Harga Minyak Menekan Banyak Pihak, dari Pemerintah, Bank Sentral, Hingga Masyarakat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia yang bertahan di atas US$ 100 per barel mulai mempersempit ruang fiskal Indonesia. Tekanan tidak hanya datang dari membengkaknya subsidi dan kompensasi energi, tetapi juga berpotensi merembet ke nilai tukar, inflasi, hingga kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Maklum, sensitivitas harga minyak terhadap kondisi keuangan negara cukup besar. Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman mengatakan, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 1 per barel berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp 6 triliun – Rp 7 triliun. Dengan asumsi kenaikan harga minyak sekitar US$ 30 dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tambahan beban bisa mencapai sekitar Rp 180 triliun – Rp 210 triliun.
