Gabriel Maryamto Sunu: Tidak Akan Meninggalkan Perusahaan Dalam Masa Sulit

Sabtu, 03 April 2021 | 08:02 WIB
Gabriel Maryamto Sunu: Tidak Akan Meninggalkan Perusahaan Dalam Masa Sulit
[ILUSTRASI. Gabriel Maryamto Sunu, Direktur Utama PT Dyandra Media International Tbk (DYAN)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

KONTAN.CO.ID - Semangat Gabriel Maryamto Sunu tetap menyala di tengah pandemi Covid-19. Dengan prinsip Fortiter in Re, Suaviter in Modo yang berarti kuat dalam prinsip, fleksibel dalam eksekusi kerja, dia ingin mengantarkan PT Dyandra Media International Tbk kembali bangkit. Sunu berjanji tidak akan meninggalkan perusahaan itu dalam masa sulit.

Sempat pensiun tahun 2017, Sunu tak kuasa menolak tawaran pimpinan Grup Kompas Gramedia untuk memimpin PT Dyandra Media International Tbk (DYAN). Perusahaan tersebut bergerak dalam bisnis meeting, incentives, conference, exhibitions (MICE).

Sunu mendapatkan kepercayaan untuk menduduki posisi Direktur Utama Dyandra dan sekaligus menggantikan Adrian Sebastian Herlambang yang sebelumnya mengundurkan diri karena sakit. "Saya ditunjuk Pak Liliek Oetama (CEO Kompas Gramedia) untuk bertugas di Dyandra tahun 2018," kata dia kepada KONTAN.

Sunu mengambil kesempatan tersebut karena ingin berkontribusi dan memberikan sesuatu yang lebih. Di sisi lain, dia juga merasa sudah mengetahui pengelolaan tiap unit bisnis serta proses bisnis yang berjalan di perusahaan.

Baca Juga: Arsjad Rasjid: Saya Akan Berdayakan Kadin Daerah

Asal tahu saja, semula Sunu tak pernah berpikir untuk terjun berkarier di sektor swasta. Sejak duduk di bangku SMA dan masuk kuliah, dia menyimpan cita-cita menjadi seorang politisi atau anggota DPR. Cita-cita itu datang karena kekagumannya melihat seorang politisi dengan tutur kata yang terstruktur.

Lantaran kagum, Sunu kemudian ingin mengambil jalan karier yang sama. Dia mendaftarkan diri ke jurusan Hubungan Internasional dan Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1977.

Tahun pertama dan kedua menempuh pendidikan, Sunu masih bermimpi menjadi politisi. Dia pun rajin mengikuti organisasi dan mempertahankan nilai-nilai kebaikan.

Pada tahun ketiga perkuliahan, Suni bahkan mulai terjun ke dunia politik. Dia menjadi anggota sebuah partai besar sebagai angkatan muda. Namun, di saat yang sama pula Sunu menemukan kesadaran lain.

Dia melihat dunia politik secara riil tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. "Banyak hal yang tidak sinkron sehingga idealisme untuk menjadi anggota DPR atau politikus tidak lagi menjadi cita-cita saya," ungkap bapak dari dua anak tersebut.

Baca Juga: Anindya Bakrie: Kadin Harus Lebih Membumi

Namun begitu, Sunu juga tak lantas serta-merta tertarik bekerja di sektor swasta. Arah hidupnya kala itu bergeser dengan menjadi dosen.

Pasca lulus dari UGM, Sunu mendaftarkan diri sebagai dosen di beberapa universitas. Salah satunya di Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan.

Tak lama berselang, Sunu melihat kesempatan lain di Kompas Gramedia (KG) Jakarta. Dia akhirnya mendaftarkan diri ke KG dan memperoleh kesempatan bekerja di bagian personalia atau human resources (HR) pada awal tahun 1980-an. Siapa sangka, itu adalah awal mula kariernya yang kemudian bertahan selama 30-40 tahun di KG.

Pekerjaan sebagai HR membuat Sunu harus berada di tengah-tengah kepentingan perusahaan. Dalam arti, dia harus bisa mewadahi aspirasi karyawan tapi pada saat yang sama menjadi wakil perusahaan.

Keseimbangan itu wajib agar aspirasi dan keharmonisan dalam serikat pun terjaga. "Saat itu, bisa dikatakan Kompas Gramedia (KG) menjalani masa terbaiknya sehingga atas dasar kinerja di kantor, saya dipercaya Almarhum Pak Jakob Oetama (pendiri Kompas Gramedia) melanjutkan sekolah pada tahun 1995," kata Sunu.

