KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kembali Menko Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan mengundang kontroversi. Pernyataan dia bahwa Indonesia tak butuh lagi menara BTS karena sudah ada Starlink, segera mengundang polemik.
Nyatanya bisnis telekomunikasi seluler di indonesia termasuk penyediaan internet, masih bergantung pada BTS. Bahkan beberapa pemain bisnis menara BTS merupakan perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa.
Pernyataan Luhut yang seolah meremehkan peran BTS bisa saja ditafsirkan sebagai pertanda Starlink bakal mendapatkan peluang lebih besar untuk berbisnis di Indonesia, melebihi bisnis awal saat ini. Tafsiran seperti ini tentu memicu degup jantung pebisnis menara BTS maupun investor publik pemilik saham mereka.
Sinyalemen Luhut juga seketika membuat sebagian orang berpikir, apakah berarti Program Palapa Ring akan mubazir?
Sekadar mengingatkan, Palapa Ring adalah pembangunan jaringan kabel serat optik nasional di Indonesia sepanjang 36.000 kilometer. Lewat Palapa Ring pemerintah berharap akses internet cepat dan stabil bisa merata di seluruh Indonesia.
Pembangunan proyek ini memakan dana hingga Rp 18,3 triliun, ditanggung oleh pemerintah dan swasta.
Celetukan Luhut, memang, pasti terdengar sumbang bagi telinga banyak orang. Apalagi, kemudian Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyebut investasi Starlink senilai Rp 30 miliar di Indonesia hanya mendaftarkan 3 orang tenaga kerja.
Namun demikian, pernyataan Luhut itu sulit disangkal lewat argumen teknis maupun pertimbangan azas manfaat masyarakat.
Memang, sulit sekali membayangkan model bisnis ala Starlink diciptakan dan dijalani oleh pebisnis di Indonesia. Di dunia berpenduduk 8 miliar jiwa ini pun hanya satu orang yang leluasa menaruh puluhan ribu satelit pengganti BTS di langit karena dia juga berbisnis roket luar angkasa untuk mengirimnya.
Kehidupan bisnis di tanah air sekarang masih ditenagai dengan konsesi sumber daya alam, lisensi tata niaga, atau suntikan modal tak terbatas ke perusahaan milik negara. Mungkin oleh sebab itu inovasi model bisnis yang baru begitu mudah membuat kita gelagapan.
Yah, selama roda bisnis masih banyak diminyaki dengan konsesi dan lisensi di bumi, semakin jauh dan ketinggalan kita mendapatkan kaveling di langit. Jangankan melahirkan kembaran Elon Musk, menjaga semangat inovasi para Unicorn founder saja kita tak mampu
