Ekspor Ubi Jalar Jepang, Meningkat Selama Tahun Lalu

Minggu, 18 April 2021 | 07:45 WIB
Ekspor Ubi Jalar Jepang, Meningkat Selama Tahun Lalu
[]
Reporter: Sumber: Tabloid Kontan | Editor: Hendrika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Akhir dekade 1990, ada euforia budidaya ubi jalar (sweet potato, Ipomoea batatas), varietas Jepang di Indonesia. Hasil panen ubi jalar itu akan dibeli oleh sebuah perusahaan, diproses jadi chips dan diekspor ke Jepang.

Euforia budidaya ubi jalar jepang menghadirkan dua pertanyaan. Mengapa disebut ubi jalar varietas jepang? Apakah di Jepang ada ubi jalar? Atau di Jepang tidak ada ubi jalar, hingga mereka mengimpornya dari Indonesia?

Jawabannya jelas. Petani Jepang justru telah membudidayakan ubi jalar lebih dahulu dibanding petani Indonesia. Ubi jalar berasal dari Amerika Tropis. Pada abad 4 dan 5; orang-orang Indian bermigrasi dari Amerika Tropis ke Kepulauan Pasifik menggunakan rakit kayu balsa. Mereka bawa bekal ubi jalar. Ketika disimpan lama, umbi itu akan tumbuh.

Migrasi ubi jalar dari Amerika Tropis ini terhenti di Timur Papua, Taiwan (Pulau Formosa), dan Pulau Okinawa. Dari timur Papua, ubi jalar berkembang ke kawasan pegunungan, tetapi tidak sampai ke Sorong, yang sudah lama jadi bagian dari Kesultanan Tidore. Jadi orang Papua sudah mengenal dan membudidayakan ubi jalar sejak abad 4-5. Waktu itu Pulau Formosa juga relatif kosong. Ada Etnisitas Dayak yang menghuni kawasan timur laut Formosa. Mereka mulai membudidayakan ubi jalar sejak abad 4 dan 5. Ubi jalar di Okinawa, terus berkembang ke utara dan dibudidayakan di Jepang.

Selain Sorong, wilayah lain di Papua masih terisolasi dari dunia luar sampai abad 19. Ketika Bangsa Eropa datang, Inggris lebih dahulu masuk ke Wilayah Papua, yang sekarang menjadi Papua Nugini. Pemerintah Hindia Belanda masuk ke Merauke, awal abad 20. Ubi jalar yang dibudidayakan di luar Papua, bukan berasal dari Papua, melainkan diintroduksi Bangsa Portugis dan Belanda, dari Amerika Tropis. Jadi orang Jepang, Penduduk asli Formosa, dan orang Pedalaman Papua; membudidayakan ubi jalar sejak abad 4&5. Sedang petani Indonesia baru membudidayakan ubi jalar paling cepat abad 17.

Jepang sendiri hanya menghasilkan ubi jalar sebesar 748.700 ton (FAO, 2019).

Inilah 10 negara penghasil ubi jalar terbesar dunia (FAO 2019, juta ton): China 51,9; Malawi 5,9; Nigeria 4,1; Tanzania 3,9; Uganda 1,9; Indonesia 1,8; Ethiopia 1,7; Angola 1,6; AS 1,45; Vietnam 1.40.

Posisi Indonesia di peringkat 6 penghasil ubi jalar dunia, sebenarnya memalukan. Dengan produksi hanya 1,8 juta ton; kita di bawah Uganda, Tanzania, Nigeria, dan Malawi. Padahal luas daratan kita 1,9 juta kilometer persegi; Malawi hanya 18.484. Populasi kita 270 juta jiwa, Malawi hanya 19,1.

