Ini Alasan KKR Dua Kali Menjual Saham Japfa (JPFA)

Senin, 01 April 2019 | 10:54 WIB
Ini Alasan KKR Dua Kali Menjual Saham Japfa (JPFA)
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) belakangan terus tertekan. Dalam sepekan terakhir, harga saham Japfa sudah turun hingga sekitar 20%. 

Senin (25/4) pekan lalu, harga saham JPFA ditutup di posisi Rp 2.150 per saham. Pada perdagangan hari ini, Senin (1/4), harga saham Japfa dibuka di harga Rp 1.760 per saham dan sempat menyentuh posisi Rp 1.685 per saham di awal perdagangan saham. 

Padahal, pada 30 Januari lalu, harga saham JPFA, anggota indeks Kompas100 ini, sempat menyentuh posisi tertinggi sepanjang lima tahun terakhir di harga Rp 3.050 per saham. 

Setelah mencapai rekor, harga saham Japfa memang terus melemah. Terlebih, setelah perusahaan investasi global KKR melalui KKR Jade Investments Pte Ltd menggelar divestasi saham Japfa. 

Pada 20 Februari lalu, KKR Jade Investments telah menjual 385 juta saham yang mewakili 3,28% dari total saham Japfa di harga Rp 2.200 per saham. 

Setelah itu, pada 22 Maret lalu, KKR Jade Investments kembali menjual saham Japfa sebanyak 396 juta saham atau setara dnegan 3,38% dari seluruh saham Japfa. Transaksi penjualan kembali dilakukan di harga Rp 2.200 per saham. 

Padahal, dalam wawancara dengan Kontan.co.id pada 5 Maret 2018, Direktur KKR Jade Investments Jaka Prasetya mengatakan, KKR tidak memiliki rencana untuk kembali menggelar divestasi saham Japfa dalam waktu dekat. 

Langkah KKR kembali menjual saham Japfa untuk kedua kalinya jelas menimbulkan tanda tanya. Apalagi, pasca penjualan saham Japfa untuk kedua kalinya, pergerakan harga saham Japfa semakin tertekan. 

Kamis (28/3) pekan lalu, harga saham Japfa turun 9,3% dalam sehari. Sehari kemudian, Jumat (29/3), harga saham Japfa turun hingga 10% dalam sehari. 

Sebagian investor menduga, langkah KKR menjual saham Japfa untuk kedua kalinya ditujukan untuk menutup kerugian investasi di PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA). 

Ada juga yang menduga keputusan KKR tersebut berkaitan dengan isu peredaran formalin di industri makanan yang diduga melibatkan anak usaha Japfa. 

Jaka mengakui, saat wawancara dengan Kontan.co.id pada 5 Maret lalu, KKR memang belum memiliki rencana untuk menjual lagi saham Japfa. 

Namun, beberapa waktu lalu, Jaka mengatakan, bankir investasi KKR memberikan nasihat untuk menambah porsi publik saham Japfa. Agar optimal, kepemilikan publik atas saham Japfa sebaiknya di atas 40%. 

Penambahan porsi publik  cara terbaik untuk memberikan dampak positif terhadap likuiditas saham dan memperlebar basis pemegang saham. Selain itu, Japfa juga akan memperoleh tax benefit.

Di sisi lain, ada permintaan yang cukup besar dari investor untuk membeli saham Japfa. Mereka menginginkan saham Japfa di harga yang sama dengan harga penjualan sebelumnya, yakni Rp 2.200 per saham. 

Dua faktor itulah yang akhirnya membuat KKR memutuskan untuk kembali menjual saham Japfa. "Kami pikir win-win untuk jual lagi," ujar Jaka. 

Jaka menampik bahwa aksi KKR menjual lagi saham Japfa berkaitan dengan isu peredaran formalin di industri makanan di Sumatra Selatan yang diduga melibatkan anak usaha Japfa. 

Menurut dia, pihaknya malah tidak mengetahui isu tersebut saat melakukan penjualan saham Japfa.

Jaka juga menampik dugaan yang menyebutkan aksi jual saham Japfa ditujukan untuk menutup kerugian investasi di Tiga Pilar. 

Jaka mengatakan, KKR selalu disiplin dan mengkaji setiap investasi secara independen. Selain itu, investasi di Japfa dan Tiga Pilar berasal ari dua pendanaan alias funds yang berbeda. Jadi, tidak ada kaitan mengenai hitungan keuntungan atau kerugian satu sama lain. 
 
