Kerek Peringkat Utang Lippo Karawaci (LPKR), Ini Lima Pertimbangan Fitch Ratings

Jumat, 19 Juli 2019 | 19:15 WIB
Kerek Peringkat Utang Lippo Karawaci (LPKR), Ini Lima Pertimbangan Fitch Ratings
[]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah Standard & Poor's (S&P) Global Ratings, giliran Fitch Ratings mengerek peringkat utang lengan bisnis Grup Lippo di sektor properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).

Fitch Ratings pada hari ini, Jumat (19/7), menaikkan peringkat jangka panjang Lippo Karawaci baik dalam mata uang asing maupun mata uang lokal, dari CCC+ menjadi B- dengan prospek stabil.

Kenaikan peringkat menjadi B- juga berlaku untuk obligasi senior tanpa jaminan yang diterbitkan oleh Theta Capital Pte Ltd, anak usaha Lippo Karawaci.

Pada saat bersamaan, Fitch Ratings Indonesia mengerek peringkat jangka panjang nasional Lippo Karawaci dari BB- menjadi BB+.

Fitch Ratings juga melepaskan status rating watch positive yang disematkkan pada 19 Maret 2019 lalu.

Ada lima faktor yang mendorong Fitch menaikkan peringkat utang Lippo Karawaci menjadi B-.

Pertama, peningkatan likuiditas dan fleksibilitas pembiayaan. Peningkatan ini mencerminkan posisi likuiditas Lippo Karawaci yang membaik dan terbatasnya risiko  refinancing terbatas pasca rampungnya rights issue senilai US$ 787,5 juta pada 16 Juli lalu.

Fitch meyakini, Lippo Karawaci kini memiliki fleksibilitas pembiayaan yang cukup untuk memenuhi biaya operasional, biaya bunga, dan jatuh tempo utang setidaknya sampai akhir 2020.

Dengan begitu, Lippo Karawaci bisa menerapkan rencana untuk menghidupkan kembali penjualan properti di tingkat induk, tidak termasuk anak perusahaan utama yang terdaftar PT Lippo Cikarang Tbk dan PT Siloam International Hospitals Tbk.

Perlu diketahui, Fitch menilai Lippo Karawaci secara mandiri karena akses perusahaan ke arus kas Lippo Cikarang dan Siloam terbatas.

Kedua, tantangan dalam meningkatkan penjualan. Fitch memperkirakan, arus kas Lippo Karawaci dari operasi alias cash flow from operations (CFFO) akan tetap negatif setidaknya sampai 2020. Sebab, Lippo Karawaci kemungkinan akan menghadapi tantangan dalam meningkatkan penjualan secara berkelanjutan dalam dua tahun ke depan. Hal ini akan membatasi momentum kenaikan peringkat selama periode tersebut.

Tantangannya, menurut Fitch, adalah mendapatkan kembali kepercayaan pembeli dan mengamankan pembayaran di muka yang signifikan dari pelanggan untuk mendanai biaya konstruksi. Sebab, selama beberapa tahun terakhir, sejumlah proyek Lippo Karawaci gagal mencapai target penyelesaian.

Fitch memperkirakan Lippo Karawaci akan membukukan pra penjualan properti sekitar Rp 700 miliar pada  2019 di tingkat entitas mandiri dan sekitar Rp 2 triliun pada tahun 2020. Kenaikan pra penjualan di tahun depan akan ditopang oleh rencana Lippo Karawaci untuk menyelesaikan proyek yang ada dengan menggunakan hasil rights issue.

Lippo Karawaci bisa jadi membukukan pra penjualan lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi Fitch pada 2020. Syaratnya, Lippo Karawaci harus berhasil meluncurkan proyek-proyek baru properti bertingkat bertingkat tinggi mulai semester II-2019.

Ketiga, eksekusi operasional menjadi kunci utama. Menurut Fitch, Lippo Karawaci belum menunjukkan kemampuannya untuk berhasil melaksanakan perubahan menjadi proyek-proyek dengan kepadatan tinggi, bangunan bertingkat alias high rise, dan di segmen yang terjangkau, dari fokus sebelumnya pada segmen menengah ke atas.

Fitch telah menurunkan tingkat relevansi kredit yang diberikan pada strategi manajemen Lippo dari 5 menjadi 4 di bawah kerangka Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG). Skor ESG di posisi 4 menunjukkan ketergantungan pada tingkat keberhasilan strategi manajemen yang mungkin memiliki dampak material positif atau negatif pada peringkat Lippo Karawaci.

Keempat, kinerja penjualan proyek Meikarta. Proyek ambisius tersebut secara luas dilihat sebagai proyek percontohan Lippo Karawaci di segmen yang terjangkau. Dimiliki oleh Lippo Karawaci melalui entitas asosiasi, yakni PT Mahkota Sentosa Utama, penjualan Meikarta secara bertahap melemah selama 12 bulan terakhir.

