Berita Bisnis

Eksis Sejak Zaman Kolonial, Begini Sepak Terjang Produsen Anker Bir

Kamis, 14 Maret 2019 | 09:00 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nama PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) kembali ramai setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berupaya merealisasikan janji kampanyenya untuk menjual saham perusahaan bir legendaris tersebut. Hingga saat ini, pemerintah provinsi DKI masih tarik ulur dengan DPRD terkait penjualan saham itu.

Delta Djakarta sejatinya merupakan perusahaan yang memberi untung. Saban tahun, produsen Anker Bir, San Miguel dan Carlsberg itu selalu mencatkan pertumbuhan kinerja keuangan. Bahkan, perusahaan ini konsisten membagi laba ke pemegang saham dalam bentuk dividen. Pemprov DKI yang mengempit 26,25% saham Delta Djakarta rata-rata memperoleh dividen Rp 38 miliar hingga Rp 40 miliar per tahunnya. Di tahun 2017, Pemprov DKI mengantongi Rp 48,57 dari dividen Delta Djakarta. 

Mayoritas saham Delta Djakarta dimiliki oleh perusahaan bir asal Filipina, San Miguel dengan kepemilikan saham 58,33%. Sementara itu, publik hanya mengempit 123,39 juta saham atau sebesar 15,42%. 

Nama Pemegang Saham Jumlah saham Presentase kepemilikan
28-Feb-19 2017 28-Feb-19 2017
San Miguel Malaysia, Private Limited 467,061,150 467,061,150 58.33% 58.33%
Pemeritah DKI Jakarta 210,200,700 210,200,700 26.25% 26.25%
Masyarakat 123,397,299 123,397,299 15.42% 15.42%
Jumlah 800,659,050 800,659,050 100% 100%

Menilik sejarahnya, Delta Djakarta sudah eksis sejak zaman kolonial. Delta Djakarta didirikan pertama kali di Indonesia pada 1932 sebagai pabrik pembuatan bir Jerman bernama NV Archipel Brouwerij. Lalu, perusahaan ini dibeli oleh firma Belanda dan namanya diganti menjadi NV De Oranje Brouwerij.

Tahun 1970, saat Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin berkuasa, perusahaan ini mengganti namanya menjadi Delta Djakarta. Perusahaan ini melepas sahamnya ke publik (IPO) pada 1984 di harga Rp 2.950 per saham. Konglomerasi San Miguel Corporation (SMC) mulai menjadi pemegang saham pengendali Delta Djakarta di tahun 1990.

Delta Djakarta memproduksi bir Pilsner dan Stout untuk pasar domestik Indonesia, dengan sejumlah merek di antaranya Anker Bir, Anker Stout, Carlsberg, San Miguel Pale Pilsen, San Mig Light, San Miguel Cerveza Negra dan Kuda Putih.

Perusahaan ini juga memproduksi dan mengekspor bir Pilsner dengan merek “Batavia”. Di kuartal terakhir 2017, Delta Djakarta mulai ekspansi ke negara tetangga, Timor Leste.

Kinerja meningkat 

Meski pemerintah sudah membatasi distribusi minuman beralkohol, kinerja Delta Djakarta nyatanya cukup stabil. Penjualannya memang tumbuh tipis, namun, laba yang dikantongi dalam tiga tahun terakhir bisa tumbuh dua digit. 

Per kuartal III 2018, penjualan bersih DLTA mencapai Rp 627,78 miliar, atau naik 15%. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan mencapai Rp 232,88 miliar, mendaki 23,2%. Artinya, margin laba bersih perusahaan ini mencapai 37%. Margin laba bersih ini juga melesat jika dibandingkan dengan kinerja lima tahun terakhir di kisaran 13%-17%. 

Rasio laba bersih terhadap jumlah aset atau ROA juga cukup tinggi. Dalam lima tahun terakhir, ROA Delta Djakarta berkisar 20% hingga 30%. Hingga akhir September 2018, jumlah aset Delta Djakarta mencapai Rp 1,4 triliun dengan arus kas sebesar Rp 257,13 miliar. 

Delta Djakarta sempat mengalami masa-masa sulit akibat pelarangan penjualan minuman beralkohol di minimarket. Pada akhir tahun 2015, penjualan emiten ini susut 20% year on year (yoy) menjadi Rp 699,50 miliar. Namun, Delta Djakarta melakukan efisiensi bisnis dan kembali meningkatkan penjualannya. 

Hasil Usaha (dalam jutaan rupiah) 30-Sep-18 2017 2016 2015 2014 2013
Penjualan bersih 627,785 777,308 774,968 699,507 879,253 867,067
Laba kotor 454,550 574,271 540,882 465,274 617,506 605,264
Laba bersih 232,889 279,745 253,725 190,478 282,588 264,451
laba dasar per saham * 291 349 317 238 17,647 15,515
Dividen tunai   208,170 144,119 96,079 96,079 192,158
Dividen tunai per saham*   260 180 120 6,000 12,000
* dalam rupiah penuh            

Delta Djakarta pun semakin optimistis kinerja keuangan tetap tumbuh positif tahun ini. Pada Januari 2019 lalu, Direktur Pemasaran Delta Djakarta Rony Titheruw mengatakan kepada KONTAN, pihaknya menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 10% pada tahun ini. 