Sunu menjadi salah satu peletak dasar sistem terintegrasi yang berjalan di Kompas Gramedia. Sunu mempelajari sistem training, remunerasi hingga menyusun parameter yang harus dicapai unit bisnis KG.

Baca Juga: Kenali Diri Sendiri, Direktur Mansek Theodora Manik Pilih Saham LQ45

Dengan sokongan perusahaan, tahun 1995 Sunu bertolak ke Amerika Serikat untuo melanjutkan sekolah di University of Illinois at Urbana Champaign (UIUC) dengan subjek International Excecutive Development Program in Master of Science. Dia menghabiskan waktu belajar hingga tahun 1997 atau pada saat Indonesia dilanda krisis moneter dan krisis politik.

Saat kembali ke Indonesia, tak lama kemudian KG melakukan restrukturisasi. Sunu dipercaya menjabat Asisten Direktur Bidang HR.

Tahun 2005, Sunu menjabat sebagai Direktur Corporate Human Resource KG. Kala itu, Direktur Utama KG adalah Agung Adiprasetyo. Pada masa itu, Sunu banyak mengambil pelajaran berharga dari Agung Adiprasetyo.

Ada satu perkataan Agung Adiprasetyo yang membekas mengenai peninggalan yang bisa diwariskan kepada perusahaan. "Secara singkat, Pak Agung memberi petuah, bekerja itu bukan soal lama atau tidaknya memimpin perusahaan tetapi tentang apa yang bisa diwariskan untuk kelangsungan perusahaan," kenang Sunu.

Sewaktu menjabat di posisi puncak HR, Sunu telah membangun sistem remunerasi, parameter pencapaian, hingga sertifikasi SDM yang dipakai hingga kini. Jabatan tersebut dia emban hingga tahun 2008.

Pendidikan

1977–1982 Fakultas Sosial & Politik Universitas Gadjah Mada
1995–1997 International Executive Development Program in Master of Science in Business Administration, University of Illinois at Urbana Champaign (UIUC), Amerika Serikat

Perjalanan Karier

2005–2008 Corporate Human Resource Director Kompas Gramedia
2008–2016 Corporate Secretary & General Manager of Corporate Strategy Management Kompas Gramedia
2016–2017 Corporate Strategy Management Director Kompas Gramedia
2018–2020 Direktur & Corporate Secretary Dyandra
2020–sekarang Presiden Direktur PT Dyandra MediaInternational Tbk

Sumber: wawancara KONTAN

Sistem baru tersebut sekaligus membentuk parameter dan target kinerja untuk jajaran direktur maupun karyawan serta unit bisnis lain. Selain target dan kinerja bisnis, perusahaan juga bisa mengevaluasi kerja.

Belum lagi, sistem baru juga menyatukan langkah setiap komponen di KG dan mendorong budaya inovasi. Jadi ketika berbicara soal tujuan perusahaan, setiap karyawan memiliki satu suara. Setiap lini perusahaan memegang kesepakatan mengenai tujuan harus dicapai.

Saat menjalani peran tersebut, Sunu berupaya mengambil inisiatif mengundang jajaran direktur untuk mengomunikasikan target hingga pencapaia  serta memastikan sistem tetap berjalan. Pada medio 2015, KG mulai mengintegrasikan semua unit bisnis.

Pada masa itu Sunu menjalani peran yang krusial. "Saya banyak berkomunikasi dengan direktur tiap unit bisnis untuk memahami bagaimana proses operasional berjalan hingga pertumbuhan bisnisnya sehingga saya belajar bisnis dan praktik mengoordinasikan secara sistem," ujar dia.

Pada periode 2016 hingga 2018, Sunu menjabat sebagai Direktur sekaligus Corporate Secretary and General Manager of Corporate Syrategy Management KG. Dalam kesempatan tersebut, dia memimpin proses transformasi dan integrasi unit bisnis KG seperti media digital, cetak hingga televisi.

Baca Juga: Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan: Kami Merasa Menjadi Korban Diskriminasi

Sunu tetap terlibat dalam proses tersebut kendati sudah memasuki masa pensiun tahun 2017. Dari Mei sampai Desember 2018, dia memimpin proyek transformasi dan integrasi. Alhasil bisnis pemberitaan KG menjadi lebih terintegrasi.

Pada akhir 2018, Sunu mendapat tugas baru sebagai Corporate Secretary Dyandra. Biarpun masa kerja di KG sudah cukup lama, bidang usaha MICE yang ditekuni Dyandra terbilang ranah baru bagi dia.

