Hetzer Medical (MEDS) Tak Puas Menjadi Produsen Masker

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 04:45 WIB
Hetzer Medical (MEDS) Tak Puas Menjadi Produsen Masker
[]
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Walau pandemi Covid-19 mulai melandai, pebisnis peralatan kesehatan PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) yakin permintaan masker tetap tinggi. Sejak awal berdiri pada Desember 2010 dan beroperasi pada Maret 2011, MEDS memang berfokus memproduksi masker bedah tiga lapis.

Direktur Utama Hetzer Medical Indonesia, A. Padmono Budi Sanyoto menjelaskan, pada 2013, MEDS mulai memproduksi masker tiga lapis 4D yang sekarang banyak digunakan. Produk ini dianggap banyak dipilih karena memperkecil bakteri masuk. 

MEDS juga fokus mengembangkan bisnis dengan skema private label. "Kurang lebih saat ini sudah ada 17 produk dengan private label," tutur Padmono. 

Baca Juga: Hetzer Medical (MEDS) Optimistis Pasar Masker Tetap Ada Meski Covid-19 Berakhir

Pada 2018, MEDS juga memproduksi topi moven untuk operasi. Hetzer Medical juga memasarkan produk masker dengan merek sendiri, Evo Plusmed dan Evo. 

Padmono bilang, MEDS menjual produk melalui tiga segmen saluran. Pertama, segmen business to business (b2b) dengan menjual produk ke distributor ataupun lewat skema private label. Kedua, segmen business to government (b2g) dengan menjual produk pada pemerintah. 

Padmono menjelaskan, pada segmen b2g, masker Evo Plusmed telah dipakai oleh perwakilan kontingen Indonesia di Olimpiade 2020 Tokyo, Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 di Papua dan MotoGP Pertamina Mandalika 2022. "Sejak pandemi Covid-19, kami juga sudah mendukung pemerintah melalui BIN dan BNPB dalam rangka menekan kelangkaan masker di Indonesia," ucap dia. 

Ketiga, MEDS memasarkan masker melalui segmen saluran business to customer (b2c). Pada saluran ini, MEDS memasarkan melalui e-commerce dan sosial media. 

Dari ketiga segmen itu, Padmono mengakui penjualan masih didominasi dari penjualan ke konsumen langsung. Menurut dia, ini didukung oleh loyalitas konsumen. "Segmen b2c menyumbang sekitar 60%, kemudian b2b sekitar 30% dan b2g sedikit sekali, mungkin hanya 5%-10%," papar dia. 

Baca Juga: Pasca IPO, Produsen Masker Evo Plusmed (MEDS) Gencar Diversifikasi Produk

Sampai kuartal I-2022, MEDS mencatatkan penjualan Rp 13,03 miliar. Nilai ini masih lebih rendah dari Rp 25,56 miliar pada kuartal I-2021. Dari sisi bottom line, Hetzer Medical membukukan laba bersih Rp 2,73 miliar per Maret 2022, lebih rendah dari Maret 2021 di Rp 16,34 miliar.

Produk baru

MEDS optimistis permintaan masker masih akan tinggi. "Kami memproduksi masker sebelum pandemi Covid-19 ada. Kami sudah melewati masa-masa sulit dan lebih sulit dari masa sekarang," kata Padmono.

Saat pra-pandemi, kebutuhan akan masker umumnya mencapai 100%. Namun sejak 2020-2021 kebutuhan masker naik hingga 400%. "Setelah 2022 dan ke depannya, kami masih yakin kebutuhan masker akan lebih dari 200% atau lebih dari sebelumnya. Jadi orang akan lebih sering menggunakan masker dari sebelum pandemi," terang dia. 

Secara prospek, Padmono bercerita, dulu masker hanya digunakan di rumahsakit sehingga volume produksinya sedikit. "Kebutuhan akan naik ketika ada bencana seperti gunung meletus atau kebakaran hutan," ujar dia. Tapi sekarang dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan, maka ia yakin permintaan masih akan tinggi. 

Selain memproduksi masker, MEDS sedang dalam proses untuk diversifikasi produk. MEDS akan mulai memproduksi alat kesehatan tensimeter dan stetoskop. "Kami percaya permintaan tensimeter dan stetoskop tinggi di Indonesia," tutur Padmono. Dia juga mengharapkan, kedua produk anyar ini dapat diproduksi dalam dua atau tiga bulan ke depan. 

Baca Juga: Hetzer Medical Indonesia (MEDS) Siap Diversifikasi Produk

Rencananya, penjualan alat kesehatan ini masih fokus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. MEDS menilai peluang pasar alat kesehatan di Indonesia masih besar. 

Pengembangan bisnis ke alat kesehatan seperti tensimeter dan stetoskop ini juga sejalan dengan anjuran pemerintah yang menerapkan kemandirian industri kesehatan PTKDN. Berdasarkan data Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia, kebutuhan alat kesehatan di Indonesia masih didominasi produk impor, yakni mencapai 85%. 

Sementara barang lokal masih 15%, bahkan kurang dari itu. "Jadi kami yakin pangsa pasar masih sangat besar. Jangan sampai dijajah oleh produk luar, agar kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri," kata Padmono

Padmono juga menjelaskan jika produk baru MEDS, yakni tensimeter dan stetoskop ini, pada tahap awal akan fokus ke dalam negeri dan belum untuk ekspor. "Kami melihat kebutuhan dalam negeri belum tercukupi," terang Padmono. Dua produk tersebut masih jadi produk awal yang mungkin bisa bertambah ke depan.                                     

