Ditekan Sentimen Dalam dan Luar Negeri, Rupiah Masih akan Tertekan hingga Akhir Juli

Selasa, 28 Juli 2026 | 08:32 WIB
Ditekan Sentimen Dalam dan Luar Negeri, Rupiah Masih akan Tertekan hingga Akhir Juli
[ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah yang tak lepas dari gejolak, kini menghadapi tantangan baru sehingga diproyeksi masih terus akan berada dalam tekanan hingga penutupan Juli 2026.

Sebagai informasi, pada perdagangan Senin (27/7), rupiah ditutup melemah 46 poin ke level Rp 18.009 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.963 per dolar AS.

Sepanjang pekan lalu, mata uang Garuda juga terpantau masih bergerak fluktuatif mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.963 per dolar AS pada penutupan Jumat (24/7) atau melemah 0,15% secara harian. Sepanjang Senin (20/7) hingga Jumat (24/7) lalu, rupiah telah terkoreksi 0,23% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya pada Jumat (17/7) yang berada di level Rp 17.921 per dolar AS.

Pasar diproyeksi masih akan dibayangi oleh kombinasi sentimen eksternal, mulai dari ketegangan geopolitk di Timur Tengah, tingginya harga minyak dunia, hingga ekspetasi sikap hawkish Bank Setral AS alias The Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Rupiah Terimbas Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur dari Jabatannya

Analis Mata Uang Doo FInancial Futures Lukman Leong melihat bahwa tekanan yang dihadapi rupiah belum menunjukkan tanda-tanda akhir, atau bahkan mereda dalam waktu dekat. Faktor eksternal, masih memainkan pengaruh utama dalam menentukan arah pergerakan rupiah.

"Dengan perkembangan akhir-akhir ini, The Fed pada pertemuan FOMC minggu depan diperkirakan akan memberikan pernyataan yang hawkish dan mendukung penguatan dolar AS,” ujar Lukman kepada KONTAN, belum lama ini.

Ekskalasi konflik tersebut berpotensi mempertahankan harga energi di level tinggi sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.

Ditambah lagi, sikap hawkish The Fed akan memperkuat daya tarik aset-aset berdenominasi dolar sehingga memberi tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Untuk pekan ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.150 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi juga mengatakan arah pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan geopolitik global, meskipun terdapat sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks dolar AS sempat melemah pada awal pekan setelah Washington menghentikan kampanye serangan militernya selama 13 hari berturut-turut guna membuka ruang diplomasi. Iran juga dikabarkan menangguhkan serangan balasan selama jeda tersebut masih berlangsung.

Selain itu, laporan mengenai upaya China menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Washington dan Teheran turut meningkatkan optimisme pasar bahwa konflik dapat kembali diarahkan ke jalur negosiasi.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

TPIA Mencaplok Bisnis Otomotif Cycle & Carriage
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:08 WIB

TPIA Mencaplok Bisnis Otomotif Cycle & Carriage

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)  memperkirakan nilai transaksi atas aset diperkirakan sebesar S$ 265 juta atau sekitar US$ 207 juta.

Bisnis Moncer Pemain Data Center
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:03 WIB

Bisnis Moncer Pemain Data Center

Sejumlah emiten memiliki ruang ekspansi besar untuk pengembangan data center dan menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital 

Simak Mata Uang Pilihan Saat Dolar AS Tertekan
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:48 WIB

Simak Mata Uang Pilihan Saat Dolar AS Tertekan

Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) membuka peluang penguatan mata uang utama seperti euro (EUR), poundsterling (GBP), dan dolar Australia (AUD).

Purbaya Tegaskan Anggaran BGN 2027 Rp 240 Triliun
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:12 WIB

Purbaya Tegaskan Anggaran BGN 2027 Rp 240 Triliun

Purbaya meluruskan informasi mengenai kesalahan data dalam Buku II Nota Keuangan dan RAPBN 2027 yang mencantumkan angka Rp 480 triliun

Uang Beredar dalam Arti Luas Tumbuh Melambat
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 10:06 WIB

Uang Beredar dalam Arti Luas Tumbuh Melambat

Posisi M2 pada Juli 2026 tercatat sebesar Rp 10.371,1 triliun, tumbuh 8,3% dibanding periode yang sama tahun lalu

Insentif Pajak Penulis Berlaku Selamanya
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:38 WIB

Insentif Pajak Penulis Berlaku Selamanya

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari paket fasilitas ekonomi yang akan diluncurkan pada semester II-2026

Mempelajari Memimpin dan Mengambil Keputusan dari Membaca Buku
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:37 WIB

Mempelajari Memimpin dan Mengambil Keputusan dari Membaca Buku

Dari buku-buku tersebut, ia mengaku tidak hanya mencermati perjalanan hidup para tokoh, juga mempelajari cara memimpin dan mengambil keputusan.

Pemerintah Bakal Kaji Ulang Penentuan Desil
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:27 WIB

Pemerintah Bakal Kaji Ulang Penentuan Desil

Pemerintah akan menunggu sensus tersebut rampung, sebelum melakukan kajian ulang penentuan desil    

CAD Bengkak, Indonesia Semakin Rentan
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:11 WIB

CAD Bengkak, Indonesia Semakin Rentan

Bank Indonesia sebut defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 mencapai 3,34% dari PDB              

Tantang Pasar, Bach Multi Global Tbk (BACH) Siap Perluas Ekspansi
| Sabtu, 22 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Tantang Pasar, Bach Multi Global Tbk (BACH) Siap Perluas Ekspansi

BACH resmi mencatatkan saham di BEI pada 8 Juli 2026. BACH menjadi emiten keempat yang mencatatkan diri di BEI pada 2026.  

INDEKS BERITA

Terpopuler