Krisis Populasi Penduduk Usia Muda di China

Rabu, 04 Agustus 2021 | 08:55 WIB
Krisis Populasi Penduduk Usia Muda di China
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Syamsul Azhar

KONTAN.CO.ID - Hasil sensus penduduk China yang dirilis Mei 2021 lalu, mengungkapkan bahwa situasi demografi China sudah cukup mengkhawatirkan. Pertumbuhan populasi selama dekade sebelumnya tercatat paling lambat dalam sejarah China.

Proporsi warga berusia 60 tahun atau lebih naik menjadi hampir seperlima dari total populasi. Artinya, kelompok usia 65 tahun ke atas akan berlipat ganda selama dua dekade ke depan dan menyebabkan tenaga kerja turun. Hal ini menjadikan China sebagai negara dengan masyarakat tua terbesar di dunia.

Prediksi pemerintah China, penduduk tua mencapai sepertiga dari populasi pada 2050, ditambah dengan anak-anak belum usia produktif.Hal ini memang terdengar agak membingungkan. Negara terpadat di dunia, dengan 1,4 miliar penduduk, malah membutuhkan lebih banyak orang untuk bertahan di jalur pertumbuhan ekonomi cepat, terutama untuk menyalip Amerika.

Letak masalahnya adalah pada penuaan penduduk yang menyebabkan pengecilan porsi penduduk produktif.Dengan kata lain, dalam masyarakat yang banyak terdapat lansia, kurang produktif, tentu perekonomiannya akan sangat terbebani untuk tumbuh, di mana healthcare system dan pengelolaan dana pensiun menjadi dominan di saat tenaga kerja muda produktif semakin sedikit.

Di sisi lain, China masih berjibaku memperbaiki sistem pelayanan kesehatan dan dana pensiunnya, agar penduduk non produktif yang terus bertambah jumlahnya tidak mengalami kondisi buruk. Hasil riset Capital Economics di Februari lalu menunjukan bahwa penuaan menjadi alasan utama China mungkin akan gagal menyalip Amerika Serikat pada 2050.

Bahkan menurut Mark Williams, Direktur Riset Capital Economic dengan fakta demografi ini, ekonomi China tidak akan pernah melampaui Amerika. Pada 2020 lalu, angka kelahiran di China hanya 12 juta atau turun 20% dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Angka terendah sejak 1961.

Perdana Menteri China, Li Keqiang, di salah satu pertemuan partai mengingatkan bahwa China harus meninjau kembali kebijakan kependudukannya, karena memberatkan ekonomi. Kondisi meningkatnya penduduk tua ini bukanlah ujuk-ujuk terjadi.

Pemerintahan China pasca Mao Zedong menetapkan kebijakan satu keluarga satu anak di akhir tahun 1979. Lantas direvisi menjadi satu keluarga dua anak di awal 2016, setelah Xi Jinping berkuasa.

Dan saat ini, bahkan pasangan muda boleh memiliki tiga anak.Tapi perkaranya, generasi muda China hari ini terjangkit sindrom 996. Kerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, selama 6 hari dalam seminggu. Pasangan muda mengalami perubahan pola hidup yang drastis dibandingkan dengan orang tua mereka.

Rerata dari mereka memilih untuk memiliki satu anak saja, itu pun dengan usia menikah yang cukup jauh mundur ke belakang, mendekati umur 30, dibanding usia menikah orang tua mereka.

  • Otomatisasi produksi

Xi Jinping dan Partai Komunis China memahami persoalan ini dan nampaknya punya solusi masuk akal, yakni otomatisasi. China kini sedang bertransformasi menjadi hi-tech powerhouse country. Lebih dari 60% manufaktur robotic di dunia saat ini ada di China.

Ya, secara ekonomi, teknologi biasanya memberi nilai lebih untuk meningkatkan, atau bahkan melipatgandakan produktivitas di satu sisi sembari mengurangi beban biaya tenaga kerja yang kian meninggi di sisi lain. Latar belakang otomatiasi lainya adalah urbanisasi yang terjadi secara masif di China karena daya tarik industrialisasi di perkotaan.