Janji Rajin Bagi Dividen

Agustus lalu, saham PT Hetzer Medical Indonesia Tbk mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Sayangnya harga sahamnya terlihat memerah dalam sebulan terakhir, yakni turun 26,67%. Untungnya jika dibandingkan dengan harga IPO di Rp 125 per saham, harga MEDS masih naik. Jumat (30/9) harga MEDS di Rp 220 per saham.

Direktur Utama MEDS A. Padmono Budi Sanyoto berjanji akan menjaga fundamental kinerja dan mencegah kerugian. "Kami akan memperkuat bisnis dengan mengerek penjualan dan laba bersih dengan cara melakukan diversifikasi," terang dia. MEDS juga berjanji akan rajin membagi dividen. Hingga kuartal I-2022, laba bersih MEDS di Rp 2,73 miliar. 

Baca Juga: Resmi Melantai di BEI, Saham Produsen Masker Evo Plusmed (MEDS) Melesat 34,40%

Hingga Agustus 2022, sebesar 36% saham MEDS dikuasai Jemmy Kurniawan dan 28% dikuasai Franciscus Rijadi. Padmono, Fancy Marsiana, Alexander dan Engel Stefan masing-masing punya 4%.  

Bagikan

Berita Terbaru

Ekonomi Sulit, Prospek Asuransi Properti Masih Berat
| Kamis, 10 September 2026 | 21:26 WIB

Ekonomi Sulit, Prospek Asuransi Properti Masih Berat

Pada semester I-2026, AAUI mencatat pendapatan premi asuransi properti tergelincir 13,6% secara tahunan menjadi hanya Rp 15,51 triliun

Redemption Berlanjut, Unit Penyertaan Reksadana Anjlok 30 Miliar Dalam 5 Bulan
| Kamis, 10 September 2026 | 15:11 WIB

Redemption Berlanjut, Unit Penyertaan Reksadana Anjlok 30 Miliar Dalam 5 Bulan

Data OJK menunjukkan, total dana kelolaan reksadana pada Agustus 2026 mencapai Rp 656,90 triliun, naik tipis dibandingkan Juli 2026.​

Kepemilikan SRBI Tembus Rekor, Porsi Dana Asing Hampir 28% dari Outstanding
| Kamis, 10 September 2026 | 13:02 WIB

Kepemilikan SRBI Tembus Rekor, Porsi Dana Asing Hampir 28% dari Outstanding

Kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menembus Rp 294,66 triliun pada Agustus 2026

Jelang Rebalancing GDX dan GDXJ, AMMN Diprediksi Masuk, PSAB Keluar
| Kamis, 10 September 2026 | 12:00 WIB

Jelang Rebalancing GDX dan GDXJ, AMMN Diprediksi Masuk, PSAB Keluar

Jika benar masuk, analis memperkirakan AMMN akan mendapat bobot 1,03% di Global Junior Gold Miners Index (GDXJ)​.

Dividen Melesat, Ekspansi Terhambat
| Kamis, 10 September 2026 | 10:05 WIB

Dividen Melesat, Ekspansi Terhambat

Pembagian dividen BUMN yang terus meningkat berpotensi menggerus fleksibilitas keuangan perusahaan negara

ITMG Membidik Peluang di Sektor Mineral Strategis
| Kamis, 10 September 2026 | 10:02 WIB

ITMG Membidik Peluang di Sektor Mineral Strategis

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membuka peluang diversifikasi dengan memperluas portofolio ke mineral strategis.

Ketidakpastian Aturan Pajak dan Regulasi Mengganjal Laju EBT
| Kamis, 10 September 2026 | 09:12 WIB

Ketidakpastian Aturan Pajak dan Regulasi Mengganjal Laju EBT

Pemerintah mengkaji insentif baru pengganti tax holiday yang sudah habis tahun lalu, bagi pengembang energi bersih

Mayapada Hospital (SRAJ) Alokasikan Rp 1 Triliun untuk Ekspansi Layanan
| Kamis, 10 September 2026 | 09:08 WIB

Mayapada Hospital (SRAJ) Alokasikan Rp 1 Triliun untuk Ekspansi Layanan

PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) atau Mayapada Healthcare menyiapkan belanja modal (capex) sekitar Rp 1 triliun pada 2026. 

Harga Tembaga Rally Hingga Mencapai Rekor, AMMN Lebih Diuntungkan Dibanding MDKA?
| Kamis, 10 September 2026 | 09:02 WIB

Harga Tembaga Rally Hingga Mencapai Rekor, AMMN Lebih Diuntungkan Dibanding MDKA?

Potensi re-rating masih terbuka jika harga tembaga bertahan tinggi dan kemudian tercermin pada laba, cash flow, serta progres produksi.

Strategi WTON Mencari Margin Lebih Baik
| Kamis, 10 September 2026 | 09:02 WIB

Strategi WTON Mencari Margin Lebih Baik

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) mulai mengubah strategi untuk memperbaiki profitabilitas di tengah tekanan industri konstruksi. ​

INDEKS BERITA

Terpopuler