IHSG Masih Tertekan, Apakah Saham MBMA Masih Cukup Menarik?

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:19 WIB
IHSG Masih Tertekan, Apakah Saham MBMA Masih Cukup Menarik?
[ILUSTRASI. Merdeka Battery Materials, MBMA (DOK/MBMA)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Efek negatif pengumuman MSCI yang memutuskan untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia, mulai mereka. Seiring hak tersebut, sejumlah sektor dinilai masih memiliki daya tahan relatif lebih baik dibandingkan sektor lainnya, dalam menghadapi situasi pasar ke depan.

Investor mulai memilah sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan eksposur risiko global yang lebih terkelola, sehingga berpotensi menjadi penopang pasar ketika tekanan jual meningkat. Fenomena rotasi sektor pun kembali terlihat sebagai strategi defensif pelaku pasar dalam menjaga portofolio.

Salah satu sektor yang kembali mendapat perhatian adalah sektor komoditas. Prospeknya dinilai menguat seiring meningkatnya dinamika global yang memengaruhi pergerakan harga energi dan mineral.

Perubahan lanskap geopolitik, fluktuasi permintaan global, serta kebijakan energi berbagai negara menjadi faktor yang berpotensi menjaga momentum sektor ini di tengah ketidakpastian pasar saham secara keseluruhan.

Muhammad Lutfi Permana, Investment Specialist BNI Sekuritas menilai sejumlah sektor berpotensi mendapatkan keuntungan dalam kondisi saat ini, khususnya sektor energi, mineral, minyak dan gas (migas), serta logam mulia seperti emas dan perak. Sentimen positif tersebut dipicu oleh kombinasi faktor fundamental global dan kebijakan pasokan yang mulai lebih ketat di beberapa komoditas utama.

Baca Juga: Memahami Dampak Interim Freeze MSCI

Menurutnya, salah satu katalis penting datang dari kebijakan pemangkasan produksi pada beberapa komoditas, seperti nikel dan batubara. Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok global nikel memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan pasar dunia.

Ketika produksi dikendalikan atau dikurangi, suplai global otomatis berkurang, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga menjadi lebih premium. Hal ini tercermin dari pergerakan harga nikel yang sebelumnya berada di kisaran US$ 14.000 dan kini meningkat ke sekitar US$ 18.000.

Di sisi lain, harga emas juga mengalami penguatan signifikan yang didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut membuat investor beralih ke aset safe haven seperti emas.

Sementara itu, apabila suplai batubara ikut mengalami penurunan, secara teori harga juga akan terdorong naik, meski dalam jangka pendek pergerakannya masih cenderung tertahan. Untuk horizon jangka pendek, Lutfi menilai komoditas emas, perak, nikel, dan migas menjadi sektor yang paling menarik untuk dicermati.

Keempat sektor tersebut dinilai memiliki momentum kuat karena didukung sentimen global serta dinamika pasokan dan permintaan yang relatif menguntungkan. Sementara untuk batubara, potensi kenaikan harga dinilai lebih relevan untuk jangka menengah dibandingkan pergerakan jangka pendek.

Rekomendasi Saham

Secara spesifik, Lutfi merekomendasikan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang pergerakan teknikal menunjukkan dinamika yang menarik. Saham ini sebelumnya telah menguji area support dan sempat menyentuh support kedua di kisaran level 700. Peutupan sebelumnya, harga telah kembali bergerak ke area 755, yang mengindikasikan tekanan beli masih cukup terjaga meskipun belum sepenuhnya menunjukkan konfirmasi penguatan tren.

Meski demikian, pergerakan MBMA masih berpotensi berada dalam fase sideways atau kembali menguji area support sebelum membentuk tren naik yang lebih solid. Level teknikal penting yang perlu diperhatikan berada di area 760 sebagai support jangka pendek. Fakta bahwa harga sempat menguji resistance di area 800 sebelum kembali turun menunjukkan bahwa pasar masih mencari keseimbangan baru.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Analis mengingatkan perlu berhati-hati agar tidak menganggap seluruh nilai ekonomi dari bursa karbon akan otomatis masuk ke kantong emiten EBT.

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M

Pasar sedang berspekulasi tinggi terhadap JGLE seiring dengan adanya rencana rights issue sambil mengejar tren harga saham yang terbaca uptrend.

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
INDEKS BERITA

Terpopuler