Namun berbekal rekam jejak pengetahuan mendalam mengenai unit bisnis KG, Sunu mampu menjalani tugas baru itu. Bahkan kini ia menjabat posisi puncak sebagai Direktur Utama Dyandra.

Berada di jabatan tertinggi perusahaan di masa pandemi Viru Corona bukanlah hal yang mudah. Kondisi pada saat pandemi menantang nyali dan adrenalinnya. Namun Sunu mengaku menjadi lebih hidup di tengah tantangan tersebut.

Sunu harus berjibaku dan berusaha mencari kesempatan agar Dyandra bisa bertahan. Maklum, salah satu industri yang paling terpukul pandemi adalah sektor MICE.

Baca Juga: Sofyan Djalil: Persempit Ruang Gerak Mafia Tanah

Strategi baru pun dijalankan. Misalnya Dyandra menjalin kerja sama dengan lembaga pemerintah. Dyandra membidik pengelolaan sejumlah taman, proses pelayanan tes PCR hingga sejumlah potensi lainnya. Dalam proses kerja sama pengembangan taman dan kebun raya dengan pemerintah, Sunu mengaku terinspirasi dari pengelolaan kebun raya dan taman nasional di AS.

Dyandra juga akan bergerak ke arah pariwisata dengan menambah layanan aktivitas lain seperti hotel, kafe, tempat kamping dan lainnya. Dengan begitu, ke depan mereka tidak hanya berpusat pada penjualan karcis. Jika keadaan menjadi lebih baik, Dyandra bersiap menggelar acara yang tepat bagi masyarakat.

Sunu berkata, saat ini telah banyak permintaan untuk pengelolaan taman kepada Dyandra. Namun dia ingin melihat kinerja sebelumnya, yakni proyek di Bogor dan Semarang yang kini sudah dikelola Dyandra.

Sunu meyakini, bisnis MICE tidak akan mati. Keramaian masih dibutuhkan meski dibatasi dan berubah secara online. Alhasil, Dyandra juga fokus melaksanakan skema hybrid dengan menggabungkan online dan offline.

Biarpun zaman mulai bergeser, Sunu percaya, tren offline masih akan ada. "Digital tidak akan menggantikan offline sepenuhnya 100%, hal ini berlaku pada bidang MICE seperti pertemuan dan konvensi," kata dia.

Baca Juga: Direktur Bestprofit Futures Syaiful Rachman Jatuh Hati Pada Investasi Properti

Sunu berjanji tidak akan meninggalkan Dyandra di masa berat seperti saat ini. Dia optimistis keadaan bisa menjadi lebih baik sehingga Dyandra kembali bisa berlari.

Sunu memproyeksikan hingga akhir tahun ini, kerugian Dyandra bisa turun. Lalu tahun 2022 nanti perusahaan tersebut dapat bangkit lagi. Dia akan selalu berupaya meyakinkan investor untuk mempercayai Dyandra.

Ketika menyanggupi untuk memimpin Dyandra, bukan materi yang menjadi perhatian Sunu melainkan pengabdian kepada perusahaan yang telah membesarkannya. Kalau perkara materi, dia sudah merasa cukup.

Jika Dyandra membaik, Sunu mengatakan kemungkinan akan undur diri. "Saya tidak akan berhenti di saat sulit, tapi saya juga tahu kapan harus berhenti," tandas Sunu.

Mengoprek barang elektronik

 

Selain sibuk memikirkan strategi memperbaiki kinerja Dyandra, Sunu tak kehabisan waktu dan tenaga untuk menjalani hobi. Dia senang mengoleksi dan mengoprek perkakas elektronik. Minatnya itu sampai mendatangkan banyak pesanan dari luar negeri.

Hobi Sunu bermula dari pengalaman tinggal di Amerika Serikat. Dia memperhatikan orang AS lebih sering memperbaiki peralatan rumah sendiri sehingga punya perlengkapan perkakas sangat lengkap. Sekembalinya ke Indonesia, Sunu meniru kebiasaan orang AS.

Baca Juga: Jubir Vaksinasi Covid: Untuk Menghindari Kebocoran, Jenis Vaksin Gotong Royong Beda

Pada masa pandemi, Sunu semakin rajin menyelisik AC bahkan kamera CCTV yang terpasang di rumahnya. Sunu juga memperbaiki sistem lampu di rumah hingga memasang peralatan pagar otomatis. Jadi Sunu yang bertanggung jawab memastikan semua peralatan elektronik di rumah berfungsi.

Tidak semua upaya berhasil karena Sunu pernah gagal mengoprek mesin cuci. "Tidak apa, yang penting ada kepuasan di sana," jelas dia.

