Emiten Rumahsakit Kurang Bugar

Jumat, 11 Februari 2022 | 08:05 WIB
Emiten Rumahsakit Kurang Bugar
[ILUSTRASI. Suasana rumah sakit Mitra Keluarga di Depok, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww.]
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah lonjakan kasus omicron di Tanah Air, saham-saham rumahsakit malah tampak lesu. Kemarin, mayoritas harga saham RS turun sampai 2%, sehingga kinerja sahamnya ikutan minus jika ditarik sejak akhir tahun lalu (lihat tabel).

Kinerja Saham Rumahsakit  
       
Saham Harga (Rp) 1 Hari (%) YTD (%)
HEAL 1.065 -2,74% -0,47%
BMHS 740 -3,27% -10,84%
MIKA 2.260 -2,59% 0%
PRIM  398 1,53% -0,50%
SAME 356 -2,73% -3,78%
SIILO 7.950 -0,62% -7,29%
SRAJ 284 -2,07% -8,39%
*Penutupan tanggal 10 Februari 2022
Sumber: RTI    

 Head of Investor Relations PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) Aditya Widjaja menyampaikan, manajemen rumahsakit Mitra Keluarga telah menyiapkan sekitar 660 kasur untuk perawatan covid-19 dan mengantisipasi lonjakan kasus. Seiring penambahan jumlah kasus secara nasional, volume rawat inap pasien terjangkit Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir mengalami peningkatan.

Namun, Aditya mengatakan, sejauh ini kenaikannya masih cukup terkendali. "Melihat kasus yang ada saat ini, rata-rata gejalanya kebanyakan ringan-sedang. Beda dengan waktu varian delta di mana kasusnya cukup banyak yang sedang dan berat," kata Aditya, Kamis (10/2).

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengatakan, katalis positif bagi emiten rumahsakit kali ini tidak akan sesignifikan saat gelombang kedua pada pertengahan tahun lalu. Sebab, gelombang ketiga akibat varian omicron ini lebih memungkinkan penderita melakukan isolasi mandiri di rumah, dengan tingkat keparahan yang dinilai tidak setinggi seperti varian delta.

Menimbang kondisi saat ini, pelaku pasar pun disarankan mencermati terlebih dulu pergerakan saham emiten rumahsakit. Meski beberapa hari sebelumnya menguat, namun pelemahan kemarin cukup signifikan. "Sebaiknya wait and see dulu hingga penurunan selesai," kata Cheryl.

Dia menilai, peluang emiten rumahsakit menumbuhkan pendapatan masih terbuka. Hanya saja pertumbuhan tidak akan sebesar tahun lalu.

Hal senada juga disampaikan oleh Analis Panin Sekuritas William Hartanto. Secara bisnis, tidak adanya lonjakan pasien bisa menjadi sentimen negatif bagi kinerja emiten rumahsakit. Namun, kondisi ini menandakan situasi sekarang tidak segawat seperti pada 2020 dan pertengahan 2021 lalu.

Bagi pelaku pasar, William juga menyarankan untuk wait and see. Alasannya, sebagian besar saham rumahsakit kini mengarah pada pelemahan.

Katalis positif

Di sisi lain, Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora melihat prospek kinerja rumahsakit dengan lebih optimistis. Andhika mengamini, bed occupancy rate (BOR) rumahsakit saat ini tidak setinggi ketika gelombang kasus covid-19 saat varian delta melanda.

Meski begitu, bukan berarti emiten rumahsakit tidak disertai katalis positif pada tahun ini. Andhika menilai, anggaran senilai Rp 256 triliun atau 9,4% dari total anggaran belanja negara menjadi wujud keseriusan pemerintah membenahi sektor kesehatan.

