Informalisasi Ekonomi

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:10 WIB
Informalisasi Ekonomi
[ILUSTRASI. TAJUK - Haris Hadinata (KONTAN/Indra Surya)]
Harris Hadinata | Redaktur Pelaksana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak hal menarik dari pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) pekan ini. Salah satunya tentu saja soal ekonomi Indonesia yang tumbuh 5,61% di kuartal I lalu. Realisasi ini lebih tinggi dari proyeksi banyak pengamat. Bahkan juga lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan ekonomi banyak negara lain. 

Hal lain yang menarik dan patut disyukuri dari pengumuman BPS adalah jumlah pengangguran yang turun jadi tinggal 7,24 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja yang terserap naik 1,90 juta orang jadi 147,67 juta. Alhamdulillah.

Tapi, ada hal yang perlu diwaspadai dari data ketenagakerjaan yang diumumkan BPS. Jumlah pekerja formal tercatat naik jadi 59,93 juta di Februari 2026, dari 59,19 juta di Februari 2025. Di periode yang sama, pekerja informal naik dari 86,58 juta jadi 87,74 juta orang.

Hanya saja, dari sisi proporsi, porsi pekerja formal turun jadi 40,58%, dari 40,60% di 2025 dan 40,83% di 2024. Otomatis, porsi pekerja informal naik, jadi 59,42% di Februari 2026. Jadi lapangan kerja formal cenderung turun, sementara informal justru terus naik.

Ini bukan kondisi ideal bila ingin mengejar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Ibaratnya, kita mau lari maraton, tapi cuma pakai sandal jepit. Alih-alih sampai garis finish, yang ada malah cedera.

Besarnya sektor pekerjaan informal menandakan mesin penciptaan pekerjaan berjalan, tapi kualitasnya rendah. Penciptaan lapangan kerja formal masih minim. Angkatan kerja pun lantas berusaha kreatif dengan masuk ke sektor informal. Akhirnya terjadi informalisasi ekonomi.

Kalau dibiarkan begitu saja, kondisi ini akan buruk bagi Indonesia di masa depan. Penerimaan pajak sulit naik, tax ratio sulit membaik, bahkan Indonesia juga bakal kesulitan keluar dari middle income trap.

Pertumbuhan ekonomi tinggi yang berkelanjutan juga akan susah terwujud. Di kuartal satu lalu memang ekonomi masih tumbuh tinggi. Tapi pertumbuhan tersebut banyak ditopang insentif dan subsidi yang digelontorkan pemerintah. 

Lantas, bagaimana kalau insentif dan subsidi dihentikan? Jadinya bakal seperti keluarga yang gajinya UMR tapi hidup mewah memakai kartu kredit. Selama limit masih ada, mereka bisa tenang. Tapi begitu limit (atau insentif) habis, yang tersisa cuma utang menggunung.

Perlu ada gebrakan pemerintah untuk mendorong perusahaan melakukan investasi, agar lapangan kerja formal makin semarak. Pastikan juga kebijakan tidak mencla mencle, yang malah bikin pebisnis ilfil.

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

BI Agresif dan Posisi RI di MSCI Bertahan, tapi Rupiah Sulit Menjauh dari Rp 18.000
| Senin, 29 Juni 2026 | 08:28 WIB

BI Agresif dan Posisi RI di MSCI Bertahan, tapi Rupiah Sulit Menjauh dari Rp 18.000

Kenaikan suku bunga dan intervensi pasar belum cukup memulihkan minat investor lantaran persoalan utamanya berkaitan dengan kepercayaan pasar.

Risiko Shortfall Pajak Masih Mengintai APBN
| Senin, 29 Juni 2026 | 08:00 WIB

Risiko Shortfall Pajak Masih Mengintai APBN

Target penerimaan pajak 2026 sulit tercapai meski realisasi mulai menunjukkan perbaikan.                      

Prospek Rupiah di Juli 2026: Dibayangi Dolar AS, Geopolitik, dan Nasib Dana Asing
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:39 WIB

Prospek Rupiah di Juli 2026: Dibayangi Dolar AS, Geopolitik, dan Nasib Dana Asing

Permintaan dolar AS di dalam negeri seharusnya mulai menurun menjelang pergantian bulan, seiring meredanya musim pembagian dividen.

Antara Pengumuman MSCI dan Sentimen Pasar Saham Indonesia
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:38 WIB

Antara Pengumuman MSCI dan Sentimen Pasar Saham Indonesia

Saat ini Indonesia memiliki 11 saham yang memenuhi syarat kualifikasi ukuran dan likuiditas yang melampaui ambang minimum.

KAEF Tancap Gas Garap Bahan Baku Obat
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:27 WIB

KAEF Tancap Gas Garap Bahan Baku Obat

KAEF telah mengembangkan dan memproduksi bahan baku obat lokal untuk berbagai kategori terapi prioritas

Berharap Bisa Rebound, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini, Senin (29/6)
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:26 WIB

Berharap Bisa Rebound, Berikut Proyeksi IHSG Hari Ini, Senin (29/6)

Dari dalam negeri pasar menantikan rilis data inflasi periode Juni 2026 yang diperkirakan tumbuh 3,1% year on year (yoy).

Insentif LPG Buka Peluang Industri Plastik
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:22 WIB

Insentif LPG Buka Peluang Industri Plastik

Namun pebisnis tetap menagih pasokan gas industri yang masih seret sehingga membebani dan menurunkan daya saing

PKPK Akuisisi Perusahaan Jasa Perkapalan dan Transportasi Laut, Aset Melesat 263%
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:16 WIB

PKPK Akuisisi Perusahaan Jasa Perkapalan dan Transportasi Laut, Aset Melesat 263%

Integrasi PKPK dan Deli Pratama diharapkan tingkatkan efisiensi operasional. Aset perusahaan diproyeksikan naik 263%.

Tren Destinasi Berjarak Dekat saat Liburan Sekolah
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:13 WIB

Tren Destinasi Berjarak Dekat saat Liburan Sekolah

Tiket.com mencatat destinasi hotel domestik yang paling diminati selama periode liburan sekolah adalah Bali, Bandung, Yogyakarta, Malang

PGEO Membidik Kapasitas Produksi 1 GW pada 2028
| Senin, 29 Juni 2026 | 07:10 WIB

PGEO Membidik Kapasitas Produksi 1 GW pada 2028

PGEO telah mengamankan komitmen pendanaan hijau dari beberapa lembaga keuangan internasional yang juga telah direstui oleh negara.

INDEKS BERITA

Terpopuler