Imbasnya, biaya tenaga kerja mengalami kenaikan cukup signifikan Tapi perlu pula dipahami bahwa: pertama, tidak semua lini produksi dan pelayanan bisa diotomatisasi. Di era teknologi tinggi, kebijakan otomatisasi melahirkan spesialisasi pekerjaan dengan kualifikasi keahlian semakin tinggi.

Masalahnya, China masih di bawah Amerika soal jumlah lulusan perguruan tinggi, yakni baru 19%, sementara Amerika 24% lebih. Kedua, otomatisasi tidak serta merta bisa menciptakan pemerataan, sebagaimana yang dijanjikan oleh Partai Komunis China.

Contohnya di Amerika hightech conglomerate mengambil kue ekonomi secara kurang adil, membuat distribusi pendapatan menjadi semakin memburuk. Karena itu China tentu harus mampu meng-engineering berbagai kebijakan agar pendapatan terdistribusi dengan baik, sembari meningkatkan kualitas pengelolaan healthcare system dan dana pensiun.

Jika tidak, kontur pendapatan nasional China akan seperti Amerika. Jika itu terjadi, China yang terbiasa dengan paham komunisme akan bereaksi berbeda dengan masyarakat Amerika.Di Amerika, Partai Demokrat akan naik tahta jika kondisi pemerataan pendapatan penduduk memburuk.

Lantas Partai Republik menggantikannya saat pemerintahan Partai Demokrat sudah terlalu banyak mengambil porsi anggaran untuk proyek sosial ekonomi, yang menyebabkan pergerakan ekonomi nasional semakin melambat akibat berbagai jenis patologi menjangkiti dunia bisnis dan investasi.

Tapi di China, partainya cuma satu, Partai Komunis China. Jika kinerja ekonomi China justru membuat ketimpangan semakin buruk, bisa jadi yang terjadi adalah revolusi untuk menyingkirkan partai, seperti yang terjadi di Uni Soviet pada 1991. Spirit Maoisme bisa hidup kembali, atau aspirasi cultural revolution diangkat kembali oleh publik untuk meng-overtrhow para kapitalis.

Sebenarnya kendala ekonomi China bukan tanpa preseden. Apa yang dialami oleh China telah lebih dulu dialami Jepang di era 1970-1990an. Pada awal 1990an, di saat Donald Trump pertama kali mengemukakan niat ingin jadi presiden, Jepang adalah sasaran kemarahannya.

Trump benar, saat itu barang impor dari Jepang membanjiri Amerika mulai dari mobil murah, sampai televisi.Para pemikir dan intelektual di era itu serentak mengelu-elukan Jepang. Tapi apa yang terjadi?

Titik baliknya adalah saat Mitsubishi mengalami gagal bayar pada 1995, saat men-take over Rockefeller Tower 1989, seharga US$ 1,4 miliar. Lalu tahun 2000 Konsorsium Rockefeller dan Golmand Sach membelinya kembali.

Di saat itulah dunia tersadar ekonomi Jepang berhenti tumbuh dan mendingin akibat penduduknya menua. Sistem keuangannya mengidap penyakit, yang melahirkan beberapa "zombie bank" dan industrinya pelan-pelan mengalami fase diminishing return.

Apakah China bisa melampaui Amerika secara ekonomi? Ataukah pelan-pelan melambat sebelum menjadi negara kaya alias gagal take off dan keluar dari middle income trap? Atau justru menjadi kaya dan menua bersamaan?

Banyak intelektual ekonomi di Amerika meyakini China akan mengalami opsi ketiga, yakni kaya dan menua secara bersamaan. Tapi China akan seperti Jepang, masuk fase perlambatan, gagal menyalip Amerika, tapi tetap menjadi negara kaya dan makmur.

