4/8) lalu, walau pergerakan sahamnya masih belum beranjak dari zona merah.

Pada perdagangan Selasa (4/8) lalu, saham MEDC mencatat top local buy hingga mencapai Rp 34,30 miliar. Tetapi pada penutupan perdagangan hari Rabu (5/8) saham MEDC ditutup melemah 4,01% ke level Rp 1.315.

Pelemahan tersebut mematahkan penguatan saham MEDC yang sudah tercatat dalam seminggu dan sebulan terakhir yang masing-masing sebesar 6,48% dan 19,55%. Adapun dalam rentang sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) MEDC juga telah terjerembab 2,23%.

Akumulasi lokal yang belum bisa menopang pergerakan saham MEDC ke zona hijau ini pun terjadi di tengah tekanan yang melanda sektor energi. Harga minyak dunia diketahui terkoreksi tajam, pasca kekhawatiran terhadap prospek permintaan kembali membayangi pasar.

Baca Juga: Pilah-Pilih Saham Migas Di Tengah Volatilitas Harga Minyak, MEDC Paling Sensitif

Asal tahu saja, per Rabu (5/8) harga kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober anjlok sekitar 6% ke level US$ 78,72 per barel, sedangkan kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) pengiriman September turun 5,8% menjadi US$ 75,65 per barel.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand melihat walau masih dikelilingi tekanan serta koreksi di sektor energi, prospek MEDC masih menarik. Ini berkat aksi diversifikasi bisnis yang dijalankan perseroan sehingga tak sepenuhnya bergantung pada pergerakan harga minyak.

“Kontribusi investasi di PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar US$ 34 juta pada kuartal I-2026 dari peningkatan produksi smelter serta tembaga dan emas menjadi buffer yang signifikan terhadap volatilitas harga migas,” ujarnya kepada Kontan, RAbu (5/8).

Dia melanjutkan, sisi fundamental MEDC pun masih cukup solid berkat volume produksi migas yang mencapai 169.000 barel setara minyak per hari alias thousand barrels of oil equivalent per day (MBOEPD) atau tumbuh 18,1% secara tahunan (year on year/yoy) dan melampaui target perusahaan.

Dari sisi efisiensi, biaya produksi (cash cost) MEDC juga tetap terjaga di kisaran US$ 9 per barel setara minyak atau barrel of oil equivalent (boe), lebih rendah dibandingkan target perusahaan sebesar US$ 10 per boe.

Asal tahu saja, emiten gas terafiliasi dengan keluarga Panigoro ini menargetkan produksi migas sekitar 165.000-170.000 BOEPD di akhir 2026. Target tersebut juga akan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah produksi perseroan. Adapun pada 2025, MEDC  menyelesaikan lifting sebanyak 156.000 BOEPD.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Rupiah Kian Loyo, Kini Dihantam Langkah MSCI
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:50 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran Rupiah Kian Loyo, Kini Dihantam Langkah MSCI

Langkah MSCI membuka ruang konsultasi untuk menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market membuat posisi rupiah kian tertekan.

Prospek Penerbitan Obligasi Korporasi oleh Emiten Masih Terbuka Hingga Akhir Tahun
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Prospek Penerbitan Obligasi Korporasi oleh Emiten Masih Terbuka Hingga Akhir Tahun

Di tengah suku bunga tinggi dan persaingan imbal hasil dengan SBN, investor cenderung menuntut kompensasi risiko yang lebih besar.

Manuver Maxglory di Balik Saham SQMI: Bayang Utang, Valuasi, dan Proyek Ciemas
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:30 WIB

Manuver Maxglory di Balik Saham SQMI: Bayang Utang, Valuasi, dan Proyek Ciemas

Masalah paling mendasar yang dihadapi SQMI sejatinya terletak pada macetnya pengembangan pabrik pengolahan emas Ciemas.

Terbitkan 170 Juta Saham Baru, PTRO Siap Menggelar Rights Issue
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:04 WIB

Terbitkan 170 Juta Saham Baru, PTRO Siap Menggelar Rights Issue

Emiten kontraktor pertambangan batubara milik taipan Prajogo Pangestu itu akan menerbitkan maksimal 170 juta saham baru atau setara 1,69%.

Danantara, INA, dan TPIA Tuntaskan Investasi Strategis
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:58 WIB

Danantara, INA, dan TPIA Tuntaskan Investasi Strategis

Kesepakatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kapasitas industri soda kaustik dan ethylene dichloride (EDC) di pasar domestik.

Inflasi AS Melejit, Pasar Keuangan Asia Menjerit
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:52 WIB

Inflasi AS Melejit, Pasar Keuangan Asia Menjerit

Kenaikan data inflasi Amerika Serikat bulan September 2026 mengguncang bursa saham dan mata uang di Asia.

Kebakaran Hutan Berpotensi Membakar Kinerja Emiten CPO
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Kebakaran Hutan Berpotensi Membakar Kinerja Emiten CPO

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi risiko operasional bagi sejumlah emiten perkebunan kelapa sawit. 

Tantangan Saham Telekomunikasi
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:24 WIB

Tantangan Saham Telekomunikasi

Tekanan di Bursa Efek Indonesia (BEI) turut membuat saham-saham telekomunikasi dan infrastruktur pendukungnya berguguran.

MSCI Berpotensi Downgrade Indonesia, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (16/10)
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:24 WIB

MSCI Berpotensi Downgrade Indonesia, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini, Jumat (16/10)

Penyedia layanan indeks global, MSCI yang mengumumkan dimulainya konsultasi untuk mengklasifikasikan ulang Indeks MSCI Indonesia.

Emiten Keluar HSC di Saat Pasar Penuh Tekanan, Apa Dampaknya ke Harga Saham?
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Emiten Keluar HSC di Saat Pasar Penuh Tekanan, Apa Dampaknya ke Harga Saham?

Cara paling cepat untuk mengurangi konsentrasi kepemilikan adalah dengan mengurangi kepemilikan pengendali secara langsung di pasar.

INDEKS BERITA

Terpopuler