Penjualan properti Meikarta hanya mencapai Rp 69 miliar di kuartal I-2019 dan hanya sedikit lebih banyak di kuartal II-2019. Padahal, pada 2018 lalu, penjualan Meikarta mencapai lebih dari Rp 5 triliun dan lebih dari Rp 7 triliun pada 2017.

Lippo telah mengalokasikan US$ 200 juta dari dana hasil rights issue untuk mendanai fase pertama proyek Meikarta. Jika berhasil, Meikarta akan meningkatkan reputasi dan membantu Lippo Karawaci mengembangkan proyek perumahan terjangkau di perusahaan induk mulai semester II-2019.

Meski begitu, Fitch tidak berhara bahwa proyek Meikarta akan mengembalikan arus kas yang signifikan ke Lippo Karawaci dalam jangka menengah. Sebab, Meikarta membutuhkan investasi besar yang berkelanjutan.

Kelima, penundaan penjualan Puri Mall. Lippo Karawaci terus memperkirakan bisa merampungkan penjualan Puri Mall senilai US$ 200 juta ke Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT) pada kuartal IV-2019.

Fitch memilih tidak memasukkan penjualan Puri Mall ke dalam pertimbangan pemeringkatan untuk tahun 2019. Sebab, transaksi penjualan tersebut mungkin menghadapi penundaan, khususnya dalam memperoleh sertifikat strata title.

Jika berhasil, dana penjualan Puri Mall akan meningkatkan likuiditas Lippo Karawaci dan membantu memenuhi biaya operasional dan kewajiban utang hingga akhir 2021.

Bagikan

Berita Terbaru

ETF Emas Meluncur, Sumber Cuan Anyar atau Euforia
| Senin, 17 Agustus 2026 | 07:00 WIB

ETF Emas Meluncur, Sumber Cuan Anyar atau Euforia

Lima ETF emas mencuri perhatian investor pada awal peluncuran 10 Agustus 2026. Daya tahan instrumen baru ini mulai diuji.

Kemerdekaan Ekonomi
| Senin, 17 Agustus 2026 | 05:10 WIB

Kemerdekaan Ekonomi

BPS menunjukkan ekonomi Indonesia sebenarnya masih tumbuh cukup kuat. Pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan.

Tokenisasi Real World Asset (RWA), Pintu Baru Pasar Modal
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:53 WIB

Tokenisasi Real World Asset (RWA), Pintu Baru Pasar Modal

Tantangan terbesar RWA pada validasi aset, yaitu memastikan token didukung aset riil dengan nilai yang sesuai.

Intip Isi Portofolio Investasi Direktur Keuangan Krom Bank, Alvin James
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Intip Isi Portofolio Investasi Direktur Keuangan Krom Bank, Alvin James

Pengalaman panjang di industri keuangan membuat Direktur Keuangan Krom Bank semakin selektif dalam mengelola portofolio investasinya.

Mengenal Ego Odysseus Dalam Memimpin
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:35 WIB

Mengenal Ego Odysseus Dalam Memimpin

​Mencari orang yang pintar, visioner dan berwawasan luas itu memang sulit. Namun, jauh lebih sulit lagi mencari orang yang bijak.

Menekan Produksi Emisi Karbon Lewat Bata Ringan
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:35 WIB

Menekan Produksi Emisi Karbon Lewat Bata Ringan

Bata ringan bukan hanya material konstruksi, ia juga bagian dari upaya mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon.

 
Layar Bioskop yang Merambah Bisnis Nobar Hingga Pijat
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:15 WIB

Layar Bioskop yang Merambah Bisnis Nobar Hingga Pijat

Bioskop makin ekspansif mengembangkan bisnis dengan menggarap lini usaha non penayangan film. Seperti apa peluangnya?

Saat Bank Berebut Pasar Paylater
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:10 WIB

Saat Bank Berebut Pasar Paylater

Paylater perbankan terus memperbesar pijakan di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi.

Belibis Liar di Telaga Warna
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:10 WIB

Belibis Liar di Telaga Warna

​Sebelum dekade 2000, daging itik tidak laku. Para pebisnis mencari cara agar itik jantan mereka jadi uang. 

Tak Sebatas di Layar, AI Mulai Menempel di Tubuh
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:10 WIB

Tak Sebatas di Layar, AI Mulai Menempel di Tubuh

Kecerdasan buatan (AI) mulai bergerak keluar dari layar ponsel, laptop, atau tablet ke perangkat yang melekat pada tubuh manusia.

INDEKS BERITA

Terpopuler