Berita Interview

Gabriel Maryamto Sunu: Tidak Akan Meninggalkan Perusahaan Dalam Masa Sulit

Sabtu, 03 April 2021 | 08:02 WIB
Gabriel Maryamto Sunu: Tidak Akan Meninggalkan Perusahaan Dalam Masa Sulit

ILUSTRASI. Gabriel Maryamto Sunu, Direktur Utama PT Dyandra Media International Tbk (DYAN)

Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

Saat menjalani peran tersebut, Sunu berupaya mengambil inisiatif mengundang jajaran direktur untuk mengomunikasikan target hingga pencapaia  serta memastikan sistem tetap berjalan. Pada medio 2015, KG mulai mengintegrasikan semua unit bisnis.

Pada masa itu Sunu menjalani peran yang krusial. "Saya banyak berkomunikasi dengan direktur tiap unit bisnis untuk memahami bagaimana proses operasional berjalan hingga pertumbuhan bisnisnya sehingga saya belajar bisnis dan praktik mengoordinasikan secara sistem," ujar dia.

Pada periode 2016 hingga 2018, Sunu menjabat sebagai Direktur sekaligus Corporate Secretary and General Manager of Corporate Syrategy Management KG. Dalam kesempatan tersebut, dia memimpin proses transformasi dan integrasi unit bisnis KG seperti media digital, cetak hingga televisi.

Baca Juga: Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan: Kami Merasa Menjadi Korban Diskriminasi

Sunu tetap terlibat dalam proses tersebut kendati sudah memasuki masa pensiun tahun 2017. Dari Mei sampai Desember 2018, dia memimpin proyek transformasi dan integrasi. Alhasil bisnis pemberitaan KG menjadi lebih terintegrasi.

Pada akhir 2018, Sunu mendapat tugas baru sebagai Corporate Secretary Dyandra. Biarpun masa kerja di KG sudah cukup lama, bidang usaha MICE yang ditekuni Dyandra terbilang ranah baru bagi dia.

Namun berbekal rekam jejak pengetahuan mendalam mengenai unit bisnis KG, Sunu mampu menjalani tugas baru itu. Bahkan kini ia menjabat posisi puncak sebagai Direktur Utama Dyandra.

Berada di jabatan tertinggi perusahaan di masa pandemi Viru Corona bukanlah hal yang mudah. Kondisi pada saat pandemi menantang nyali dan adrenalinnya. Namun Sunu mengaku menjadi lebih hidup di tengah tantangan tersebut.

Sunu harus berjibaku dan berusaha mencari kesempatan agar Dyandra bisa bertahan. Maklum, salah satu industri yang paling terpukul pandemi adalah sektor MICE.

Baca Juga: Sofyan Djalil: Persempit Ruang Gerak Mafia Tanah

Strategi baru pun dijalankan. Misalnya Dyandra menjalin kerja sama dengan lembaga pemerintah. Dyandra membidik pengelolaan sejumlah taman, proses pelayanan tes PCR hingga sejumlah potensi lainnya. Dalam proses kerja sama pengembangan taman dan kebun raya dengan pemerintah, Sunu mengaku terinspirasi dari pengelolaan kebun raya dan taman nasional di AS.

Dyandra juga akan bergerak ke arah pariwisata dengan menambah layanan aktivitas lain seperti hotel, kafe, tempat kamping dan lainnya. Dengan begitu, ke depan mereka tidak hanya berpusat pada penjualan karcis. Jika keadaan menjadi lebih baik, Dyandra bersiap menggelar acara yang tepat bagi masyarakat.

Sunu berkata, saat ini telah banyak permintaan untuk pengelolaan taman kepada Dyandra. Namun dia ingin melihat kinerja sebelumnya, yakni proyek di Bogor dan Semarang yang kini sudah dikelola Dyandra.

