Hubungan Antara Teori Konsumsi dan Teori Investasi

Selasa, 18 Juli 2023 | 09:52 WIB
Hubungan Antara Teori Konsumsi dan Teori Investasi
[ILUSTRASI. ANALISIS - Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri]
Hans Kwee | Praktisi Pasar Modal, Dosen Magister Atma Jaya dan Trisakti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsumsi adalah pembelanjaan barang dan jasa rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan. Teori konsumsi mempelajari, bagaimana manusia memuaskan kebutuhan dengan pembelian atau penggunaan barang dan jasa..

John Maynard Keyness menduga, kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity to consume) dari jumlah konsumsi atas setiap tambahan pendapatan. Ada kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (average propensity to consume) turun seiring kenaikan pendapatan. 

Ini menjelaskan, orang kaya menabung dengan porsi lebih tinggi dari pendapatan. Keyness percaya, pendapatan merupakan determinan seseorang menentukan konsumsi dan tidak terlalu dipengaruhi oleh tingkat bunga.

Milton Friedman mengemukakan teori konsumsi, dengan hipotesis pendapatan permanen. Ada dua pendapatan, yakni pendapatan permanen dan pendapatan sementara.

Pendapatan permanen dapat diperkirakan, seperti gaji, upah. Ini mempengaruhi konsumsi seseorang. Sedangkan pendapatan sementara tidak dapat diperkirakan sebelumnya dan dianggap tidak mempengaruhi konsumsi.

Franco Modigliani mengemukakan Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup. Jadi, penerimaan dan pengeluaran konsumsi seseorang dipengaruhi siklus hidup. Orang biasanya menerima penghasilan atau pendapatan rendah pada saat muda. Lalu tinggi pada umur menengah dan kembali rendah pada usia tua. 

Rasio tabungan berfluktuasi sejalan perkembangan umur. Yaitu orang muda mempunyai tabungan negatif (dissaving). Orang berumur menengah menabung dan membayar kembali pinjaman  masa muda. Orang-orang tua mengambil tabungan yang dibuat di usia menengah.

James Dusenberry mengemukakan Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif. James percaya orang melakukan konsumsi berdasarkan pendapatan yang diperoleh. Ketika pendapatan berkurang, tidak serta merta menurunkan jumlah konsumsi.

Sehingga terpaksa menurunkan jumlah tabungan (saving). Apabila pendapatan bertambah, konsumsi akan bertambah tetapi tidak sebesar jumlah yang ditabung (saving).

Semakin besar barang yang dikonsumsi, semakin besar manfaatnya dan utilitas yang merupakan ukuran manfaat akan naik. Tetapi d isini berlaku Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The law of diminishing marginal utility)

Tambahan konsumsi barang dan jasa pada titik tertentu  menimbulkan penurunan tambahan kepuasan mengkonsumsi. Bahkan pada titik tertentu tambahan kepuasan akan negatif. Ini mendorong orang tidak menambah konsumsi dan cenderung melakukan penundaan konsumsi atau menabung.

Dalam ekonomi paling sederhana, di sebuah pulau hanya ada satu orang memproduksi, lalu barang tersebut dikonsumsi sendiri. Orang tersebut menghadapi pilihan: mengkonsumsi sekarang atau di masa mendatang. Keputusan mengkonsumsi sekarang atau masa depan akan menghasilkan kurva indiferen (indifference curve), memberikan tingkat utilitas yang sama.

Penundaan konsumsi, masuk ke aset produktif, hasilnya untuk konsumsi di masa depan disebut sebagai investasi. Investasi  sebagai penanaman modal  berjangka panjang dengan harapan mendapat keuntungan di masa datang. Ini kompensasi penundaan konsumsi, dampak inflasi dan risiko. Investasi tepat meningkatkan tingkat kepuasan konsumen di masa datang.

Pasar keuangan seperti bank dan pasar modal memberi kesempatan perpindahan dana dari yang kelebihan ke yang membutuhkan. Bank dan pasar uang membentuk tingkat keseimbangan tingkat bunga.

Investasi perusahaan yang dipelajari di capital budgeting dalam corporate finance dipengaruhi biaya modal, salah satu komponennya tingkat bunga. Di sisi lain, investasi pasar modal dipengaruhi bunga dan risiko.Bunga pasar memainkan peran penting dalam keputusan investasi dan produksi perusahaan.

Konsumsi saat ini atau masa depan sangat dipengaruhi kurva indiferen dan bujet. Bujet dipengaruhi pendapatan dan kekayaan. Sedangkan kurva indiferen dipengaruhi selera, preferensi risiko dan karakteristik setiap orang. 

Dengan investasi di pasar modal, masyarakat menunda konsumsi saat ini. Ketika investasi tersebut tepat, akan meningkatkan pendapatan dan kekayaan. Sehingga bujet di masa depan akan meningkat. Hasilnya adalah peningkatan kurva indiferen ke kanan atas Sehingga tingkat kepuasan orang tersebut meningkat.