Menurut Jaka, penurunan harga saham JPFA sepekan terakhir ini kemungkinan disebabkan oleh penurunan harga ayam yang terjadi belakangan ini.  Sebab, penurunan harga juga terjadi pada saham di sektor pakan ternak lainnya seperti Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan Malindo Feedmill (MAIN).

Toh, meski harga saham Japfa belakangan tertekan, Jaka optimistis, fundamental dan prospek Japfa masih sangat positif. 

KKR juga tidak akan buru-buru harus menjual lagi saham Japfa dalam waktu dekat. Kepemilikan KKR di Japfa yang saat ini tersisa sebesar 4,99%, menurut Jaka, masih lumayan besar. "Saya, kan, masih komisaris juga," ujar Jaka.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Adu Otot Bunga Deposito Diprediksi Mengendur
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 05:45 WIB

Adu Otot Bunga Deposito Diprediksi Mengendur

Persaingan bunga deposito di antara bank digital diprediksi masih akan tetap tinggi hingga akhir  tahun 2026.

Mustika Ratu (MRAT) Andalkan Inovasi Jaga Pertumbuhan
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 05:20 WIB

Mustika Ratu (MRAT) Andalkan Inovasi Jaga Pertumbuhan

Saat ini, produk-produk Mustika Ratu telah dipasarkan  di lebih dari 40 negara, dan juga pasar internasional lainnya.

Hasil Investasi Masih Tergerus Volatilitas
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 04:50 WIB

Hasil Investasi Masih Tergerus Volatilitas

Industri reasuransi hanya mengumpulkan hasil investasi Rp 317,8 miliar hingga Mei 2026, alias turun 35,9% secara tahunan.

Tempo Scan Pacific (TSPC) Bikin Kongsi Anyar Bisnis Farmasi
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 04:20 WIB

Tempo Scan Pacific (TSPC) Bikin Kongsi Anyar Bisnis Farmasi

TSPC menggandeng Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd (CTTQ), anak usaha Sino Biopharmaceutical Limited (SBP Group)

MK Perkuat Hak Konsumen atas Kuota Internet
| Sabtu, 25 Juli 2026 | 04:00 WIB

MK Perkuat Hak Konsumen atas Kuota Internet

Mahkamah Konstitusi mewajibkan penyelenggara telekomunikasi untuk mentyediakan skema kuotainternet agar tidak hangus.

Moody's Waspadai Fiskal Indonesia, Ekonom Sebut Defisit APBN 2026 Berisiko Tembus 3%
| Jumat, 24 Juli 2026 | 10:00 WIB

Moody's Waspadai Fiskal Indonesia, Ekonom Sebut Defisit APBN 2026 Berisiko Tembus 3%

Solusi jangka pendek berupa pemangkasan belanja tidak akan cukup tanpa perbaikan struktural di sisi penerimaan. 

Merger dan Penutupan Ratusan BUMN Dinilai bisa Dongkrak Laba, Asal Integrasi Berhasil
| Jumat, 24 Juli 2026 | 09:39 WIB

Merger dan Penutupan Ratusan BUMN Dinilai bisa Dongkrak Laba, Asal Integrasi Berhasil

Restrukturisasi besar-besaran jadi salah satu strategi agar BUMN bisa mencetak laba sedikitnya Rp 360 triliun pada 2026.

Tren Positif Saham Usai Menggelar Stock Split, Katalis Positif atau Cuma Ikut Tren?
| Jumat, 24 Juli 2026 | 07:57 WIB

Tren Positif Saham Usai Menggelar Stock Split, Katalis Positif atau Cuma Ikut Tren?

Stock split membuat pergerakan harga saham menjadi lebih menarik karena fraksi harga yang lebih kecil.

Industri Tembakau Siap Mengadu ke Presiden
| Jumat, 24 Juli 2026 | 07:44 WIB

Industri Tembakau Siap Mengadu ke Presiden

Terdapat tiga poin utama dalam rancangan Permenkes sebagai aturan turunan PP Nomor 28 Tahun 2024 yang menjadi perhatian pelaku usaha.

Saham Konglomerasi Jadi Buruan Lagi
| Jumat, 24 Juli 2026 | 07:38 WIB

Saham Konglomerasi Jadi Buruan Lagi

Meredanya sentimen negatif kembali mendorong kenaikan harga saham-saham konglomerasi yang sudah banyak terdiskon

INDEKS BERITA

Terpopuler