Sunu meyakini, bisnis MICE tidak akan mati. Keramaian masih dibutuhkan meski dibatasi dan berubah secara online. Alhasil, Dyandra juga fokus melaksanakan skema hybrid dengan menggabungkan online dan offline.

Biarpun zaman mulai bergeser, Sunu percaya, tren offline masih akan ada. "Digital tidak akan menggantikan offline sepenuhnya 100%, hal ini berlaku pada bidang MICE seperti pertemuan dan konvensi," kata dia.

Baca Juga: Direktur Bestprofit Futures Syaiful Rachman Jatuh Hati Pada Investasi Properti

Sunu berjanji tidak akan meninggalkan Dyandra di masa berat seperti saat ini. Dia optimistis keadaan bisa menjadi lebih baik sehingga Dyandra kembali bisa berlari.

Sunu memproyeksikan hingga akhir tahun ini, kerugian Dyandra bisa turun. Lalu tahun 2022 nanti perusahaan tersebut dapat bangkit lagi. Dia akan selalu berupaya meyakinkan investor untuk mempercayai Dyandra.

Ketika menyanggupi untuk memimpin Dyandra, bukan materi yang menjadi perhatian Sunu melainkan pengabdian kepada perusahaan yang telah membesarkannya. Kalau perkara materi, dia sudah merasa cukup.

Jika Dyandra membaik, Sunu mengatakan kemungkinan akan undur diri. "Saya tidak akan berhenti di saat sulit, tapi saya juga tahu kapan harus berhenti," tandas Sunu.

Mengoprek barang elektronik

 

Selain sibuk memikirkan strategi memperbaiki kinerja Dyandra, Sunu tak kehabisan waktu dan tenaga untuk menjalani hobi. Dia senang mengoleksi dan mengoprek perkakas elektronik. Minatnya itu sampai mendatangkan banyak pesanan dari luar negeri.

Hobi Sunu bermula dari pengalaman tinggal di Amerika Serikat. Dia memperhatikan orang AS lebih sering memperbaiki peralatan rumah sendiri sehingga punya perlengkapan perkakas sangat lengkap. Sekembalinya ke Indonesia, Sunu meniru kebiasaan orang AS.

Baca Juga: Jubir Vaksinasi Covid: Untuk Menghindari Kebocoran, Jenis Vaksin Gotong Royong Beda

Pada masa pandemi, Sunu semakin rajin menyelisik AC bahkan kamera CCTV yang terpasang di rumahnya. Sunu juga memperbaiki sistem lampu di rumah hingga memasang peralatan pagar otomatis. Jadi Sunu yang bertanggung jawab memastikan semua peralatan elektronik di rumah berfungsi.

Tidak semua upaya berhasil karena Sunu pernah gagal mengoprek mesin cuci. "Tidak apa, yang penting ada kepuasan di sana," jelas dia.

Hobi Sunu selaras dengan kesenangan sang istri di bidang desain interior. Sesekali istrinya kerap mengubah letak dan suasana rumah agar menjadi lebih asri.

Selain elektronik, Sunu menikmati pertunjukan wayang kulit. Melalui siaran streaming dari internet, dia bersama istri gemar menyaksikan pertunjukan wayang dari dalang terkenal bergaya Solo-Yogyakarta.

Sejak kecil, Sunu menyukai pertunjukan wayang kulit. Dulu, dia sampai mengikuti pertunjukan wayang kulit dari kampung ke kampung. "Kalau streaming di internet durasinya 3 jam sementara pertunjukan aslinya bisa 6 jam atau semalam suntuk," kata dia.

Saat ini pertunjukan wayang kulit oleh dalang baru semakin banyak dan bagus. Sunu menggemari pertunjukan wayang dari Ki Anom Suroto, Manteb Soedharsono hingga Ki Seno Nugroho.

Selanjutnya: Dharma Djojonegoro, Penyanyi Era 90-an yang Kini Berkarier di Pembangkit Listrik

 


Baca juga