Ini Alasan Pembentukan Badan Penerimaan Pajak Tidak Terjadi di Pemerintahan Sekarang

Selasa, 30 Juli 2019 | 06:00 WIB
Ini Alasan Pembentukan Badan Penerimaan Pajak Tidak Terjadi di Pemerintahan Sekarang
[]
Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak sebagai lembaga semi otonom yang terpisah dari Kementerian Keuangan (Kemkeu) seakan jalan di tempat. Menjelang akhir masa tugasnya, DPR pun tidak memprioritaskan revisi Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Padahal, pemerintah telah menyerahkan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) KUP, yang akan menjadi dasar pembentukan badan baru pajak itu ke parlemen sejak lama. Saat ini, Kemkeu masih menunggu panggilan dari DPR untuk membahas RUU itu.

Ketua Komisi XI DPR Fraksi Partai Golkar Melchias Markus Mekeng mengatakan, hingga kini masih ada fraksi yang belum menyerahkan daftar inventarisasi masalah (DIM). Selain itu, pemerintah dinilai belum satu suara tentang dalam RUU KUP.

"Khususnya soal pembentukan Badan Penerimaan Perpajakan (BPP)," kata Mekeng kepada KONTAN, Senin (29/7). Sebab itu, pembahasan RUU KUP akan dilakukan di periode baru sambil menunggu amanat presiden.

Pemisahan Ditjen Pajak merupakan salah satu poin dalam draf RUU KUP. Dibentuknya badan ini berarti pemungutan pendapatan negara dari satu lembaga. Namun, BPP juga dikhawatirkan menjadi overpower. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, lembaga independen biasanya sering dipolitisasi.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai, pembentukan BPP masih perlu didalami, terutama soal efektivitasnya. Jika desain tepat, pemisahan itu diyakini akan mengoptimalisasi penerimaan pajak.

Namun, RUU KUP harus diprioritaskan untuk diselesaikan agar visi, prinsip, arah, dan konsep pembaruan Ditjen Pajak semakin jelas. Apalagi, KUP merupakan pijakan dari UU perpajakan lainnya.

Bagikan

Berita Terbaru

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

FORU Menyiapkan Rights Issue Rp 27,1 Triliun
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:11 WIB

FORU Menyiapkan Rights Issue Rp 27,1 Triliun

FORU berencana menerbitkan maksimal 215,09 miliar saham baru atau sekitar 99,78% dari modal ditempatkan dan disetor penuh 

Ekspansi Jaringan Toko Berpotensi Mendorong Kinerja ACES di Semester Kedua
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:09 WIB

Ekspansi Jaringan Toko Berpotensi Mendorong Kinerja ACES di Semester Kedua

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) masih solid mencatatkan pertumbuhan same store sales growth (SSSG) sebesar 2,2% pada semester I-2026.

Kilau Emas Kalah Pamor dengan Saham Kecerdasan Buatan
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:55 WIB

Kilau Emas Kalah Pamor dengan Saham Kecerdasan Buatan

Harga emas masih tertekan karena dipengaruhi oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS). 

Pergerakan Rupiah Menanti Kebijakan BI Pekan Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:45 WIB

Pergerakan Rupiah Menanti Kebijakan BI Pekan Ini

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,33% secara harian ke level Rp 17.888 per dolar AS.

Bidik Dana US$ 1 Miliar dari Panda Bond
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:26 WIB

Bidik Dana US$ 1 Miliar dari Panda Bond

Pemerintah akan menerbitkan Panda Bond perdana pada tanggal 23 Juli 2026                            

Konflik AS dan Iran Memanas, Dolar AS Masih Jadi Primadona
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:15 WIB

Konflik AS dan Iran Memanas, Dolar AS Masih Jadi Primadona

Eskalasi geopolitik antara AS - Iran yang semakin memanas membuat pergerakan harga valuta asing safe haven bergerak bervariasi.

Mengejar Dana Global Lewat Pusat Finansial
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:10 WIB

Mengejar Dana Global Lewat Pusat Finansial

Pemerintah menargetkan pembangunan Pusat Keuangan Internasional Indonesia dimulai akhir tahun 2026         

Rating Agency
| Rabu, 22 Juli 2026 | 06:10 WIB

Rating Agency

Percaya pada kekuatan ekonomi nasional tentu penting. Namun, kepercayaan diri jangan sampai mengabaikan mekanisme pasar global.

INDEKS BERITA

Terpopuler