Hanya Rp 10.000 selama 30 hari untuk berita pilihan, independen, dan inspiratif
Berita Global

Ini Alasan Perusahaan di AS Pilih Merger dengan SPAC untuk Catatkan Saham Bursa

Rabu, 28 April 2021 | 08:06 WIB
Ini Alasan Perusahaan di AS Pilih Merger dengan SPAC untuk Catatkan Saham Bursa

ILUSTRASI. Pintu masuk New York Stock Exchange (NYSE) di New York City, AS, 29 Maret 2021. REUTERS/Brendan McDermid

Reporter: Thomas Hadiwinata | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Pertama kali menghadiri acara earning call sebagai kepala eksekutif XL Fleet Corp., Dimitri Kazarinoff langsung membagikan berita buruk. Dalam acara yang berlangsung pada 31 Maret itu, Kazarinoff menyatakan, perusahaan kesulitan mencapai proyeksi pendapatan. Penyebabnya, tipisnya pasokan mikrocip ke industri otomotif dan pandemi Covid-19.

Padahal, saat menyetujui merger senilai US$ 1 miliar dengan special purpose acquisition company (SPAC), XL Fleet menebar proyeksi yang sangat optimistis. Pembuat mesin listrik untuk mobil angkut (van) dan truk pickup itu memproyeksikan pendapatan di tahun 2021 akan meningkat tiga kali lipat menjadi US$ 75,3 juta. Proyeksi pertumbuhan sebesar itu sangat jarang disajikan oleh perusahaan yang hendak melakukan penawaran saham perdana melalui jalur konvensional.

Di tengah aksi jual SPAC yang lebih luas, harga saham XL Fleet sekarang turun lebih dari 50% dibandingkan harga saat penuntasan penggabungannya dengan SPAC yang bernama Pivotal Investment Corporation II, pada bulan Desember. XL Fleet menolak mengomentari penurunan harga saham.

Baca Juga: Melalui SPAC, Anthony Tan bisa jadi miliarder

Namun XL Fleet menyatakan ke Reuters bahwa proyeksi yang dipublikasi pada September tahun lalu tidak mempertimbangkan kendala yang akan dihadapi rantai pasokan industri otomotif. Dan karena perkembangan situasi yang cepat, XL Fleet tidak sempat menerbitkan panduan resmi sebagai perusahaan publik di tahun 2021.

Proyeksi keuangan yang sangat optimistis biasa ditemukan dalam kesepakatan yang melibatkan SPAC. Bahkan, itu merupakan alasan utama perusahaan-perusahaan yang berisiko tinggi untuk memilih merger dengan SPAC dibandingkan melakukan proses IPO konvensional. Demikian pernyataan para pelaku pasar serta hasil riset Jay Ritters, peneliti di Universitas Florida, yang telah ditinjau Reuters.

Dalam aturan pasar modal di AS, perusahaan yang melakukan IPO bisa digugat oleh investor, apabila gagal memenuhi proyeksi yang mereka susun sebelumnya. Sementara SPAC, seperti halnya perusahaan terbuka yang tidak melakukan IPO, terlindung dari risiko gugatan semacam itu.  Jadi, mereka yang ingin mengajukan gugatn harus mampu menunjukkan bukti yang lebih kuat bahwa perusahaan itu melakukan penyimpangan atau kelalaian saat menyusun proyeksi.

Baca Juga: Dukungan konglomerat Indonesia untuk Grab yang bersiap melantai di bursa AS

Celah ini yang dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang tak hanya masih merugi, tetapi jjuga belum mampu mencetak pendapatan untuk memilih bergabung dengan SPAC. Kendati, biaya skema semacam itu hampir tiga kali lebih mahal daripada IPO. Penyebabnya,  pengelola SPAC meminta kompensasi saham hingga pemegang saham perusahaan yang bergabung akan kebagian ekuitas yang lebih sedikit.

Tiga dari empat perusahaan yang go public antara tahun 2020 dan awal 2021 melalui merger SPAC berakhir tidak menguntungkan, dibandingkan dengan 61% melalui IPO, demikian hasil dari data yang dikumpulkan Ritter.

"Beberapa perusahaan tidak dapat menjual cerita mereka berdasarkan kelipatan penilaian hingga 2025 atau 2027, itu akan menurunkan penilaian mereka," kata Vik Mittal, manajer portofolio di Glazer Capital dan salah satu investor SPAC AS terbesar.

Selanjutnya
Halaman   1 2

Baca juga