KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Statistics are like bikinis. What they reveal is suggestive, but what they conceal is vital. Demikian aforisme yang dilontarkan profesor statistik Aaron Levenstein. Tapi, jangan cepat-cepat membayangkan citra model majalah dewasa atau dunia hiburan yang sensasional. Metafora tersebut sama sekali bukan tentang model majalah dewasa yang menyeruak keluar dari kolam renang. Dalam konteks ini, metafora tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa sesuatu dapat tampak jelas dan meyakinkan di permukaan, sementara bagian yang tersembunyi justru menentukan makna sebenarnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, diskursus pasar modal Indonesia dipenuhi kekhawatiran bahwa status Emerging Market terancam oleh isu free float dan transparansi kepemilikan. OJK bahkan bereaksi cepat dengan melontarkan wacana pengetatan free float minimum hingga 15% serta kewajiban keterbukaan pemegang saham di atas 1%. Langkah ini tampak konkret dan solutif. Namun, apakah ia benar-benar menyasar persoalan atau jangan-jangan justru berangkat dari pembacaan yang terlalu sederhana terhadap metodologi indeks global?
