Kala Reksadana Saham Konsisten Kalah dari LQ 45

Senin, 26 Juni 2023 | 11:30 WIB
Kala Reksadana Saham Konsisten Kalah dari LQ 45
[ILUSTRASI. Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama]
Parto Kawito | Direktur Infovesta Utama

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebelum membaca artikel ini lebih jauh, sebaiknya Anda menjawab pertanyaan saya lebih dahulu. Kalau saya sebutkan lima reksadana saham terbaik setahun terakhir, apakah Anda ingin mengetahuinya? Apakah informasi tersebut perlu diketahui calon investor?

Bila jawaban kedua pertanyaan tersebut "ya" bagaimana kalau saya tanyakan "Apakah Anda ingin mengetahui lima reksadana terjelek setahun terakhir? Apakah informasi ini perlu diketahui calon investor?

Bila masih menjawab "ya" mohon maaf, saya tidak berani menuliskan di artikel ini karena takut di cap menjelek-jelekkan manajer investasi (MI).

Di peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebutkan tidak boleh membandingkan kinerja reksadana dengan reksadana dari MI lainnya yang berkinerja lebih jelek. Walaupun saya tidak bekerja di MI namun tetap tidak berani menampilkan data yang sesuai kenyataan bahwa reksadana tersebut memang berkinerja buruk. 

Entahlah jika wartawan yang menampilkannya. Namun pernah terjadi Infovesta memberikan data return semua reksadana dari tertinggi hingga terendah ke redaksi koran dan ditampilkan (tanpa arahan Infovesta). Alhasil banyak telepon masuk dari MI ke Infovesta yang memprotes keras. 

Lalu apakah Infovesta memberikan yang dana reksadana terbaik saja demi melindungi reksadana yang memble, agar Mi yang telah merugikan nasabah tak sakit hati? Jika MI boleh sakit hati, apakah nasabah yang sudah dirugikan tidak boleh sakit hati? 

Kadang saya juga bingung, bila suatu reksadana, katakanlah rugi 60% dalam periode enam bulan dan ditulis sesuai kenyataannya, kan, itu bukan fitnah, lha kok sakit hati?

Bukankah sebenarnya lebih penting memberi perhatian pada yang kurang daripada yang sudah maju? Karena di ranah yang masih kurang ini tersimpan beberapa misteri yang bahkan potensial mengandung praktik yang tidak sesuai governance dan merugikan nasabah.

Baca Juga: Mencari Reksadana yang Rutin Mencetak Cuan

Sekadar contoh, penulis mencoba mengambil sampel reksadana saham baik konvensional maupun syariah. Kinerja yang diukur hanya return tahunan karena data yang sering terpublikasi, transparan dan menjadi bahan pertimbangan utama mayoritas investor. Benchmark yang digunakan Indeks LQ45 karena mayoritas reksadana saham berinvestasi di saham yang likuid dan berfundamental baik. 

Periode pengamatan dari 2018 hingga 19 Juni 2023 sehingga didapat data return tahunan sebanyak 5 tahun full (2018-2022) dan khusus tahun ini hanya kinerja dari awal tahun hingga 19 Juni 2023 saat artikel ini dibuat. Dengan demikian ada enam data return yang penulis rasa sudah cukup mewakili investasi jangka panjang. Bila ada reksadana yang konsisten kalah selama 6 tahun, silakan Anda pikirkan saja sendiri apa artinya. 

Dari 187 reksadana saham yang sudah lahir awal tahun 2018, ternyata terdapat 6 reksadana saham yang return tahunannya selalu kalah dibanding Indeks LQ45, dengan perincian kinerja di tabel. Namun nama reksadana penulis samarkan dengan asumsi hanya dua huruf walaupun kenyataannya nama reksadana bisa lebih dari dua suku kata.

Kemudian penulis mencoba menghitung return kumulatif bila nasabah berinvestasi di awal 2018 dan me-rollover dananya hingga 19 Jun 2023.
Berapakah return akumulasinya? Indeks LQ45 hanya menghasilkan return 2,9% yang walaupun positif tapi bukan angka yang menggembirakan untuk hasil investasi selama 5,5 tahun.

Namun dengan angka yang minim seperti itu pun keenam reksadana saham ini tetap secara konsisten setiap tahunnya tidak dapat mengungguli Indeks LQ45 dan bahkan ada yang menghilangkan 75% dan 55% dana nasabahnya. 

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan reksadana ini? Apa tidak sebaiknya OJK memanggil MI untuk menjelaskan kinerja historis dan paparan rencana selanjutnya untuk memperbaikinya? Mungkin saja hal ini sudah dilakukan secara tertutup oleh OJK dan tidak dipublikasikan untuk menghindari kepanikan yang berpotensi terjadi.

