Efek BBM

Rabu, 01 April 2026 | 06:10 WIB
Efek BBM
[ILUSTRASI. Wahyu Tri Rahmawati (KONTAN/Steve GA)]
Wahyu Tri Rahmawati | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengumumkan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) baik subsidi maupun nonsubsidi di awal April 2026 setelah beredar informasi kenaikan harga BBM nonsubsidi di hari sebelumnya. Di tengah lonjakan harga minyak dunia, keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM dalam negeri kerap dipandang sebagai kebijakan yang berisiko bagi fiskal. 

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga BBM membawa konsekuensi ekonomi yang berat, baik bagi masyarakat maupun negara. Ketika pemerintah menaikkan harga BBM secara signifikan pada 2005, inflasi melonjak hingga 17,11%, salah satu yang tertinggi dalam sejarah pascareformasi. Lonjakan ini langsung menggerus daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga melambat, sementara jumlah penduduk miskin meningkat dari sekitar 35 juta menjadi 39 juta jiwa hanya dalam satu tahun.

Dampak serupa kembali terlihat pada episode kenaikan BBM 2013–2014. Inflasi kembali terdorong ke kisaran 8,3%, jauh di atas kondisi normal. Meski efek terhadap kemiskinan relatif lebih terkendali karena adanya bantuan sosial, konsumsi rumah tangga tetap melambat.

Kenaikan harga BBM hampir selalu memicu efek berantai: biaya transportasi naik, harga pangan terdorong, dan pada akhirnya seluruh harga barang dan jasa ikut terkerek. Bagi rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah, dampaknya terasa dalam bentuk meningkatnya biaya hidup.

Keputusan menahan harga BBM kali ini dapat dibaca sebagai upaya menghindari pengulangan siklus lama. Stabilitas harga energi berfungsi sebagai jangkar inflasi, menjaga konsumsi tetap tumbuh, serta memberikan kepastian bagi dunia usaha di tengah gejolak global. Apalagi inflasi tahunan masih terhitung tinggi akibat lonjakan setelah banjir Sumatra akhir tahun lalu.

Menahan harga BBM berarti pemerintah harus menanggung subsidi yang lebih besar saat harga minyak naik. Tapi tekanan fiskal justru dapat menjadi pemicu disiplin anggaran yang lebih kuat. Alih-alih sekadar menambah beban, pemerintah dipaksa melakukan realokasi dan efisiensi belanja secara lebih serius. 

Pengeluaran yang tidak produktif harus dipangkas, program yang tidak tepat sasaran perlu diperbaiki, dan kebocoran subsidi harus ditekan. Langkah ini membuka peluang penghematan anggaran yang lebih berkualitas, bukan dari memangkas perlindungan sosial, tetapi dari meningkatkan efektivitasnya.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Margin Terancam Harga CPO & Kemasan, Simak Prospek & Rekomendasi Saham Mayora (MYOR)
| Rabu, 01 April 2026 | 08:35 WIB

Margin Terancam Harga CPO & Kemasan, Simak Prospek & Rekomendasi Saham Mayora (MYOR)

MYOR mencetak gross profit margin (GPM) 22,0% sepanjang tahun 2025, lebih rendah ketimbang pencapaian di 2024. 

Saham AGII Cetak Rekor ATH Baru, Simak Prediksi Harga dan Rencana Bisnis 2026
| Rabu, 01 April 2026 | 08:00 WIB

Saham AGII Cetak Rekor ATH Baru, Simak Prediksi Harga dan Rencana Bisnis 2026

AGII mengoperasikan dua fasilitas produksi di Batam, yakni liquefaction plant pada Oktober 2025 serta nitrogen plant pada awal Desember 2025.

Efek Mudik Lebaran Tak Lagi Ampuh, Saham JSMR Malah Tertekan Kinerja dan Suku Bunga
| Rabu, 01 April 2026 | 07:40 WIB

Efek Mudik Lebaran Tak Lagi Ampuh, Saham JSMR Malah Tertekan Kinerja dan Suku Bunga

Model bisnis jalan tol yang dijalankan JSMR tergolong sangat sensitif terhadap fluktuasi daya beli masyarakat dan beban biaya modal.

Profitabilitas GOTO Makin Dekat, Fintech Jadi Kunci Utama?
| Rabu, 01 April 2026 | 07:35 WIB

Profitabilitas GOTO Makin Dekat, Fintech Jadi Kunci Utama?

Pencapaian EBITDA GOTO di 2025 lampaui ekspektasi. Analis ungkap strategi dan segmen pendorong utama. Cek rekomendasi sahamnya

Trio Saham ADRO, AADI, dan ADMR Membara, Ditopang Konflik Geopolitik & Harga Batubara
| Rabu, 01 April 2026 | 07:30 WIB

Trio Saham ADRO, AADI, dan ADMR Membara, Ditopang Konflik Geopolitik & Harga Batubara

Koreksi pada perdagangan terakhir bulan Maret masih tergolong wajar mengingat sebelumnya ADRO, AADI, dan ADMR sudah melaju kencang.

Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah, Net Sell Jumbo, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 01 April 2026 | 07:07 WIB

Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah, Net Sell Jumbo, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Apalagi kurs rupiah di pasar spot mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah, tutup di Rp 17.041 per dolar Amerika Serikat.

Penumpang Kereta Capai 4,9 Juta di Masa Lebaran
| Rabu, 01 April 2026 | 07:04 WIB

Penumpang Kereta Capai 4,9 Juta di Masa Lebaran

Berdasarkan data operasional PT KAI, pada 30 Maret 2026 KAI melayani 182.726 pelanggan kereta api jarak jauh dengan tingkat okupansi 111,8%.

Blibli (BELI) Bidik Pertumbuhan 20% di Tahun Ini
| Rabu, 01 April 2026 | 06:56 WIB

Blibli (BELI) Bidik Pertumbuhan 20% di Tahun Ini

Manajemen BELI mencermati, pertumbuhan kinerja di tahun lalu ditopang oleh peningkatan kinerja di seluruh segmen usaha.

Harga Patokan Ekspor Tembaga dan Emas Turun
| Rabu, 01 April 2026 | 06:47 WIB

Harga Patokan Ekspor Tembaga dan Emas Turun

Harga referensi (HR) emas juga terkoreksi dari US$ 5.135,76 per ons troi menjadi US$ 4.891,57 per ons troi.

Indeks Kepercayaan Industri Menyusut pada Maret 2026
| Rabu, 01 April 2026 | 06:44 WIB

Indeks Kepercayaan Industri Menyusut pada Maret 2026

Dari tiga variabel pembentuk IKI, hanya persediaan produk yang secara bulanan meningkat 1,22 poin menjadi 51,47 pada Maret 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler