Ditekan Sentimen Dalam dan Luar Negeri, Rupiah Masih akan Tertekan hingga Akhir Juli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan rupiah yang tak lepas dari gejolak, kini menghadapi tantangan baru sehingga diproyeksi masih terus akan berada dalam tekanan hingga penutupan Juli 2026.
Sebagai informasi, pada perdagangan Senin (27/7), rupiah ditutup melemah 46 poin ke level Rp 18.009 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp 17.963 per dolar AS.
Sepanjang pekan lalu, mata uang Garuda juga terpantau masih bergerak fluktuatif mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.963 per dolar AS pada penutupan Jumat (24/7) atau melemah 0,15% secara harian. Sepanjang Senin (20/7) hingga Jumat (24/7) lalu, rupiah telah terkoreksi 0,23% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya pada Jumat (17/7) yang berada di level Rp 17.921 per dolar AS.
Pasar diproyeksi masih akan dibayangi oleh kombinasi sentimen eksternal, mulai dari ketegangan geopolitk di Timur Tengah, tingginya harga minyak dunia, hingga ekspetasi sikap hawkish Bank Setral AS alias The Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Rupiah Terimbas Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur dari Jabatannya
Analis Mata Uang Doo FInancial Futures Lukman Leong melihat bahwa tekanan yang dihadapi rupiah belum menunjukkan tanda-tanda akhir, atau bahkan mereda dalam waktu dekat. Faktor eksternal, masih memainkan pengaruh utama dalam menentukan arah pergerakan rupiah.
"Dengan perkembangan akhir-akhir ini, The Fed pada pertemuan FOMC minggu depan diperkirakan akan memberikan pernyataan yang hawkish dan mendukung penguatan dolar AS,” ujar Lukman kepada KONTAN, belum lama ini.
Ekskalasi konflik tersebut berpotensi mempertahankan harga energi di level tinggi sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.
Ditambah lagi, sikap hawkish The Fed akan memperkuat daya tarik aset-aset berdenominasi dolar sehingga memberi tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Untuk pekan ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.150 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi juga mengatakan arah pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan geopolitik global, meskipun terdapat sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks dolar AS sempat melemah pada awal pekan setelah Washington menghentikan kampanye serangan militernya selama 13 hari berturut-turut guna membuka ruang diplomasi. Iran juga dikabarkan menangguhkan serangan balasan selama jeda tersebut masih berlangsung.
Selain itu, laporan mengenai upaya China menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Washington dan Teheran turut meningkatkan optimisme pasar bahwa konflik dapat kembali diarahkan ke jalur negosiasi.
