Jalan Tol Ramai, Laba Jasa Marga (JSMR) Pun Disemai

Selasa, 18 Oktober 2022 | 04:45 WIB
Jalan Tol Ramai, Laba Jasa Marga (JSMR) Pun Disemai
[]
Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Avanty Nurdiana

JAKARTA. Kenaikan suku bunga akan berdampak pada beban PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Emiten pelat merah ini berupaya mengurangi dampak negatif kenaikan suku bunga dengan meningkatkan proporsi pinjaman dengan suku bunga tetap sekitar 40%-60% dari total utangnya di tahun depan. 

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Michael Filbery menyebut, kenaikan suku bunga acuan BI secara langsung berdampak ke biaya keuangan yang lebih tinggi di kuartal berikutnya. Tapi hingga Agustus 2022, JSMR berhasil mempertahankan biaya utang yang lebih rendah yakni ada di 6,46%, dibanding 6,53% pada Desember 2021. Ini karena lebih banyak pinjaman dengan suku bunga tetap.

Kenaikan suku bunga, menurut Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya, akan terefleksi pada kinerja JSMR di 2023. Dus, kemungkinan JSMR berupaya meningkatkan pinjaman dengan fixed rate, yakni menjadi 60%, dari posisi pada semester I-2022 yang ada di kisaran 30%. "Jadi jika fixed rate lebih banyak porsinya, diharapkan bisa menjaga cost of debt," kata dia.

Baca Juga: Prospek Saham Jasa Marga (JSMR) di Tengah Kenaikan Suku Bunga Acuan dan Tarif Tol

Ke depan, JSMR diperkirakan bisa membukukan kinerja yang baik. Satu katalis pendorong kinerja JSMR adalah pemulihan lalu lintas di jalan tol milik JSMR.

Andrey mengatakan, pemulihan trafik sudah terlihat di perayaan lebaran tahun ini. Berdasar klaim manajemen, rata-rata lalu lintas mingguan sudah melebihi kondisi sebelum Covid-19. 

Arus mudik pada perayaan Idul Fitri pada kuartal dua tahun ini membawa berkah bagi JSMR. Pendapatan emiten pengelola jalan tol ini tumbuh 8,2% secara kuartalan. Pertumbuhan ini, kata Michael, didukung peningkatan volume transaksi konsolidasi 6,7% secara kuartalan.

Volume di jalan tol induk dan anak usaha mencatat lonjakan masing-masing sebesar 5,0% dan 16,8% kuartalan. Ini berkat melonjaknya trafik pada pekan kedua Mei 2022 seiring perayaan Idul Fitri.

Penyesuaian tarif

Michael menyimpulkan, jalan tol baru juga dapat menjadi sumber pertumbuhan pendapatan bagi JSMR. Sebab tarif per kilometer jalan tol baru lebih tinggi daripada jalan tol yang lama. 

Baca Juga: Hingga Tahun 2022, Jasa Marga Catat Pemimpin Muda Capai 39,2%

Pada paruh pertama 2022, kontribusi pendapatan jalan tol yang baru naik dari 41,6% di tahun 2021 menjadi 45,9% dari total pendapatan jalan tol JSMR. "Ruas jalan tol JSMR yang baru ini menawarkan potensi pertumbuhan volume transaksi lebih tinggi daripada jalan tol lama," kata Michael. 

Menurut Andrey, selain kenaikan trafik yang menjadi katalis positif bagi JSMR, wacana penyesuaian tarif untuk tol yang akan dipercepat juga bisa menjadi katalis berikutnya. Secara keseluruhan, Andrey menilai, kondisi tol, khususnya yang berada di Pulau Jawa, bisa menopang kinerja operasional JSMR.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Muhammad Naufal Yunas menyebut, JSMR telah melakukan penyesuaian tarif di beberapa ruas, tahun ini. Di antaranya tol dalam kota, Surabaya-Mojokerto, dan Bali Mandara. Tahun depan, JSMR akan kembali menaikkan tarif tol Surabaya-Gempol.

Sebagai hasil penyesuaian tarif, Naufal melihat pertumbuhan pendapatan tertinggi dari jalan tol induk akan berasal dari tol Cawang-Tomang-Cengkareng, yang merupakan bagian dari tol dalam kota. Kenaikan bisa mencapai 21,2% secara tahunan. 