Ekspor tepung ubi jalar

Meski Jepang tidak masuk 10 besar penghasil ubi jalar dunia, tetapi di negeri inilah umbi-umbian demikian dihormati dan dijadikan makanan bergengsi. Selain ubi jalar, yang juga dimuliakan di Jepang adalah uwi (Dioscorea polystachya, nagaimo); talas (Colocasia antiquorum, satoimo, edoe); dan konjac (Amorphophallus konjac). Padahal satoimo berasal dari Indonesia. Di sini namanya kimpul plecet, kimpul pari, kimpul salak, tales dempel dll. dan nama berbeda di masing-masing daerah. Belakangan untuk substitusi konjac, di Indonesia porang, iles-iles, Amorphophallus muelleri jadi naik daun. Meski ekspornya bukan hanya ke Jepang tetapi juga ke Korea dan China.

Di situs penjualan online, tepung ubi jalar ungu jepang ditawarkan Rp 25.000 kemasan 500 gram. Harga yang relatif tinggi mengingat tepung tapioka (pati singkong), kemasan yang sama, hanya Rp 8.000.

Tingginya harga tepung ubi jalar ungu, akibat hukum pasar. Ketika permintaan lebih tinggi dari pasokan, harga akan naik. Petani ubi jalar ungu jepang masih sangat terbatas dibanding petani ubi jalar varietas lain. Produsen tepungnya lebih terbatas lagi, sebab sebagian besar ubi jalar ungu jepang dipasarkan dalam bentuk umbi segar. Ini jadi salah satu indikator, bahwa peluang budidaya dan industri tepung ubi jalar masih cukup besar.

Pandemi tahun 2020 juga menjadi berkah bagi para petani dan pelaku industri tepung ubi jalar di Sumatera Utara. Januari sampai Juni 2020, ekspor tepung ubi jalar dari Sumut ke Jepang sudah mencapai 442 ton dengan nilai Rp2,2 miliar. Padahal selama tahun 2019, total ekspor tepung ubi jalar dari Sumut hanya 486 ton dengan nilai Rp2,1 miliar.

Pada Maret 2021, 24 ton ubi jalar segar dari Malang juga diekspor perdana ke China. Padahal China jawara ubi jalar dengan produksi 51,9 juta ton. Tetapi budidaya ubi jalar di China memang bukan hanya untuk konsumsi manusia. Hasil panen ubi jalar berupa batang (sulur), daun, umbi dan akar; dicuci dalam bak, lalu masuk ke pencacah untuk pakan babi.

Pendapat masyarakat China begini, daripada makan ubi jalar, lebih baik ubi jalar itu untuk pakan babi, lalu kami mengonsumsi daging babinya. Ini mirip dengan jagung. Amerika Serikat penghasil jagung utama dunia dengan produksi 392,4 (juta ton). Menyusul China 257,3; Brasil 82,2; Ukraina 35,8 dan Indonesia 30,2. Produksi jagung dunia didominasi oleh jagung kuning untuk pakan ternak, terutama unggas. Jadi ketika kita makan telur dan daging ayam, sebenarnya yang kita makan jagung kuning. Komponen pakan unggas lainnya bungkil, terutama bungkil kedelai, dan udang krill yang salah kaprah disebut sebagai tepung ikan.

Dibanding singkong, ubi jalar relatif menguntungkan karena di dataran rendah bisa dipanen pada umur tanam tiga bulan. Singkong baru bisa dipanen umur tanam sembilan bulan. Di dataran menengah dan tinggi umur panen ubi jalar lebih panjang. Sebenarnya, ini berlaku untuk semua tanaman budidaya, dengan rentang elevasi dari dataran rendah sampai tinggi. Di Wamena dengan elevasi 1.500 2.000 meter dpl; umur panen ubi jalar bisa lebih dari lima bulan. Dari sinilah tercipta varietas genjah untuk budidaya di dataran rendah; dan varietas dalam untuk budidaya di dataran tinggi.

Bagikan

Berita Terbaru

Reli Saham EMTK; Ada Peluang Kenaikan Berlanjut tapi Waspadai Risiko Profit Taking
| Minggu, 12 April 2026 | 13:30 WIB

Reli Saham EMTK; Ada Peluang Kenaikan Berlanjut tapi Waspadai Risiko Profit Taking

Pergeseran haluan EMTK dari sekadar di bisnis penyiaran konvensional menjadi raksasa multisektor berbuah manis. 