Baca Juga: Reksadana ETF Tidak Kalah Untung Dibandingkan Kelas Aset Lainnya

Selanjutnya, ada 28 reksadana saham yang 5 dari 6 periode terakhir kalah dari Indeks LQ45. Jadi hanya sempat menang 1 kali dari Indeks LQ45. Jumlah 28 reksadana ini merepresentasikan 15% dari populasi reksadana saham. Sedangkan yang menang 2 kali dari 6 periode terakhir ada 98 reksadana saham atau mewakili 52.4% populasi. Jika ditotal maka sekitar 70,5% reksadana tidak bisa menang tiga kali atau lebih dari enam kesempatan. 

Kenapa Mi tidak berpikir; if you can not beat index, join them! Penulis bukan bermaksud mengajari para Wakil Manajer Investasi profesional, hanya bertanya akibat kurangnya pengalaman penulis.

Penulis hanya berharap kinerja yang belum membaik dari reksadana apapun jenisnya, bukan akibat moral hazard namun murni karena kesalahan strategi alokasi dan/atau pemilihan efek.

Para stakeholder perlu memikirkan lebih intens langkah apa yang sebaiknya dilakukan agar reksadana yang kurang beruntung bisa membalikkan keadaan dan bertumbuh sehingga membuat investor tersenyum dan puas dengan investasinya.             

Bagikan

Berita Terbaru

IHSG Sepekan Menguat, Diwarnai Beragam Sentimen Domestik
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:21 WIB

IHSG Sepekan Menguat, Diwarnai Beragam Sentimen Domestik

Pasar saham di akhir pekan melemah, akibat aksi ambil untung atau profit taking menjelang libur panjang Imlek.

Ini Dia Sektor Paling Cuan di Tahun Kuda Api
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:19 WIB

Ini Dia Sektor Paling Cuan di Tahun Kuda Api

Sektor bisnis yang memiliki elemen logam dan kayu dinilai menjadi unggulan pada tahun kuda api kali ini

Genteng dan Beras
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:10 WIB

Genteng dan Beras

Gentengisasi Prabowo mengingatkan kebijakan mantan mertuanya, Soeharto seperti merekayasa selera lidah orang Indonesia hingga bergantung beras.

Pembelajaran Oil Booming dari Meksiko
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:00 WIB

Pembelajaran Oil Booming dari Meksiko

Meksiko harus membayar mahal salah mengelola sumber daya alam yakni berupa minyak bumi yang melimpah.

Fondasi Bisnis SCG Semakin Kokoh
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:54 WIB

Fondasi Bisnis SCG Semakin Kokoh

Setoran bisnis SCG di Indonesia disebut berkontribusi signifikan terhadap resiliensi bisnis perusahaan secara keseluruhan.

Tips CEO Sucor Sekuritas: Jangan Lawan Tren Pasar Saham
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:15 WIB

Tips CEO Sucor Sekuritas: Jangan Lawan Tren Pasar Saham

CEO Sucor Sekuritas raup untung besar saat IHSG anjlok karena Covid-19. Simak strategi agresifnya agar bisa cuan

Rupiah Terseret Data Ekonomi dalam Sepekan Ini
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Terseret Data Ekonomi dalam Sepekan Ini

Rupiah melemah harian namun menguat dalam sepekan terakhir. Ketahui faktor pendorong dan proyeksinya pekan depan

Tanpa Insentif, Bisnis Kredit Motor Listrik Terancam Melambat
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 05:15 WIB

Tanpa Insentif, Bisnis Kredit Motor Listrik Terancam Melambat

Pemerintah tak memperpanjang subsidi sebesar Rp 7,5 juta untuk pembelian sepeda motor listrik mulai tahun ini. 

Perbankan Makin Ekspansif Menggenjot Kredit Hijau
| Sabtu, 14 Februari 2026 | 04:45 WIB

Perbankan Makin Ekspansif Menggenjot Kredit Hijau

Kredit hijau tumbuh puluhan persen di bank besar Indonesia yang merupakan strategi jangka panjang perbankan.

Harga Bitcoin Rontok 29%, Deleveraging Pemicu Utama Koreksi
| Jumat, 13 Februari 2026 | 21:51 WIB

Harga Bitcoin Rontok 29%, Deleveraging Pemicu Utama Koreksi

Bitcoin terkoreksi hampir 30% dalam sebulan, bukan fundamental. Aksi deleveraging picu penurunan harga.

INDEKS BERITA

Terpopuler