Konsumsi Batubara Dibatasi, Perusahaan Pertambangan China Investasi di Negara Lain

Selasa, 22 Januari 2019 | 11:45 WIB
Konsumsi Batubara Dibatasi, Perusahaan Pertambangan China Investasi di Negara Lain
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Dian Pertiwi

KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Sebagai konsumen energi terbesar di dunia, tengah mengurangi ketergantungan pada batubara dan mulai berinvestasi pada bahan bakar alternatif. Sebelumnya, China merupakan konsumen terbesar batubara untuk pembangkit listriknya. Tingginya polusi dan kabut asap membuat China mempertimbangkan penggunaan energi alternatif.

“China mengambil langkah yang kuat untuk memperlambat peningkatan fasilitas pembangkit listrik tenaga batubara dan sedang mencari kapasitas energi dari luar negeri,” kata Melissa Brown, konsultan keuangan energi the Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), seperti dikutip Reuters, Selasa (22/1) dalam sebuah laporan.

Negeri tirai bambu itu telah menutup tambang serta pembangkit listrik yang sudah tua. Tujuannya untuk memotong penggunaan bahan bakar batubara dari total konsumsi energi sebesar 69% pada 2011 menjadi 58% tahun depan.  

Meski tengah memangkas penggunaan batubara, lembaga keuangan di China justru berkomitmen menawarkan dana sebesar US$ 35,9 miliar untuk proyek pembangkit listrik batubara bertenaga 102 giga watt di luar negeri.

Perusahaan-perusahaan di China tengah menghadapi pembatasan produksi batubara dan menargetkan mengurangi konsumsi batubara.

Walau begitu tingginya permintaan membuat perusahaan di China mengalihkan produksinya di luar negeri. Misalnya, Grup Pertambangan Xuzhou menjalankan proyek di Pakistan dan Bangladesh setelah menutup wilayah pertambangan mereka di provinsi Jiangsu China.

Saat ini, China terlibat dalam proyek pembangkit listrik berkapasitas 14 gigawatt di Bangladesh dan 13 gigawatt di Vietnam. Negara lain yang menjadi tujuan investasi China adalah Afrika Selatan dan Pakistan. Di sana, mereka menggunakan teknologi yang tak lagi diizinkan untuk digunakan di China.

Melissa menyebut negara tujuan investasi China memiliki standar lingkungan yang rendah. “Dan sangat termotivasi untuk mendapatkan investasi dalam bentuk apa pun,” ujar Melissa.

Total kapasitas pembangkit China yang telah diperbarui dan berbasis nuklir sebesar 749 gigawatt. Angka ini naik 40% dalam tiga tahun.

“Ada negara yang menyambut China sebagai pengembang global dari energi terbarukan, tetapi yang kami lihat justru banyak perusahaan China pada dasarnya hanya mengekspor teknologi yang tak lagi diminati di negara asalnya,” kata Melissa.

Bagikan

Berita Terbaru

Investasi Deras, Manfaat Ekonomi Masih Terbatas
| Selasa, 22 September 2026 | 07:29 WIB

Investasi Deras, Manfaat Ekonomi Masih Terbatas

Salah satu penyebabnya, persaingan dalam menarik dana asing antarnegara di kawasan ASEAN bakal makin ketat.

Jurus AirAsia Group Menghadapi Turbulensi Ekonomi
| Selasa, 22 September 2026 | 07:29 WIB

Jurus AirAsia Group Menghadapi Turbulensi Ekonomi

AirAsia Group Berhad menegaskan kembali komitmennya untuk menjalankan bisnis secara fokus dan terukur di tengah kondisi industri penerbangan.

WEHA Tambah Kendaraan Listrik DayTrans
| Selasa, 22 September 2026 | 07:27 WIB

WEHA Tambah Kendaraan Listrik DayTrans

Perusahaan transportasi PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) menambah kendaraan listrik untuk operasional layanan antarkota DayTrans.

Produksi Tinggi, AMMN Balikkan Posisi Rugi Jadi Laba
| Selasa, 22 September 2026 | 07:26 WIB

Produksi Tinggi, AMMN Balikkan Posisi Rugi Jadi Laba

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mampu mengubah posisi rugi menjadi laba pada semester I-2026

Tigaraksa (TGKA) Bidik Kinerja Konservatif di Tahun 2026
| Selasa, 22 September 2026 | 07:20 WIB

Tigaraksa (TGKA) Bidik Kinerja Konservatif di Tahun 2026

Dibayangi tantangan daya beli masyarakat, PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA) tak muluk-muluk membidik pertumbuhan bisnis tahun ini.

RKAB Telat Hantui Emiten Jasa Tambang
| Selasa, 22 September 2026 | 07:16 WIB

RKAB Telat Hantui Emiten Jasa Tambang

Menakar dampak keterlambatan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bagi emiten jasa tambang

Dilema Harga Nikel Tekan Kinerja ANTM, Bisnis Emas Freeport bisa Jadi Penetralisir
| Selasa, 22 September 2026 | 07:14 WIB

Dilema Harga Nikel Tekan Kinerja ANTM, Bisnis Emas Freeport bisa Jadi Penetralisir

Emas berpotensi menjadi penopang pertumbuhan laba Antam lewat tambahan volume, harga jual yang tinggi, serta kepastian pasokan bahan baku.

Bunga Kredit Perbankan Mulai Naik
| Selasa, 22 September 2026 | 06:50 WIB

Bunga Kredit Perbankan Mulai Naik

Bunga kredit perbankan mulai naik seiring kenaikan BI rate dan meningkatnya biaya dana, dengan penyesuaian bunga dilakukan secara bertahap 

Neocloud Zankore Jadi Mesin Cuan Baru Indosat Tbk (ISAT)
| Selasa, 22 September 2026 | 06:45 WIB

Neocloud Zankore Jadi Mesin Cuan Baru Indosat Tbk (ISAT)

Prospek bisnis AI PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) menjanjikan di tengah tantangan lonjakan belanja modal

Biaya Dana Bank Digital Bakal Berlanjut Naik
| Selasa, 22 September 2026 | 06:40 WIB

Biaya Dana Bank Digital Bakal Berlanjut Naik

​Biaya dana bank digital diperkirakan masih menanjak hingga akhir 2026, seiring ketatnya perebutan dana nasabah dan tingginya bunga deposito.

INDEKS BERITA

Terpopuler