Di tingkat anak usaha, Naufal melihat ada pertumbuhan pendapatan yang jauh lebih tinggi dari beberapa ruas tol baru, seperti Balikpapan-Samarinda dan Serpong-Cinere. 

Hingga akhir tahun ini, Naufal memprediksi JSMR bisa mencetak laba bersih Rp 1,51 triliun dan bisa naik menjadi Rp 2,04 triliun tahun depan. Dari sisi top line, Naufal memprediksi pendapatan JSMR bisa mencapai Rp 13,85 triliun tahun ini dan akan naik menjadi Rp 15,11 triliun pada tahun depan.

Para analis sama-sama memberi rekomendasi buy bagi JSMR. Michael mematok target harga Rp 5.300. Sementara Andrey dan Naufal sama-sama mematol target harga Rp 5.400 per saham.  

Baca Juga: Minggu Ketiga Oktober, Jasa Marga Lakukan Pemeliharaan Tol Cipularang dan Padaleunyi

Bagikan

Berita Terbaru

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:20 WIB

Enam Emiten Antre IPO, Sinyal Kebangkitan Pasar Saham atau Sekadar Cari Pendanaan?

Saat sentimen positif mendominasi pasar, minat investor terhadap aset berisiko meningkat sehingga penyerapan saham baru menjadi lebih baik.

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada  Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental
| Kamis, 25 Juni 2026 | 09:10 WIB

Enam Perusahaan Calon IPO, Ada Afiliasi Djarum dan Emtek, Perhatikan Fundamental

Enam perusahaan siap IPO. Namun analis sepakat dua emiten ini paling prospektif. Cek fundamental dan potensi untungnya.

Masih Ada  Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:58 WIB

Masih Ada Peringatan dari MSCI, IHSG Masih Terancam Lesu

Indonesia dipertahankan emerging market, tapi IHSG malah terjun bebas di bawah 6.000. Ada kekhawatiran besar di balik keputusan MSCI.

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:44 WIB

Transaksi Afiliasi Rp 18,27 Triliun, Rajawali Kapital Emas Jadi Pengendali ARCI

Rajawali Corpora lepas seluruh saham ARCI ke afiliasi senilai Rp 18,27 T. Perubahan ini bisa pengaruhi valuasi saham ARCI.

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 25 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indeks Sudah Jebol ke 5.800, Net Sell Rp 6 Triliun, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Jika hingga November 2026 tidak ada perubahan signifikan, ada peluang penurunan status menjadi frontier market. 

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:55 WIB

ARPU TLKM, EXCL, dan ISAT Naik, tapi Ruang Kenaikan Tarif Mulai Menyempit

Prospek sektor telekomunikasi dalam jangka menengah masih dinilai positif, amun narasi pertumbuhannya mulai mengalami pergeseran.

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 07:34 WIB

Saham DSSA Mulai Bangkit Usai Keluar dari MSCI dan FTSE, Masih Layak Dibeli?

DSSA memiliki eksposur yang kuat di sektor energi, pembangkit listrik, serta mulai memperluas bisnis ke sektor transisi energi dan EBT.

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:46 WIB

Menakar Prospek Saham BREN Usai Diborong Prajogo Pangestu, Masih Layak Dibeli?

BREN merupakan pemain panas bumi terbesar di Indonesia dan berada di peringkat keempat secara global.

Dana Asing Mengalir ke Instrumen Surat Utang dari Pasar Saham
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:45 WIB

Dana Asing Mengalir ke Instrumen Surat Utang dari Pasar Saham

Investor asing mengincar instrumen keuangan domestik yang menawarkan yield lebih tinggi ketimbang pasar saham.

MAPI Boyong Kembali Ace Hardware ke Indonesia, Segera Membuka Gerai Perdana
| Kamis, 25 Juni 2026 | 06:45 WIB

MAPI Boyong Kembali Ace Hardware ke Indonesia, Segera Membuka Gerai Perdana

Ace Hardware kembali ke Indonesia, kali ini di bawah naungan MAPI. Sebelum membuka Ace Hardware, MAPI berdiskusi dengan Kawan Lama.

INDEKS BERITA

Terpopuler