Diusulkan Dalam Prolegnas 2020-2024, OJK Bakal Diawasi Oleh Lembaga Pengawas

Selasa, 12 November 2019 | 17:02 WIB
Diusulkan Dalam Prolegnas 2020-2024, OJK Bakal Diawasi Oleh Lembaga Pengawas
[ILUSTRASI. Petugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan penjelasan literasi keuangan di Jakarta, Senin (21/10)./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/21/10/2019.]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kelak bakal diawasi oleh sebuah lembaga pengawas. Keberadaan lembaga pengawas ini, sejatinya sudah ada dalam program legislasi nasional (prolegnas) tahun 2015-2019.

"Akan diusulkan kembali dalam prolegnas 2020-2024" tutur politisi senior PDI Perjuangan tersebut, kepada KONTAN, Jumat (8/11). Hal ini lantaran revisi terhadap UU OJK Nomor 21 Tahun 2011 gagal diselesaikan pada periode sebelumnya. 

Menurut Hendrawan, keberadaan lembaga pengawas bagi OJK merupakan konsekuensi UU Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK).

"Sebagai konsekuensi UU No.9/2016 tentang PPKSK, harus dilakukan revisi terhadap UU Bank Indonesia, OJK, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan UU Perbankan, Pasar Modal, Perasuransian," kata mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ini.

Terkait revisi UU OJK, Hendrawan menilai harus ada sejumlah revisi penting. Diantaranya, pertama, dibutuhkannya keberadaan oversight committee (komite pengawas).

Baca Juga: Nasib Asuransi Jiwasraya di Ujung Tanduk premium

Kedua, usulan pemilihan komisioner dengan cara bertahap, tidak sekaligus. Hal ini bertujuan agar kesinambungan tugas dan operasional OJK lebih terjaga.

Ketiga, adalah terkait penegasan kewenangan menetapkan bank strategis berdampak sistemik.

Hendrawan mencontohkan, oversight committee ada dalam pengawasan BI, yang dijalankan oleh Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI).

Untuk membantu DPR melakukan fungsi pengawasan di bidang tertentu terhadap Bank Indonesia, maka sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Bank Indonesia, dibentuk Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI).

Dalam situs BI disebutkan, BSBI dibentuk berdasarkan Undang-Undang tentang BI dan bertanggung jawab langsung kepada DPR. BSBI tidak berada dalam struktur organisasi BI.

Lebih lanjut, BSBI menyampaikan hasil pemantauannya terkait dengan kegiatan operasional dan keuangan BI kepada DPR setiap triwulan, dan tidak mengevaluasi kinerja Dewan Gubernur BI.

BSBI diharapkan memperkuat fungsi pengawasan DPR terhadap BI dalam rangka meningkatkan akuntabilitas, independensi, transparansi, dan kredibilitas BI.

Keberadaan BSBI tersebut, kata Hendrawan dibentuk saat belum ada OJK dan tugas pengawasan bank masih dalam ranah BI. "Begitu OJK lahir, harusnya ada oversight committee serupa, namun Pansus saat itu luput soal keberadaan oversight committee ini," pungkas Hermawan.

Desakan akan adanya lembaga pengawas atas OJK, juga dikumandangkan Irvan Rahardjo, pengamat kebijakan perasuransian dan jaminan sosial. Dia mengatakan, pengawasan satu-satunya terhadap OJK saat ini hanya pengawasan jarak jauh oleh DPR dan yang hanya bersifat insidentil.

Irvan mengatakan, kasus penundaan pembayaran investasi nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Jiwasraya), menimbulkan pertanyaan tentang jalannya fungsi pengawasan OJK. Hal ini tidak bisa dipisahkan oleh restrukturisasi AJB Bumiputera yang hingga kini juga tidak membuahkan hasil.

Baca Juga: AJB Bumiputera dikabarkan jual aset properti untuk bayar polis

"OJK yang overregulated, sering tidak menegakkan aturan yang dibuatnya sendiri," kata Irvan.

Beberapa aturan yang dimaksud oleh Irvan diantaranya adalah pertama, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Kedua, POJK No.23/POJK.05/2015 tentang Produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi.

Ketiga, POJK No.73/POJK.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan Perasuransian.

Keempat, POJK No.71/POJK.05/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.

Kelima, POJK No.1/POJK.05/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Keenam, POJK No.55/POJK.05/2017 tentang Laporan Berkala Perusahaan Perasuransian.