Selain itu, masih adanya pasien Covid-19 di samping pasien non-covid tetap bisa memberikan dampak positif untuk menjaga raihan pendapatan. "Jadi menurut kami kinerja emiten rumahsakit selama tahun ini akan tetap terjaga," kata Andhika.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei juga berpandangan pendapatan emiten rumahsakit pada tahun ini tetap bisa tumbuh, meski tidak setinggi pada tahun lalu. Jono memperkirakan kontribusi dari pasien Covid akan jauh lebih sedikit, dengan estimasi 25%-30% di 2021, menjadi tidak sampai 5% di tahun ini.

Dari sisi pengembangan usaha, emiten rumahsakit diprediksi tetap akan gencar melakukan ekspansi secara organik maupun anorganik. "Di tahun ini rumahsakit juga kembali ke bisnis dasarnya, yang melayani lebih banyak pasien non-covid," sebut Jono.

Emiten juga akan melakukan digitalisasi untuk efisiensi proses bisnis, sehingga kinerja emiten rumahsakit akan terus bertumbuh. Analisa Jono, pendapatan emiten RS masih bisa tumbuh single digit tahun ini.

Jono merekomendasikan buy MIKA dengan target harga Rp 2.750 dan HEAL dengan target harga Rp 1.320.

Sementara Andhika menyarankan buy on weakness saham MIKA di Rp 2.190-Rp 2.240. SILO bisa buy on weakness di rentang harga Rp 7.850-Rp 7.950.         

 

Bagikan

Berita Terbaru

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 13:00 WIB

Anomali Pergerakan Saham BRIS, Diprediksi Nafasnya Kuat Hingga Tembus 3.000

Saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) naik 5,78% dalam sepekan melebihi kinerja IHSG yang turun -4,47%, efek euforia pasca spin off dari BMRI.

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 11:00 WIB

PTPP dan Anak Usaha WIKA Digugat PKPU, Begini Kata Manajemen

WIKON diajukan PKPU oleh PT Pratama Widya Tbk (PTPW), sedangkan PTPP diajukan PKPU oleh PT Sinergi Karya Sejahtera.

 Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:00 WIB

Penonaktifan PBI JK Merugikan Rakyat Miskin

BPJS Kesehatan tidak memiliki kewenangan menonaktifkan kepesertaan PBI JK karena menjadi kewenangan Kemensos

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:58 WIB

Danantara Hilirisasi US$ 7 Miliar, Duet Emiten Mind Id, ANTM dan PTBA Ketiban Berkah

Danantara melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia. Total nilai mencapai US$ 7 miliar. 

 Revolusi Melalui Teladan
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:56 WIB

Revolusi Melalui Teladan

Perjalanan karier Joao Angelo De Sousa Mota dari dunia konstruksi ke pertanian, hingga menjadi Dirut Agrinas

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:37 WIB

Waspada Potensi Lonjakan Biaya Utang Jangka Pendek

Jika pemangkasan outlook membuat tekanan terhadap pasar SBN berlanjut dan mempengaruhi nilai tukar rupiah, maka imbal hasil berisiko naik

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:28 WIB

Cadangan Devisa Amblas Terseret Depresiasi Rupiah

Penerbitan global bond oleh pemerintah belum mampu menyokong cadangan devisa Indonesia              

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:25 WIB

Prospek Industri Multifinance Diprediksi Lebih Cerah

Prospek industri multifinance diperkirakan akan lebih cerah tahun ini setelah tertekan pada 2025.​ Piutang pembiayaan diprediksi tumbuh 6%-8%

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:05 WIB

Mewaspadai Risiko Gugatan Iklim

Ilmu pengetahuan kini sudah bisa menjadi penghubung antara adanya emisi gas rumah kaca dan bencana alam.

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin
| Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:00 WIB

Nasib Kripto 2026: Level Krusial Ini Tentukan Arah Harga Bitcoin

Bitcoin anjlok lebih dari 50% dari ATH, Ethereum senasib. Pahami risiko likuidasi massal dan hindari kerugian lebih parah.

INDEKS BERITA

Terpopuler