Kapasitas Produksi Wika Beton (WTON) Diproyeksikan Naik

Selasa, 23 Juli 2019 | 05:54 WIB
Kapasitas Produksi Wika Beton (WTON) Diproyeksikan Naik
[]
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) memproyeksikan peningkatan kapasitas produksi sebesar 11% tahun ini. Meski demikian, perusahaan konstruksi pelat merah ini masih menahan ekspansi pengembangan pabrik baru dan mengandalkan lini produksi yang sudah ada.

Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk Yuherni Sisdwi Rachmiyati, menyebutkan, tahun ini, perusahaan menargetkan kapasitas produksi sebesar 4 juta ton per tahun. Angka ini bertambah 11% ketimbang tahun lalu yang sebesar 3,6 juta ton per tahun.

Tahun lalu, emiten dengan kode saham WTON ini merencanakan pembangunan pabrik baru di Subang, Jawa Barat. Alokasi lahan untuk fasilitas produksi ini seluas 50 hektare (ha). Namun hingga semester I-2019, lahan yang telah terpakai hanya 14 ha.

"Jika nantinya ada permintaan yang cukup besar atau diperlukan untuk mendukung proyek-proyek yang ada, maka ekspansi akan dilakukan dengan menambah jalur produksi di lahan yang masih tersedia," kata Yuherni kepada KONTAN, Rabu (17/7).

Manajemen WTON tidak merinci mengenai peningkatan kapasitas produksi menjadi 4 juta ton per tahun. Yang terang, kata Yuherni, penambahan kapasitas produksi sebesar 11% itu tersebar di sejumlah pabrik eksisting. "Sampai dengan semester I, jika dilihat dari total keseluruhan pabrik, realisasi produksi (utiliasasi) sudah mencapai 83%," ungkapnya.

Saat ini, Wika Beton memiliki sebanyak 14 pabrik yang tersebar di beberapa daerah seperti Binjai, Lampung, Bogor, Karawang, Majalengka, Boyolali, Pasuruan, Makassar, dan Batam.

Kontrak baru

Sepanjang tahun 2019, WTON membidik kontrak sebesar Rp 14,8 triliun, dengan rincian Rp 9,1 triliun kontrak baru dan Rp 5,7 triliun dari kontrak sebelumnya.

Hingga kuartal I-2019, WTON telah mengantongi kontrak baru senilai Rp 2,7 triliun. Adapun kontrak baru tersebut disokong dari proyek-proyek swasta yang kontribusinya mencapai 54,3%.

Yuherni bilang, kontrak baru sekitar Rp 2,7 triliun itu sudah termasuk kontrak dari anak usaha. "Kontrak baru didominasi oleh proyek swasta sebesar 54,3%, BUMN 28,38%, proyek dari WIKA Group 15,76%, dan proyek dari pemerintah 1,57%," jelasnya.

Dilihat dari sektornya, Yuherni menuturkan, proyek infrastruktur menyumbang sebesar 61,21%, energi sebesar 24,50%, properti 7,97%. Selanjutnya berasal dari sektor industri 4,36% dan 1,95% berasal dari proyek pertambangan.

Yuherni menambahkan, beberapa proyek besar yang didapatkan, yakni Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi 3A, pembangunan infrastruktur Bandara Kulonprogo, Jembatan Tahang, pembangunan Jalan Baru Kolektor Type 2, pembangunan Bandara Hasanuddin, dan beberapa proyek infrastruktur lainnya.

Bagikan

Berita Terbaru

Bantuan Subsidi Upah Diproyeksi Menjadi Katalis Pendorong Kinerja Sektor Consumer
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 17:47 WIB

Bantuan Subsidi Upah Diproyeksi Menjadi Katalis Pendorong Kinerja Sektor Consumer

Dampak bantuan subsidi upah diperkirakan moderat dan tidak berlangsung merata di seluruh subsektor konsumer.

Rights Issue GIAA 124,35 Miliar Saham, Ini Prospek dan Risiko Saham Garuda Indonesia
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:51 WIB

Rights Issue GIAA 124,35 Miliar Saham, Ini Prospek dan Risiko Saham Garuda Indonesia

Dari sekitar 550 pesawat yang masih terdaftar untuk beroperasi di Indonesia, hanya 375 pesawat yang benar-benar diterbangkan.

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:49 WIB

Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28%, Harga Pangan dan Emas Jadi Pendorong

BPS mencatat inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,28% secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2026.

Impor Anjlok 11,63%, Surplus Neraca Dagang Tembus US$ 3,55 Miliar pada Agustus 2026
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 14:24 WIB

Impor Anjlok 11,63%, Surplus Neraca Dagang Tembus US$ 3,55 Miliar pada Agustus 2026

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, melonjak dibandingkan surplus US$ 121,9 juta pada Juli 2026.

RKAB 2026 Diproyeksi Capai 720 Juta Ton, Jadi Katalis Positif Bagi Sektor Batubara
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:29 WIB

RKAB 2026 Diproyeksi Capai 720 Juta Ton, Jadi Katalis Positif Bagi Sektor Batubara

Keputusan China mengimpor batubara dari Amerika Serikat (AS) dinilai tidak akan mengganggu pangsa pasar batubara Indonesia.

Dividen Interim ASGR dan UNTR Jadi Sentimen, Ini yang Perlu Dicermati Investor
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:43 WIB

Dividen Interim ASGR dan UNTR Jadi Sentimen, Ini yang Perlu Dicermati Investor

Konsistensi membagikan dividen merupakan sinyal tentang prioritas manajemen, kesehatan arus kas, dan arah prospek masing-masing emiten. 

GEMS Tebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar US$ 200 Juta
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:35 WIB

GEMS Tebar Dividen Interim Tahun 2026 Sebesar US$ 200 Juta

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) akan membagikan dividen interim tahun buku 2026 sebesar US$200 juta kepada pemegang saham.

TOWR Siap Eksekusi Buyback Saham Senilai Rp 500 Miliar
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:27 WIB

TOWR Siap Eksekusi Buyback Saham Senilai Rp 500 Miliar

Buyback maksimal emiten menara telekomunikasi itu sekitar 1,18 miliar saham. Ini setara 2% dari modal ditempatkan dan disetor TOWR.​

AALI Membagikan Dividen Interim Rp 233 Per Saham
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:19 WIB

AALI Membagikan Dividen Interim Rp 233 Per Saham

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengumumkan pembagian dividen interim tahun buku 2026, ​dengan nilai total sebesar Rp 449,02 miliar.

Gaet Kredit Rp 6 Triliun dari BBRI dan BMRI, Prospek PTBA Semakin Cerah
| Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Gaet Kredit Rp 6 Triliun dari BBRI dan BMRI, Prospek PTBA Semakin Cerah

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menarik fasilitas pembiayaan Rp 6 triliun dari perbankan untuk modal kerja.

INDEKS BERITA

Terpopuler