Gelar Studi Proyek Jaringan Gas, PGAS Siap Bangun Sambungan Rumah Tangga

Senin, 18 Februari 2019 | 09:53 WIB
Gelar Studi Proyek Jaringan Gas, PGAS Siap Bangun Sambungan Rumah Tangga
[]
Reporter: Febrina Ratna Iskana | Editor: Dian Pertiwi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk siap memperluas proyek jaringan gas (jargas) ke berbagai kota di Indonesia. Anggota Holding BUMN Migas ini tengah menggelar studi pre front end engineering design (FEED) atau pra penyusunan desain teknis dan rekayasa awal.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Dilo Seno Widagdo menyebutkan sejak dua bulan lalu, pihaknya sudah memulai studi Pre-FEED di 26 kota di Indonesia. "Kami sudah inventaris, ada sekitar 26 kota untuk studi Pre-FEED. Sudah terdaftar hampir sekitar 1,2 juta (calon pelanggan)," ungkap dia, Sabtu (16/2).

Dari 1,2 juta calon pelanggan itu, emiten berkode saham PGAS di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mengharapkan bisa mulai membangun 400.000 sambungan rumah tangga (SR) pada tahun ini dan diproyeksikan bisa mencapai 1 juta SR pada 2025.

"Targetnya, kami sebenarnya ingin pada tahun ini sebanyak 400.000-an SR dari 1,2 juta SR tadi. Memang belum maksimal, tapi tahun 2020 hingga 2025 bisa sekitar 1 jutaan," jelas Dilo.

Namun rencana PGAS masih tergantung kesiapan dan perizinan dari pemerintah kota atau pemerintah kabupaten yang akan dilalui proyek jargas. Di sisi lain, manajemen PGAS juga harus menyiapkan pendanaan untuk proyek jargas tersebut.

Nilai belanja modal (capex) yang diperlukan di proyek jargas cukup besar. Untuk membangun satu sambungan rumah tangga, misalnya, memerlukan dana sebesar Rp 10 juta. Dengan asumsi 1 juta rumah tangga, maka kebutuhannya mencapai Rp 10 triliun.

Sejatinya, rencana PGAS merupakan upaya mengejar target pembangunan jargas yang telah dicanangkan pemerintah. Pemerintah menargetkan proyek jargas mencapai 4,7 juta SR pada tahun 2025. Akan tetapi dana yang disiapkan dari APBN hanya mampu membiayai proyek jargas sekitar 100.000 SR setiap tahun.

Oleh karena itu, pemerintah mengharapkan BUMN bisa membangun proyek jargas di luar pendanaan APBN. Pemerintah pun telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Gas Bumi Melalui Jaringan Transmisi dan/atau Distribusi Gas Bumi Untuk Rumah Tangga dan Pelanggan Kecil untuk membantu badan usaha membangun jargas.

Dilo menyebutkan, Perpres Jargas ini membuka peluang bagi badan usaha untuk melakukan kerjasama dan mempermudah pembiayaan. Salah satunya dengan melakukan Kerja Sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) atau pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA ).

Mencapai target pembangunan jargas sebanyak 4,7 juta membutuhkan kerjasama dengan badan usaha. "Perpres yang baru mengamanatkan Holding Migas dan subholding gas untuk mengembangkannya. Konsep KPBU yang kami usulkan nanti bisa dalam bentuk availability payment, viability gap fund. Itu sekarang studinya sedang kami lakukan, nanti kami akan akselerasi dalam bentuk PINA, termasuk PGAS juga akan mengajak mitra kerja untuk akselerasi pembangunan jargas sehingga tahun 2025 bisa mencapai 4,7 juta sambungan," jelas Dilo.

Sejak meluncur pada 2009, program jargas diklaim mampu menekan impor liquefied petroleum gas (LPG) sebesar 4,5 juta ton–4,7 juta ton per tahun. Hingga kini telah terpasang sebanyak 325.773 SR pada 16 provinsi di 40 kabupaten/kota di Indonesia.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:33 WIB

Kepercayaan Pasar Belum Pulih, IPO di BEI Masih Sepi

Sejak awal tahun hingga 12 Oktober 2026, baru ada tujuh emiten melantai di BEI, dengan total dana yang dihimpun Rp 2,16 triliun. 

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:28 WIB

Saham Big Caps Anjlok, Kinerja IHSG Semakin Jeblok

Saham-saham big caps rontok pada perdagangan Senin (12/10) akibat rumor sanksi OJK terhadap sejumlah emiten.

 

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:12 WIB

ASII Tender Sukarela Saham AUTO Pada Harga Rp 3.600

Dalam penawaran ini, PT Astra International Tbk (ASII) berencana membeli saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) paling banyak 238.442.293 lembar.

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:04 WIB

CSRA Tebar Dividen Interim Hingga Rp 30,75 Miliar

 PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membagikan dividen interim sebesar Rp 30,75 miliar dari buku tahun 2026.

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:19 WIB

Prospek Saham MTEL: Peluang dari 5G, FWA, Fiber Optik, dan Konsolidasi Menara

Sekitar separuh menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) telah terhubung dengan jaringan serat optik. 

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:53 WIB

Martina Berto (MBTO) Bidik Pertumbuhan Penjualan 24%

Bisnis jasa manufaktur atau maklon untuk industri kosmetik turut menambah pundi-pundi PT Martina Berto Tbk (MBTO). 

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Rumor Temuan Manipulasi Harga Pengaruhi MSCI & FTSE, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Yang ditakutkan pasar, temuan manipulasi bisa memengaruhi perlakuan MSCI dan FTSE tepat menjelang keputusan November mendatang.

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Produksi CPO Cisadane Sawit Raya (CSRA) Ditopang Tiga Pabrik

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) membidik volume produksi minyak sawit mentah tumbuh 31% di sepanjang tahun ini

Dihadang Bea Keluar, Ekspor Emas Indonesia Anjlok
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:38 WIB

Dihadang Bea Keluar, Ekspor Emas Indonesia Anjlok

Prospek kinerja emiten sektor emas tetap solid karena harga emas masih bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi.

Menakar Prospek GJTL di Tengah Rencana Bangun Pabrik Ban EV Senilai Rp 10 Triliun
| Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:23 WIB

Menakar Prospek GJTL di Tengah Rencana Bangun Pabrik Ban EV Senilai Rp 10 Triliun

GJTL masih harus menghadapi persaingan dengan produsen ban asal China yang menawarkan harga lebih murah.​

INDEKS BERITA

Terpopuler