Ini Alasan OPEC+ Memperkirakan Pasar akan Kelebihan Pasokan Minyak di 2021

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 11:00 WIB
Ini Alasan OPEC+ Memperkirakan Pasar akan Kelebihan Pasokan Minyak di 2021
[ILUSTRASI. Ilustrasi pompa minyak di depan logo Opec, 14 April 2020. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration]
Reporter: Nathasya Elvira | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - MOSCOW (Reuters). OPEC dan sekutunya khawatir gelombang kedua pandemi COVID-19 yang berkepanjangan dan lonjakan produksi Libya dapat menyebabkan  pasar minyak menjadi surplus tahun depan. Pandangan yang lebih suram daripada prospek per bulan lalu itu, termuat dalam dokumen rahasia OPEC yang dilihat Reuter.

Komite Teknis Bersama, sebuah panel yang beranggotakan pejabat dari OPEC plus negara-negara sekutunya, mempertimbangkan skenario terburuk ini dalam pertemuan bulanan virtual, Kamis (15/10). Pada September, panel tidak melihat surplus di bawah skenario apapun yang dianggapnya.

Baca Juga: Harga minyak hanya bergerak tipis meski stok minyak mentah AS merosot

Surplus seperti itu dapat mengancam rencana OPEC, Rusia dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC + untuk mengurangi rekor pengurangan produksi yang dibuat tahun ini dengan menambahkan 2 juta barel minyak per hari ke pasar pada 2021.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak belum mengindikasikan rencana apa pun sejauh ini untuk menghentikan peningkatan pasokan itu.

Baca Juga: Pergerakan harga komoditas ini ikut memicu surplus neraca dagang di September

"Tanda-tanda awal pemulihan ekonomi di beberapa bagian dunia dibayangi oleh kondisi rapuh dan meningkatnya skeptisisme tentang kecepatan pemulihan," menurut dokumen yang digunakan dalam pertemuan bulanan panel pada Oktober.

"Secara khusus, kebangkitan kembali kasus COVID-19 di seluruh dunia dan prospek penguncian parsial dalam beberapa bulan mendatang dapat menambah resiko pemulihan permintaan ekonomi dan minyak," katanya.

Dokumen tersebut menyajikan skenario yang mencakup kasus dasar yang masih menunjukkan defisit pada tahun 2021 dengan rata-rata 1,9 juta barel per hari (bph), meskipun lebih kecil dari perkiraan defisit 2,7 juta bph pada kasus dasar bulan sebelumnya.

Tetapi jika mengacu pada skenario terburuk, dokumen itu mengatakan, pasar bisa berubah menjadi surplus 200.000 barel per hari pada 2021.

Baca Juga: Harga minyak diproyeksikan cenderung stagnan hingga akhir tahun

Tahun ini, OPEC + setuju untuk membuat rekor pemotongan produksi dalam mendukung jatuhnya harga minyak karena permintaan yang runtuh. Ini memotong 9,7 juta barel per hari dari Mei, serta menurunkannya menjadi 7,7 juta barel per hari dari Agustus. Mulai Januari, pemotongan akan turun menjadi 5,7 juta barel per hari.

Namun, sejak pertemuan JTC pada September, produksi Libya telah meningkat. Meningkatnya kasus virus corona secara global telah menyebabkan pembatasan baru pada pergerakan di beberapa negara yang berakibat pada melemahkan permintaan minyak mentah.

Baca Juga: Harga minyak tergelincir, OPEC proyeksi permintaan di 2021 hanya 96,84 juta bph

Menurut sumber yang mengetahui rincian pertemuan tersebut, di bawah skenario terburuk dokumen itu, produksi Libya akan meningkat pada 2021 menjadi sebanyak 1,1 juta barel per hari. Berdasarkan kasus dasarnya, produksi Libya akan menjadi 600.000 barel per hari pada 2021.

Dalam skenario terburuk lainnya, persediaan minyak komersial OECD—yang digunakan sebagai tolok ukur OPEC + untuk mengukur pasar—akan tetap tinggi pada 2021 dibandingkan dengan rata-rata lima tahun daripada memulai jatuh di bawah tanda itu.

Skenario ini juga melihat gelombang kedua COVID-19 yang lebih kuat dan lebih lama pada kuartal keempat 2020 dan kuartal pertama 2021 di Eropa, Amerika Serikat, dan India yang mengarah pada pemulihan ekonomi yang lebih rendah, serta melemahnya permintaan minyak.