"Dengan pelbagai kewenangan dan instrumen deteksi dini seperti RBC, kondisi mismatch perusahaan asuransi seharusnya bisa dicegah," pungkas Irvan.

Baca Juga: Direksi baru Bumiputera, kotak hitam OJK

Celakanya, Indonesia saat ini belum memiliki lembaga penjamin polis, seperti yang diamanatkan oleh UU No.40/2014 tentang Perasuransian.

Bagikan

Berita Terbaru

Kondisi Industri Manufaktur Belum Pulih
| Rabu, 03 Juni 2026 | 04:35 WIB

Kondisi Industri Manufaktur Belum Pulih

Meski kembali masuk ke zona ekspansi, sektor manufaktur masih menghadapi berbagai tekanan, seperti tingginya biaya produksi,.

Pakuwon Jati (PWON) Memacu Proyek Baru
| Rabu, 03 Juni 2026 | 04:20 WIB

Pakuwon Jati (PWON) Memacu Proyek Baru

Alokasi capex tahun ini akan difokuskan untuk pengembangan mal, hotel, kondominium, serta akuisisi lahan dan aset.

Surplus Dagang Indonesia Tersisa US$ 89,1 Juta Saja, Terendah Dalam 6 Tahun
| Selasa, 02 Juni 2026 | 19:54 WIB

Surplus Dagang Indonesia Tersisa US$ 89,1 Juta Saja, Terendah Dalam 6 Tahun

Surplus neraca dagang RI hanya US$ 89,1 juta di April 2026, terendah sejak Mei 2020. Pahami penyebab anjloknya surplus perdagangan.

Bukan Cuma Pangan, Ini Komoditas Pemicu Laju Inflasi Mei 2026
| Selasa, 02 Juni 2026 | 16:59 WIB

Bukan Cuma Pangan, Ini Komoditas Pemicu Laju Inflasi Mei 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 0,28% secara bulanan pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang sebesar 0,13%.

Saham Prajogo Pangestu Terbang Seiring Rebalancing MSCI, Mana yang Menarik Dicermati?
| Selasa, 02 Juni 2026 | 09:29 WIB

Saham Prajogo Pangestu Terbang Seiring Rebalancing MSCI, Mana yang Menarik Dicermati?

Pergerakan saham-saham terafiliasi Prajogo Pangestu masih akan dipengaruhi aksi fund manager yang menyesuaikan portofolio.

ESG HMSP: Ketika Warung Naik Kelas Lewat Bimbingan SRC
| Selasa, 02 Juni 2026 | 09:19 WIB

ESG HMSP: Ketika Warung Naik Kelas Lewat Bimbingan SRC

Warung kelontong anggota SRC disebut mampu meningkatkan omzet setelah mendapat pendampingan dan akses digital. Ekosistem

Baru Satu IPO Hingga Tengah Tahun Saat IHSG Jeblok, Ada Apa di Pasar Saham Indonesia?
| Selasa, 02 Juni 2026 | 09:18 WIB

Baru Satu IPO Hingga Tengah Tahun Saat IHSG Jeblok, Ada Apa di Pasar Saham Indonesia?

Di tengah pelemahan pasar ini, suntikan dana baru dari aksi initial public offering (IPO) perusahaan besar juga belum terlihat.

Peluang dari Koreksi Indeks Kompas100
| Selasa, 02 Juni 2026 | 08:46 WIB

Peluang dari Koreksi Indeks Kompas100

Indeks Kompas100 ambles lebih dalam dari IHSG. Tapi, analis melihat ada sinyal rebound. Simak sektor & saham pilihan yang siap bangkit!

Banyaknya Hari Libur Memoles Kinerja Jasa Marga (JSMR)
| Selasa, 02 Juni 2026 | 08:41 WIB

Banyaknya Hari Libur Memoles Kinerja Jasa Marga (JSMR)

Volume lalu lintas tol melonjak hampir 20% saat libur Iduladha. Namun, ada beban keuangan yang mengancam kinerja JSMR. Pelajari selengkapnya.

Berupaya Mengalap Berkah dari Tayangan Siaran Piala Dunia, Simak Prospek Saham WIFI
| Selasa, 02 Juni 2026 | 08:20 WIB

Berupaya Mengalap Berkah dari Tayangan Siaran Piala Dunia, Simak Prospek Saham WIFI

Kontribusi dari gelaran Piala Dunia 2026 terhadap pendapatan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) diperkirakan terbatas.

INDEKS BERITA

Terpopuler