Hobi Sunu selaras dengan kesenangan sang istri di bidang desain interior. Sesekali istrinya kerap mengubah letak dan suasana rumah agar menjadi lebih asri.

Selain elektronik, Sunu menikmati pertunjukan wayang kulit. Melalui siaran streaming dari internet, dia bersama istri gemar menyaksikan pertunjukan wayang dari dalang terkenal bergaya Solo-Yogyakarta.

Sejak kecil, Sunu menyukai pertunjukan wayang kulit. Dulu, dia sampai mengikuti pertunjukan wayang kulit dari kampung ke kampung. "Kalau streaming di internet durasinya 3 jam sementara pertunjukan aslinya bisa 6 jam atau semalam suntuk," kata dia.

Saat ini pertunjukan wayang kulit oleh dalang baru semakin banyak dan bagus. Sunu menggemari pertunjukan wayang dari Ki Anom Suroto, Manteb Soedharsono hingga Ki Seno Nugroho.

Selanjutnya: Dharma Djojonegoro, Penyanyi Era 90-an yang Kini Berkarier di Pembangkit Listrik

 

Bagikan

Berita Terbaru

Amankan Penerimaan, Penagihan Pajak Digencarkan
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:09 WIB

Amankan Penerimaan, Penagihan Pajak Digencarkan

Ditjen Pajak melakukan pemblokiran rekening para wakib pajak yang masih memiliki tunggakan          

Defisit Melebar, Tekanan Eksternal Makin Besar
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 06:04 WIB

Defisit Melebar, Tekanan Eksternal Makin Besar

Current account deficit dan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 cetak rekor terburuk         

Mega Perintis (ZONE) Lebih Selektif dalam Ekspansi Gerai
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 05:20 WIB

Mega Perintis (ZONE) Lebih Selektif dalam Ekspansi Gerai

ZONE berhati-hati untuk ekspansi, mengingat kondisi makroekonomi di dalam negeri juga belum stabil dan daya beli masyarakat masih fluktuatif.

Krakatau Steel (KRAS) Intip Peluang Genjot Penjualan Baja
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 04:20 WIB

Krakatau Steel (KRAS) Intip Peluang Genjot Penjualan Baja

Konsumsi baja Indonesia saat ini masih berada di kisaran 65 kg per kapita per tahun. Angka ini masih tertinggal dibandingkan negara Asia Tenggara.

OJK Perketat Aturan Main Bisnis Sekuritas
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 04:15 WIB

OJK Perketat Aturan Main Bisnis Sekuritas

Regulator mengatur pengelompokan kegiatan usaha Perusahaan Efek (PEKU) ke dalam tiga kelas, yakni PEKU 1, PEKU 2, dan PEKU 3. 

Efek Gulir Ekonomi Piala Dunia
| Sabtu, 23 Mei 2026 | 04:00 WIB

Efek Gulir Ekonomi Piala Dunia

Dari semua sektor bisnis yang terdampak dari ajang Piala Dunia tersebut, layanan OTT diprediksi bakal mendapatkan porsi cuan terbesar.

Saham RMK Energy (RMKE) Masih Menarik pasca Stock Split
| Jumat, 22 Mei 2026 | 14:38 WIB

Saham RMK Energy (RMKE) Masih Menarik pasca Stock Split

Beda dengan mayoritas emiten batubara yang bergantung langsung pada harga komoditas, RMKE bergerak di sektor jasa logistik batubara terintegrasi.

Melihat Indonesia Pasca Disalip Singapura Sebagai Bursa Terbesar ASEAN
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:38 WIB

Melihat Indonesia Pasca Disalip Singapura Sebagai Bursa Terbesar ASEAN

Capital outflow asing sejak awal tahun telah mencapai lebih dari Rp 51 triliun, turut menekan IHSG dan meningkatkan volatilitas pasar domestik.

Ambruk 8 Hari Beruntun, IHSG Rentan Menjebol 6.000, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:29 WIB

Ambruk 8 Hari Beruntun, IHSG Rentan Menjebol 6.000, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Analis memperkirakan, IHSG hari ini masih dalam tren melemah. Bahkan ada potensi menjebol level 6.000.

Menggali Potensi Kakao Premium
| Jumat, 22 Mei 2026 | 07:11 WIB

Menggali Potensi Kakao Premium

"BPDP juga telah mengalokasikan pendanaan untuk mendukung sarana dan prasarana pascapanen serta pengolahan kakao

INDEKS BERITA

Terpopuler