Target tersebut dua kali lipat lebih besar dibanding target pertumbuhan pada tahun 2018 sebesar 5%. Delta Djakarta memang fokus menjual bir untuk pasar domestik. Namun di tahun ini, emiten tersebut juga tengah fokus ke pasar ekspor dengan tujuan Vietnam dan Thailand. 

Sejauh ini, pasar ekspor Delta Djakarta masih terbatas di Timor Leste dan Taiwan. Kontribusinya juga masih kecil, yakni Rp 2,79 miliar atau 0,44% dari total penjualan bersih per September 2018. 

Performa Saham

Meski kinerja keuangannya positif dan rajin membagi dividen, namun, saham Delta Djakarta tak terlalu ramai diperdagangkan. Jumlah saham beredar DLTA hanya 15,41%. Volume dan frekuensi transaksi juga tak terlalu besar. DLTA telah melakukan stock split pada 11 Juni 2015 sebesar 50 saham untuk setiap satu saham. Aksi korporasi ini memang membuat saham DLTA yang sebelumnya bergeming, lebih fluktuatif. Namun, tetap saja secara likuiditas masih kurang memadai. 

"Saham DLTA memang kurang likuid, sehingga sulit untuk menentukan target harga," ujar Muhammad Nafan Aji, analis Binaartha Sekuritas. 

Meski demikian, secara tren, saham ini cenderung meningkat. Sepanjang tahun ini, kenaikan saham DLTA sudah mencapai 21,82% dan 35,63% dalam setahun terakhir. Kemudian, jika ditarik dalam tga tahun ke belakang, kenaikan harga saham DLTA mencapai 30,10%. 

Rasio Keuangan (%) 30-Sep-18 2017 2016 2015 2014 2013
Return on Asset (RoA) 22.17 20.86 21.18 18.34 28.33 30.3
Return on Equity (RoE) 26.41 17.2 18.39 22.29 31.49 30.08
Net Income Margin Ratio 37.09 17.89 15.3 12.11 13.38 13.21

Saat ini, dengan harga rata-rata di Rp 6.675 per saham, saham DLTA diperdagangkan dengan price earning ratio (PER) 17,27 kali. Angka ini mendekati PER industri sebesar 18 kali. Menurut Nafan, rasio tersebut menunjukkan saham yang memiliki kapitalisasi pasar Rp 5,36 triliun itu sudah tak murah lagi. 

Alhasil, saham DLTA dinilai tak terlalu menarik untuk trading. Hanya investor jangka panjang yang mungkin tertarik untuk mengempit saham ini demi menikmati capital gain. Menurut analis Lotus Andalan Sekuritas, Krishna Setiawan, dengan nilai buku per saham Rp 1.468, harga saham DLTA sudah terlalu mahal. 

Jika dilihat dari industrinya, penjualan Delta Djakarta juga jauh lebih kecil dibandingkan pesaingnya, produsen Bir Bintang dan Heineken, PT Multi Bintang Tbk (MLBI). "Pangsa pasar bir juga terbatas," ujar Krihsna. 

Sejak Pemprov DKI kembali menggaungkan rencana untuk menjual saham DLTA, pergerakan saham ini cenderung menguat. Sepanjang tahun lalu, pergerakan minimun saham ini ada di kisaran Rp 5.200 hingga Rp 5.600. Nafan memprediksi, pergerakan harga saham DLTA di tahun ini hanya akan berkisar di rentang Rp 6.400-Rp 6.800. 

Pemprov DKI sendiri sempat menargetkan akan menjual saham Delta Djakarta senilai Rp 1,2 triliun. Artinya, Pemprov berpeluang melepas DLTA di kisaran harga Rp 5.708 per saham, atau di bawah harga pasar. Rencana ini, menurut Nafan, tidak bakal berdampak banyak bagi fundamental dan harga saham Delta Djakarta.

Saat ini pun, Gubernur Anies masih berupaya mendapat persetujuan DPRD untuk menjual saham bir Anker ini. Alasannya, dana dari penjualan saham bisa digunakan untuk pembangunan yang lebih bermanfaat.

Menurut Rio Christiawan, Dosen Hukum  Universitas Prasetya Mulya dalam kolom opini yang diterbitkan Harian KONTAN, Kamis, 14 Maret 2019,  pelepasan saham Delta Djakarta harus memenuhi nilai valuasi minimum yang disepakati antara pemprov, DPRD dan instansi terkait. Sehingga jual-beli saham ini bukan sekadar untuk memenuhi janji kampanye, tapi juga harus dipastikan tidak melanggar aturan, yakni dengan valuasi yang menguntungkan. Apalagi, aset pemprov sama juga dengan aset rakyat. 

Sehingga, penjualan saham Anker bir ini harus ditentukan nilai wajar oleh appraisal. Artinya, Pemprov DKI harus bisa memaparkan nilai valuasi penjualan saham tersebut dan menjelaskan berapa potensi keuntungan dari penjualan itu. "Karena jika harga jual dan valuasi tidak ditentukan secara tepat maka berpotensi menjadi persoalan hukum di kemudian hari," ujarnya.

Reporter: Narita Indrastiti
Editor: Narita Indrastiti


Baca juga