Investasi tepat pada aset yang produktif, yakni perusahaan  berkinerja baik di masa lalu dan berprospek cerah. Memaksimalkan hasil investasi, pembelian aktiva produktif harus pada harga wajar atau tidak overvalued.

Pasar modal yang efisien juga memastikan, aktiva produktif  akan mendapat sumber pendanaan sehingga memberikan nilai tambah dalam perekonomian. Efisien di sini adalah efisiensi informasi,

Investor sebagai pembeli mendapatkan informasi lengkap dan sama dengan cepat. Saat aktiva produktif menghasilkan keuntungan, kemakmuran pemegang saham meningkat. 

Jadi, teori konsumsi sangat terkait teori investasi. Konsumsi atau investasi adalah pilihan konsumsi sekarang atau masa depan. Konsumsi masa depan itu,  berinvestasi agar mendapat keuntungan di masa datang.   

Bagikan

Berita Terbaru

DRMA Targetkan Pendapatan Rp 6,5 Triliun, Ini Jurus Hadapi Industri Otomotif Lesu
| Minggu, 15 Februari 2026 | 10:18 WIB

DRMA Targetkan Pendapatan Rp 6,5 Triliun, Ini Jurus Hadapi Industri Otomotif Lesu

DRMA bidik pendapatan Rp 6,5 triliun pada 2026. Diversifikasi produk EV dan akuisisi Mah Sing jadi strategi utama. Akankah target ini terwujud?

Terkoneksi Jaringan Hashim Djojohadikusumo, INET dan WIFI Kebut Ekspansi
| Minggu, 15 Februari 2026 | 10:00 WIB

Terkoneksi Jaringan Hashim Djojohadikusumo, INET dan WIFI Kebut Ekspansi

INET fokus sebagai penyedia infrastruktur digital (backbone), sedangkan WIFI memanfaatkan jaringan tersebut untuk menyasar pasar ritel.

Penjualan Terjun 80%, POLY Kini Menghadapi Gugatan PKPU dari Pemegang Saham Sendiri
| Minggu, 15 Februari 2026 | 08:21 WIB

Penjualan Terjun 80%, POLY Kini Menghadapi Gugatan PKPU dari Pemegang Saham Sendiri

Kini, POLY hanya mengandalkan pabrik di Kaliwungu, Kendal, dengan tingkat utilisasi hanya sekitar 30%

Mereka yang Menorehkan Cuan di Notes Leather
| Minggu, 15 Februari 2026 | 05:52 WIB

Mereka yang Menorehkan Cuan di Notes Leather

Aktivitas menulis di buku catatan ini, belakangan banyak dilakukan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran.

Karbon Biru, Harta Karun Jumbo yang Tersembunyi di Pesisir Indonesia
| Minggu, 15 Februari 2026 | 05:52 WIB

Karbon Biru, Harta Karun Jumbo yang Tersembunyi di Pesisir Indonesia

Pemerintah menyiapkan ekosistem karbon biru sebagai bagian strategis upaya pengurangan emisi dan perdagangan karbon. Potensinya sangat besar.

Jaga Penyerap Karbon
| Minggu, 15 Februari 2026 | 05:52 WIB

Jaga Penyerap Karbon

Ekosistem lamun merupakan penyerap karbon yang sangat efisien, terutama pada sedimen, yang mampu menyimpan karbon dalam jangka waktu ribuan tahun.

Sinyal Winter Seasons, Cari Aman di Pasar Aset Kripto
| Minggu, 15 Februari 2026 | 05:51 WIB

Sinyal Winter Seasons, Cari Aman di Pasar Aset Kripto

Harga Bitcoin cs rontok bersamaan dengan likuiditas global yang menyusut di awal tahun 2026. Masih ada yang layak beli?

Investasi Emas Fisik atau Digital, Ini Pertimbangannya!
| Minggu, 15 Februari 2026 | 05:51 WIB

Investasi Emas Fisik atau Digital, Ini Pertimbangannya!

Banyak yang masih ragu: pilih tabungan emas fisik atau digital. Cek perbandingannya di sini!        

DANA Hitung Transaksi, Sambil Menggerakkan Konservasi
| Minggu, 15 Februari 2026 | 05:30 WIB

DANA Hitung Transaksi, Sambil Menggerakkan Konservasi

DANA berupaya membuktikan bahwa transaksi keuangan berbasis aplikasi dapat menjadi pintu masuk edukasi lingkungan. 

 
IHSG Anomali: Bursa Saham Naik, Asing Malah Jual Rp 5,74 Triliun Sepekan
| Minggu, 15 Februari 2026 | 04:40 WIB

IHSG Anomali: Bursa Saham Naik, Asing Malah Jual Rp 5,74 Triliun Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencatat penguatan total 3,49% dalam sepekan terakhir dan ditutup pada 8.212.

INDEKS BERITA

Terpopuler