Berdasarkan kasus dasar dokumen, stok minyak OECD diperkirakan akan berada sedikit di atas rata-rata lima tahun pada kuartal pertama 2021, sebelum jatuh di bawah level tersebut untuk sisa tahun ini.

Baca Juga: IMF: Perekonomian global pulih lebih cepat dari yang prediksi

Panel menteri OPEC +, yang dikenal sebagai Komite Pemantau Bersama Kementerian (JMMC), akan mempertimbangkan prospek saat bertemu pada hari Senin. JMMC dapat membuat rekomendasi kebijakan.

Para menteri perminyakan dari negara-negara OPEC + dijadwalkan bertemu kembali pada 30 November hingga 1 Desember.

Bagikan

Berita Terbaru

Pengeluaran Pemerintah Melonjak: BI Terjepit, Pasar Obligasi Bergejolak
| Jumat, 13 Maret 2026 | 10:34 WIB

Pengeluaran Pemerintah Melonjak: BI Terjepit, Pasar Obligasi Bergejolak

Yield SBN 10 tahun kini 6,7%, naik dari 6,2% akhir tahun lalu. Apa pemicu lonjakan ini dan dampaknya pada investasi Anda?

Pebisnis AMDK Meneguk Cuan di Bulan Ramadan
| Jumat, 13 Maret 2026 | 10:18 WIB

Pebisnis AMDK Meneguk Cuan di Bulan Ramadan

Secara umum, permintaan AMDK pada periode Ramadan tahun ini diproyeksikan meningkat sekitar 15%-20%,

Jalan Berliku Menuju Target Produksi Gula 3 Juta Ton
| Jumat, 13 Maret 2026 | 09:51 WIB

Jalan Berliku Menuju Target Produksi Gula 3 Juta Ton

Dari sisi kapasitas pabrik gula, proyeksi ini masih sangat memungkinkan untuk mencapai target ini tapi ada faktor lain yang mempengaruhinya.

Panorama Sentrawisata (PANR) Siap Gaet Lebih Banyak Turis
| Jumat, 13 Maret 2026 | 09:45 WIB

Panorama Sentrawisata (PANR) Siap Gaet Lebih Banyak Turis

Pada pilar inbound, PANR memperkuat posisi sebagai regional player dengan beroperasi di sejumlah negara, tak hanya di Indonesia,

JP Morgan dan Dimensional Fund Ambil Untung dari Saham BRMS, Prospek Masih Menarik
| Jumat, 13 Maret 2026 | 08:55 WIB

JP Morgan dan Dimensional Fund Ambil Untung dari Saham BRMS, Prospek Masih Menarik

Saham BRMS sudah tergolong premium, namun tetap di harga wajar jika memperhitungkan ekspektasi kenaikan produksi dari pabrik barunya di Palu.

Nasib Saham EMAS: Setelah Rugi Besar, Akankah Bangkit di 2026?
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:09 WIB

Nasib Saham EMAS: Setelah Rugi Besar, Akankah Bangkit di 2026?

Pendapatan EMAS anjlok 92% di 2025, rugi bersih melonjak 116%. Namun, Tambang Pani beroperasi 2026. Analis melihat potensi membaiknya kinerja

Permintaan Tumbuh, Prospek Emiten Susu Masih Manis
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:07 WIB

Permintaan Tumbuh, Prospek Emiten Susu Masih Manis

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) mengantongi kinerja positif sepanjang tahun 2025

Risiko Outflow Asing Mengintai, Saham Blue Chip Ini Bisa Dicermati
| Jumat, 13 Maret 2026 | 07:05 WIB

Risiko Outflow Asing Mengintai, Saham Blue Chip Ini Bisa Dicermati

Saat asing jual besar-besaran, saham BMRI, UNTR, TLKM malah diakumulasi. Apa rahasia di balik strategi investor institusi global ini?

Sebanyak 27 Pemda  Ajukan Pinjaman ke PT SMI
| Jumat, 13 Maret 2026 | 06:11 WIB

Sebanyak 27 Pemda Ajukan Pinjaman ke PT SMI

Ada sekitar 26 hingga 27 pemda yang telah mengajukan pinjaman pembiayaan kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI)

Menakar Opsi Pelebaran Defisit Anggaran
| Jumat, 13 Maret 2026 | 05:58 WIB

Menakar Opsi Pelebaran Defisit Anggaran

Kebijakan apapun yang bakal ditempuh pemerintah dinilai akan tetap menekan perekonomian             

INDEKS BERITA

Terpopuler