Mari kita tunggu! 

Bagikan

Berita Terbaru

Outlook Negatif Membayangi Rupiah, Risiko Domestik tak Lagi bisa Diabaikan
| Selasa, 28 April 2026 | 10:05 WIB

Outlook Negatif Membayangi Rupiah, Risiko Domestik tak Lagi bisa Diabaikan

Dua jangkar penentu nasib rupiah: kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah dan kredibilitas otoritas moneter.

Harga Ayam Naik, Tapi Margin Pebisnis Unggas Tetap Tertekan
| Selasa, 28 April 2026 | 09:30 WIB

Harga Ayam Naik, Tapi Margin Pebisnis Unggas Tetap Tertekan

Analis menilai outlook sektor unggas masih positif, tetapi pertumbuhannya akan alami perlambatan dibandingkan tahun 2025.

Saham-Saham Bank di Luar KBMI IV Moncer, Simak Faktor Pendorongnya
| Selasa, 28 April 2026 | 09:28 WIB

Saham-Saham Bank di Luar KBMI IV Moncer, Simak Faktor Pendorongnya

Investor mesti tetap mewaspadai potensi membengkaknya pos cadangan kerugian pinjaman dan biaya dana.

Siapkan Insentif Industri Terdampak Harga Plastik
| Selasa, 28 April 2026 | 09:00 WIB

Siapkan Insentif Industri Terdampak Harga Plastik

Pemerintah akan segera membahas rencana pemberian stimulus bagi industri yang terdampak kenaikan harga plastik

Terungkap, Investor Bisa Membeli Instrumen Emas Baru Ini Layaknya Saham
| Selasa, 28 April 2026 | 08:58 WIB

Terungkap, Investor Bisa Membeli Instrumen Emas Baru Ini Layaknya Saham

OJK ngebut siapkan ETF emas, tiga MI serius susun prospektus. Tren harga emas naik jadi pendorong. Cek keuntungannya.

Kepatuhan Formal Wajib Pajak Baru Mencapai 62%
| Selasa, 28 April 2026 | 08:56 WIB

Kepatuhan Formal Wajib Pajak Baru Mencapai 62%

Pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) hngga 26 April 2026 mencapai 11,95 juta.

Puncak Kinerja Sudah Terjadi di Kuartal I, Emiten Konsumer Bersiap Hadapi Perlambatan
| Selasa, 28 April 2026 | 08:42 WIB

Puncak Kinerja Sudah Terjadi di Kuartal I, Emiten Konsumer Bersiap Hadapi Perlambatan

Daya beli masyarakat terutama menengah ke bawah paling rawan tertekan efisiensi anggaran pemerintah.

Prospek Cerah Valuasi Murah, Saham TLKM Jadi Buruan Utama Institusi Asing BNY Mellon
| Selasa, 28 April 2026 | 08:14 WIB

Prospek Cerah Valuasi Murah, Saham TLKM Jadi Buruan Utama Institusi Asing BNY Mellon

The Bank of New York Mellon (BNY Mellon) rajin memborong saham TLKM saat harga sahamnya tengah terjerembap.

Arus Dana Asing Deras Keluar, Sebagian Kembali Masuk ke Dua Emiten Konsumer Ini
| Selasa, 28 April 2026 | 07:57 WIB

Arus Dana Asing Deras Keluar, Sebagian Kembali Masuk ke Dua Emiten Konsumer Ini

Investor asing masih memburu saham yang sensitif terhadap tren penurunan suku bunga dan kebal dari hantaman isu geopolitik secara langsung.​

Pergerakan IHSG Selasa (28/4) Berpeluang Sideways
| Selasa, 28 April 2026 | 07:43 WIB

Pergerakan IHSG Selasa (28/4) Berpeluang Sideways

IHSG Selasa (28/4) akan bergerak sideways dalam kisaran 7.000-7.250, cek rekomendasi saham sebelum investasi.

INDEKS BERITA

Terpopuler