WIFI Siap Alokasikan Duit Rights Issue  Hampir Rp 6 Triliun untuk Internet Rakyat
| Minggu, 12 April 2026 | 12:08 WIB

WIFI Siap Alokasikan Duit Rights Issue Hampir Rp 6 Triliun untuk Internet Rakyat

WIFI menargetkan pembangunan 5.500 titik atau sites IRA tahun 2026. Adapun potensi menjangkau hingga 5 juta pelanggan sampai akhir tahun 2026. 

Ambisi B50 Terus Menuai Penolakan! Beban Subsidi Biodiesel bisa Capai Rp 29 Triliun
| Minggu, 12 April 2026 | 12:00 WIB

Ambisi B50 Terus Menuai Penolakan! Beban Subsidi Biodiesel bisa Capai Rp 29 Triliun

Negara berpotensi kehilangan penerimaan dari pos pajak dan bea keluar senilai Rp 11,9 triliun hingga Rp 14,6 triliun. 

Kondisi Ekonomi Menantang di Kuartal II-2026, Tiga Hal Perlu Diwaspadai Masyarakat
| Minggu, 12 April 2026 | 10:35 WIB

Kondisi Ekonomi Menantang di Kuartal II-2026, Tiga Hal Perlu Diwaspadai Masyarakat

CEO Confidence Index (ICCI) kuartal II-2026 terjerembap ke level 2,99, ini rekor terendah sejak Juli 2020.

Right Issue RMKO Memicu Harapan Jangka Pendek, namun Ketidakpastian Masih Tinggi
| Minggu, 12 April 2026 | 09:25 WIB

Right Issue RMKO Memicu Harapan Jangka Pendek, namun Ketidakpastian Masih Tinggi

Rights issue RMKO ditujukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan dan likuiditas.

Harga BBM Subsidi Tidak Akan Dinaikkan, APBN Sulit Bertahan & Pertamina Jadi Bantalan
| Minggu, 12 April 2026 | 08:35 WIB

Harga BBM Subsidi Tidak Akan Dinaikkan, APBN Sulit Bertahan & Pertamina Jadi Bantalan

Harusnya peran Pertamina dalam menyerap efek lonjakan harga BBM lebih menyerupai "pembeli waktu" ketimbang penahan beban permanen.

Strategi Investasi Dirut PADA: Dari Deposito Hingga Bisnis Riil
| Minggu, 12 April 2026 | 08:00 WIB

Strategi Investasi Dirut PADA: Dari Deposito Hingga Bisnis Riil

 Cahyanul Uswah punya cara untuk menghindari kerugian dengan strategi investasi jangka panjang yang disiplin

Konsolidasi Fiber Optic PLN Icon+, Valuasi Saham Telkom (TLKM) Berpotensi Melesat
| Minggu, 12 April 2026 | 07:33 WIB

Konsolidasi Fiber Optic PLN Icon+, Valuasi Saham Telkom (TLKM) Berpotensi Melesat

Dalam jangka pendek, margin laba TLKM diproyeksi tergerus akibat membengkaknya beban integrasi dan pergeseran fokus ke lini bisnis wholesale.

Peluang dan Risiko di Balik Lonjakan Harga Saham Papan Pengembangan
| Minggu, 12 April 2026 | 06:41 WIB

Peluang dan Risiko di Balik Lonjakan Harga Saham Papan Pengembangan

Saham papan pengembangan bisa cuan besar, tapi risikonya juga tinggi. Temukan cara memilih saham berkualitas dan strategi trading yang aman.

IHSG Menguat 6,14% Sepekan, Cek Prediksi Pekan Depan
| Minggu, 12 April 2026 | 06:38 WIB

IHSG Menguat 6,14% Sepekan, Cek Prediksi Pekan Depan

Meredanya ketegangan global dan musim dividen mengangkat IHSG 6,14%. Namun, tekanan domestik mengintai.

INDEKS BERITA